Unggahan Nakes Sindir Iuran BPJS Kesehatan 1 Persen Picu Amarah Warganet
Gelombang kritik masyarakat terhadap perilaku tenaga kesehatan di media sosial kembali memuncak. Seperti dilansir dari Detik iNET, sebuah konten dari akun Nakesindo di platform Threads memicu amarah warganet usai menyindir peserta BPJS Kesehatan yang mengeluhkan pemotongan gaji untuk iuran bulanan.
Unggahan tersebut secara terbuka mempertanyakan keluhan para pekerja mengenai iuran yang dipotong dari pendapatan mereka setiap bulan.
"Buat yang selalu bilang, BPJS kami bayar, dipotong gaji. Halo... berapa sih yang dipotong gajimu? Cuma 1 persen. Artinya gajimu Rp 5 juta cuma dipotong Rp 50 ribu," tulis akun tersebut.
Akun itu lantas membandingkan besaran potongan iuran tersebut dengan pengeluaran saat makan di kafe. Pemilik akun menyebut nominal Rp 50 ribu bahkan tidak cukup untuk biaya makan lima orang di kafe, sementara iuran BPJS sudah mencakup perlindungan kesehatan seluruh anggota keluarga.
Selain itu, tulisan tersebut menyinggung besarnya pembiayaan medis yang ditanggung program BPJS Kesehatan, salah satunya tindakan cuci darah.
"Jangan merasa hebat kali gaji dipotong," tulisnya.
Dalam penggalan kalimat lainnya, akun tersebut menekankan seluruh peserta dari berbagai kategori penerima upah hingga pejabat wajib mematuhi skema pelayanan dan sistem rujukan berjenjang yang berlaku.
Pernyataan tersebut langsung memancing reaksi keras dari pengguna platform Threads dan X. Publik menilai narasi yang disampaikan cenderung merendahkan para pekerja yang sudah menjalankan kewajiban membayar iuran.
Sorotan tajam ini mengemuka saat publik belum selesai menyoroti kasus komentar nirempati oknum medis terhadap pasien di jejaring sosial. Warganet pun mengingatkan agar diskursus pelayanan kesehatan tidak diadu menjadi konflik antara nakes dan masyarakat.
Satu di antaranya disampaikan akun @drg.mirza yang menyesalkan cara penyampaian informasi tersebut di tengah situasi yang sedang memanas.
"Silakan membahas ini, tapi di waktu yang tepat dan TIDAK PERLU ada kalimat yang membenturkan antara medis/nakes dengan pasien. Saat ini kondisi sedang panas, apakah cukup bijak membuat utas dengan kalimat seperti itu? Coba dipikirkan kembali dengan logika yang sehat," tulisnya.
Sejumlah figur tenaga kesehatan lain turut melemparkan kritik atas pernyataan kontroversial akun Nakesindo tersebut.
"Cuma mau bilang ke Warga thread akun ini sedikitpun tidak mewakili para nakes ya, gw sebagai dokter pun 'jijik' melihat utasnya," kata @4li_syahab.
Respons kritis lain menyoroti pemahaman mendasar mengenai mekanisme asuransi sosial yang diterapkan pada program BPJS Kesehatan.
"Nah ini dia pemikiran tolol. Yg namanya BPJS kan memang sistemnya subsidi silang. Jd mau yg dipotong juga cuma 0.1% pun udah jd hak setiap orang yg bayar BPJS. Kl mau complaint, ya complaint lah ke yg bikin regulation gmn sih," ujar @KhloellaDeVil.
Perhitungan nominal iuran yang disampaikan dalam unggahan Threads itu juga dinilai kekeliruan oleh warganet.
"Lah si pekok, darimana itungannya cuma 50rb udah ngecover semuanya??? bpjs kelas 3 aja iurannya 35rb/orang. Kalo 1 KK ada 6 orang ya lu kali aja 35rb x 6 = 210rb. Belum bpjs kelas 2, kelas 1 kan beda iuran nya.
Jangan asal ngebacot. Berobat pun disamain sama ke cafe, sakit lu!" ucap @nadyadelia.
Selain masalah besaran tarif, publik menyoroti kerumitan prosedur berobat menggunakan BPJS Kesehatan, mulai dari masa tunggu antrean hingga alur rujukan. Pengguna internet menduga narasi semacam ini sengaja dilempar untuk mengalihkan isu utama terkait kesejahteraan tenaga medis.
"Oohh udah ketauan arahnya. Nyenggol konflik horizontal ya, biar nakes dan tendik pada jadi musuh bersama masyarakat, biar mereka tetap digaji kecil. Masyarakat uangnya diperas, nakes dan tendik gaji tetap kecil, yang kaya pejabat2nya dan komisaris2nya (apalagi pejabat bpjs nya)," kata @J0YCELLINE.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow