Iran Syaratkan Perang Usai Sebelum Pembukaan Selat Hormuz
Pemerintah Iran menetapkan penghentian perang di Gaza, Lebanon, dan Suriah sebagai syarat mutlak untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pasukannya telah mengendalikan jalur pelayaran strategis tersebut pada Sabtu (29/8/2026).
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengonfirmasi bahwa Teheran telah menyepakati rute pelayaran sementara melalui Selat Hormuz bersama Oman. Kebijakan pemulihan navigasi internasional kini bergantung pada pemenuhan komitmen Amerika Serikat terkait kesepakatan diplomatik sebelumnya.
"Kami telah menyepakati rute pelayaran melalui Hormuz dengan Oman, dan jika AS memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman tersebut, kami akan membuka selat itu," kata Pezeshkian seperti dikutip dari kantor berita IRNA.
Pezeshkian meyakinkan bahwa konsensus internal pemerintahan Iran telah tercapai untuk menindaklanjuti pembukaan jalur perdagangan tersebut.
"Saat ini kami sedang menindaklanjuti masalah tersebut. Jika AS memenuhi komitmennya terkait pencabutan sanksi dan blokade, pelepasan aset, dimulainya investasi, serta pengakhiran perang di Lebanon, kami juga akan membuka Selat Hormuz," kata Pezeshkian.
Ia juga menambahkan indikasi dari proses negosiasi yang sedang berlangsung dengan pihak Amerika Serikat.
"Sejauh perkembangan pembicaraan yang ada, pihak AS juga mengakui bahwa kita harus kembali pada nota kesepahaman tersebut," ujar Pezeshkian.
Di sisi lain, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menegaskan dalam wawancara dengan Al Manar TV bahwa kesepakatan dengan Amerika Serikat tidak bisa dipisahkan dari konflik regional secara keseluruhan.
Sementara itu, Amerika Serikat mengambil posisi berbeda dengan berfokus pada operasi militer maritim dan tekanan ekonomi. Donald Trump menyatakan bahwa armada angkatan laut AS telah memblokade lalu lintas barang Iran dan membersihkan ranjau laut.
"Selat itu terbuka. Selat Hormuz terbuka. Kita memegang kendali, dan kita melakukan blokade," kata Trump di Gedung Putih seperti dilansir dari Anadolu Agency.
Trump menyebut kelancaran pasokan energi global tetap berjalan di bawah pengawasan ketat militer AS.
"Ada banyak kapal yang melintas. Jutaan barel minyak keluar dari selat itu setiap harinya," sebut Trump.
Ia mengklaim teknologi pertahanan bawah air AS berhasil mengamankan jalur perairan utama tersebut dari ancaman ranjau.
"Kita memiliki kapal-kapal penyapu ranjau terbaik di dunia. Itu adalah kapal penyapu ranjau bawah air, dan kita telah sepenuhnya membersihkan selat itu dari ranjau," klaim Trump.
Trump memaparkan bahwa tindakan tegas telah diambil terhadap armada yang berupaya mengganggu navigasi.
"Kami memantau setiap jengkal selat tersebut, dan jika ada kapal yang masuk membawa ranjau, kami melihatnya dan menyingkirkannya. Kami sudah menyingkirkan dua di antaranya," ujar Trump.
Gedung Putih juga terus memfasilitasi pergerakan kapal komersial yang melintasi perairan tersebut secara berkala.
"Tadi malam, kami mengawal 24 kapal melintasi selat tersebut. Kami terus-menerus mengawal kapal-kapal melintasinya," ungkap Trump.
Trump menekankan bahwa efektivitas blokade AS menutup total akses pengiriman barang milik Iran.
"Iran tidak mendapat apa-apa, Tidak ada yang bisa lewat. Tidak ada satu pun kapal yang berhasil melintas," tandas Trump.
Dukungan atas klaim pengamanan tersebut juga disampaikan oleh Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper melalui pernyataan video di media sosial X.
"Hari ini, jalur pelayaran internasional terbuka dan momentumnya terus terbentuk," kata Cooper.
Perkembangan di Selat Hormuz berdampak langsung pada pasar komoditas global. Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak Brent berjangka melemah ke level US$ 89,32 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) turun ke US$ 83,17 per barel akibat spekulasi positif terkait pemulihan arus distribusi minyak mentah.
Analis senior Price Futures Group Phil Flynn menilai pasar merespons cepat berbagai rumor kesepakatan di kawasan tersebut.
"Pasar produk global terlihat kuat setelah serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia berlanjut. Namun, ada banyak kabar yang beredar mengenai kemungkinan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz pada akhir pekan," kata Flynn.
Data pelayaran dari Kpler dan laporan pasar menunjukkan volume lalu lintas kapal komoditas di Selat Hormuz masih berfluktuasi rendah, yakni hanya berkisar antara lima hingga tujuh kapal per hari dibandingkan rerata 130 kapal sebelum konflik pecah pada Februari 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow