Konflik Selat Hormuz Memanas akibat Serangan Kapal dan Blokade Maritim

Smallest Font
Largest Font

Eskalasi militer di Selat Hormuz terus meningkat menyusul insiden penembakan rudal terhadap kapal tanker milik Abu Dhabi National Oil Company serta operasi penegakan blokade maritim yang dijalankan oleh militer Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab mengecam keras aksi penyerangan yang menargetkan armada komersial mereka saat melintas di jalur strategis perdagangan minyak dunia tersebut. "Serangan Iran yang bermusuhan menargetkan sebuah tanker milik ADNOC dengan rudal ketika sedang melintas di Selat Hormuz, tanpa menyebabkan korban jiwa," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri UEA.

Serangan tersebut dikonfirmasi tidak menimbulkan korban jiwa, sementara pihak perusahaan melaporkan bahwa situasi di lokasi kejadian telah berhasil dikendalikan.

Berdasarkan catatan ADNOC, sebanyak 15 kapal miliknya telah menjadi sasaran serangan di kawasan Selat Hormuz sejak konflik pecah, dengan tiga insiden terjadi dalam sepekan terakhir. Di sisi lain, pemantau United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan insiden terpisah di lepas pantai Oman yang melibatkan kapal kargo curah kering berbendera Liberia, Minoan Pioneer.

Serangan pada ruang mesin kapal kargo tersebut mengakibatkan satu orang pelaut dilaporkan hilang dan memicu evakuasi penuh terhadap seluruh awak kapal. Televisi pemerintah Iran merilis rekaman video yang memperlihatkan sebuah kapal mengalami kerusakan parah setelah dicegat oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran di tengah blokade pelabuhan.

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat mengonfirmasi telah mengalihkan rute 44 kapal komersial, melumpuhkan dua kapal, dan memeriksa dua kapal lainnya dalam operasi pengamanan jalur pelayaran internasional. Presiden AS Donald Trump menegaskan penolakannya terhadap upaya Teheran yang ingin mengenakan tarif transit atau pungutan biaya bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. "Saya tidak akan membiarkan dia memungut biaya.

Siapa pun yang akan memungut biaya, kami akan memungut biaya. Kami memiliki kendali penuh," tegasnya.

Pemerintah AS juga menyatakan bahwa pembatalan serangan militer berkali-kali dilakukan guna membuka ruang negosiasi agar Iran menandatangani kesepakatan.

"Saya ingin memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum pemenggalan kepala," katanya setelah wartawan di Gedung Putih menunjukkan bahwa itu setidaknya kelima kalinya dia mengatakan dia membatalkan operasi militer untuk memfasilitasi negosiasi. Pihak Teheran melalui penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, membantah klaim pembicaraan diplomatik tersebut dan menegaskan kebuntuan negosiasi. "Negosiasi mengalami kebuntuan dan Trump harus memecahkan kebuntuan ini," kata pejabat Iran itu kepada wartawan.

Rezaei menambahkan peringatan keras bahwa militer Iran siap memperluas areal pertempuran jika intimidasi dan aksi permusuhan dari pihak Amerika Serikat terus meningkat.

Ia menambahkan bahwa jika AS meningkatkan permusuhan, Iran akan "memperluas perang di luar Teluk Persia." Hingga kini, situasi keamanan maritim di Selat Hormuz masih berada dalam pengawasan ketat dari kekuatan militer kedua pihak yang bertikai.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed