Ketegangan AS dan Iran Meningkat Usai Kapal Tanker Diserang di Oman
Eskalasi militer di Timur Tengah kembali memanas setelah sebuah kapal tanker di lepas pantai Oman dihantam proyektil tak dikenal hingga merusak ruang mesin pada Sabtu (1/8/2026), di tengah ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran terhadap Amerika Serikat.
Insiden serangan maritim tersebut dilansir dari Investor Daily berdasarkan laporan Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO). Kapal yang berada 11 mil laut di timur laut Oman itu sempat kehilangan kendali, namun tidak ada korban jiwa maupun kebocoran lingkungan yang dilaporkan.
Pada saat yang sama, pertahanan udara Kuwait berhasil mencegat serangan drone dari wilayah Iran. Ketegangan ini terjadi ketika Presiden AS Donald Trump dilaporkan bersiap melancarkan gelombang serangan udara baru ke target energi Iran, memupuskan kesepakatan gencatan senjata yang sempat tercapai pada 17 Juni 2026.
Rencana serangan udara lanjutan tersebut disiapkan menyusul gempuran intensif militer AS terhadap puluhan target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang dibalas Iran dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.
"Kami akan memukul mereka sangat keras. Pada satu titik, mereka akan sadar dan berkata tidak sanggup lagi menahannya," kata Trump, Presiden AS.
Pernyataan ketegasan dari pihak Amerika Serikat tersebut langsung mendapat respons keras dari pejabat tinggi keamanan Iran mengenai dampak fatal bagi rute perdagangan energi dunia.
"Keterusan blokade laut dan perang oleh rezim AS tidak hanya akan mengunci Selat Hormuz lebih ketat, tetapi juga akan menutup selat dan titik penyempitan (chokepoint) pelayaran lainnya. Harganya akan dibayar mahal oleh ekonomi global, pasar energi, dan pemilih di AS," kata Mohammad Bagher Zolghadr, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Ancaman gangguan di jalur vital pengangkut seperlima pasokan minyak dunia ini langsung memicu lonjakan harga komoditas global. Pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026), minyak mentah Brent menguat hingga mencapai level US$ 90,12 per barel dan WTI naik menjadi US$ 84,67 per barel.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow