Serangan Iran Rusak Fasilitas Intelijen AS di Timur Tengah

Smallest Font
Largest Font

Rangkaian serangan rudal dan drone dari Iran dilaporkan merusak parah fasilitas intelijen serta peralatan pemantauan milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Insiden ini diperkirakan memicu kerugian hingga miliaran dolar AS bagi Washington.

NBC News mengutip empat sumber anonim melaporkan bahwa kerusakan melanda pangkalan dan perangkat pengumpul informasi milik Badan Intelijen AS (CIA) serta lembaga intelijen lainnya. Skala kehancuran ini disebut sebagai yang terparah dalam sejarah operasional badan intelijen AS.

Eskalasi militer ini bermula dari serangan gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026. Teheran kemudian merespons dengan membalas fasilitas serta aset-aset strategis milik Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Meski kedua pihak sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada pertengahan Juni untuk menghentikan permusuhan, negosiasi damai terhenti akibat perselisihan ketentuan dan ketegangan di Selat Hormuz. Saat ini Washington memilih memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Dampak perang tersebut turut memicu krisis pasokan rudal pertahanan udara dan amunisi Komando Pusat AS. Center for Strategic and International Studies (CSIS) memproyeksikan Pentagon membutuhkan waktu setidaknya tiga tahun untuk memulihkan stok rudal pencegat ke tingkat sebelum perang.

Keterbatasan logistik ini memaksa Pentagon mengalihkan kapal induk USS George Washington dari Jepang ke Teluk Persia untuk menggantikan USS Abraham Lincoln. Kerusakan pangkalan logistik di Bahrain juga membuat militer AS memindahkan jalur pasokan utama ke Diego Garcia di Samudra Hindia.

Perubahan rantai pasokan dan perpanjangan penugasan hingga hampir sembilan bulan memicu masalah sanitasi, kelelahan, dan gangguan kesehatan mental pada awak kapal USS Abraham Lincoln. Sejumlah anggota Kongres AS mendesak penanganan segera terhadap kondisi prajurit di kapal tersebut.

Jurnalis senior MS NOW David Rohde menyebut pimpinan militer berusaha menutup-nutupi kondisi lapangan.

"Pete Hegseth menyembunyikan fakta bahwa Iran menghancurkan pangkalan pasokan utama yang dimiliki Amerika Serikat di Teluk," kata Rohde.

Ia juga menambahkan kritik terhadap kepemimpinan Pentagon dalam mengelola konflik tersebut.

"Dia tidak membuatnya menjadi informasi publik dalam konferensi pers demi konferensi pers, dan sekali lagi, itulah cara mereka menangani perang ini secara buruk," ujarnya.

Pelaksana Tugas Juru Bicara Pentagon Joel Valdez membantah tudingan mengenai penyembunyian fakta tersebut dan menyebut klaim itu tidak benar. Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyatakan keberangkatan pengganti kapal induk untuk menjaga stabilitas penugasan.

"Kapal itu sedang bergerak sekarang, atau segera, dan akan digantikan dengan kapal yang sangat mirip," kata Trump.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth turut membantah laporan mengenai pemburukan kondisi kehidupan prajurit di atas kapal induk.

"Kami memastikan setiap kapal, setiap awak, setiap kapten mendapatkan segala sesuatu yang dapat kami berikan pada setiap saat," kata Hegseth.

Ia menekankan komitmen pimpinan terhadap keselamatan seluruh personel Angkatan Laut.

"Saya memiliki rasa hormat dan rasa terima kasih yang lebih besar kepada para pelaut tersebut daripada siapa pun," ujarnya.

Peneliti senior Center for International Policy Negar Mortazavi menilai perubahan taktik Washington terjadi akibat kegagalan operasi militer langsung.

"Amerika Serikat kembali menggunakan tekanan ekonomi karena kekuatan militer gagal memberikan kemenangan cepat yang diharapkan," kata Mortazavi.

Sementara itu, Direktur Kebijakan National Iranian American Council (NIAC) Ryan Costello menggarisbawahi dampak simetris dari serangan Iran.

"Di atas kertas, AS dan Iran memiliki kekuatan militer yang sangat timpang," katanya.

Ia menilai penggunaan teknologi drone dan rudal oleh Iran memberikan dampak besar pada kekuatan militer AS.

"AS menyebabkan banyak kerusakan dengan amunisinya, tetapi Iran juga melakukan hal yang sama dengan rudal dan drone-nya. Jadi sulit untuk menggambarkan perang hingga saat ini selain sebagai kesalahan yang membawa malapetaka," kata Costello.

Kepala NIAC Jamal Abdi menilai peralihan ke sanksi finansial merupakan strategi meredakan eskalasi.

"Sebenarnya, ini adalah cara bagi pemerintah untuk mengurangi intensitasnya seperti sebelum perang ini, tetapi menyajikannya sebagai kebijakan tekanan yang ditingkatkan."

Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper telah berkunjung langsung ke USS Abraham Lincoln untuk menemui para personel menyusul laporan insiden keselamatan di atas kapal.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed