Perang Iran Melemahkan Militer AS dan Pemicu Esalasi Global

Smallest Font
Largest Font

Penilaian intelijen Amerika Serikat mengindikasikan keyakinan Moskow bahwa perang enam bulan Washington melawan Iran telah melemahkan kemampuan militer AS. Kondisi ini berpotensi memberikan ruang bagi Rusia untuk meningkatkan tekanan di Ukraina dan menantang kepentingan AS di Eropa.

Laporan The Washington Post membeberkan bahwa penilaian rahasia tersebut muncul menjelang kunjungan tidak resmi Direktur CIA John Ratcliffe ke Moskow. Dua sumber intelijen menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin menilai konflik tersebut menguras sumber daya militer Washington.

Sistem pertahanan udara utama AS yang terdampak meliputi Patriot, rudal jelajah Tomahawk, serta Army Tactical Missile Systems (ATACMS). Selain itu, AS kehilangan sekitar seperempat armada drone Reaper yang bernilai 30 juta hingga 50 juta dolar AS per unit.

Laporan NBC News mencatat serangan rudal dan drone Iran merusak fasilitas intelijen serta peralatan pengawasan AS di seluruh Asia Barat dengan perkiraan biaya perbaikan mencapai miliaran dolar. American Enterprise Institute memperkirakan biaya perbaikan infrastruktur militer saja melebihi 5 miliar dolar AS.

Data Bloomberg menunjukkan AS menembakkan 13.629 amunisi ke sasaran Iran sejak awal perang pada 28 Februari hingga gencatan senjata April. Pentagon kemudian mengajukan dana darurat 67 miliar dolar AS pada akhir Juli, termasuk 18,2 miliar dolar AS untuk mengganti sistem rudal pencegat yang terpaksa ditembakkan.

Di tengah tekanan militer AS tersebut, pejabat Iran menyampaikan ancaman terbuka terhadap kepemimpinan Israel. Pejabat keamanan Iran menegaskan kesiapan mereka dalam menghadapi eskalasi konflik di wilayah Lebanon dan Asia Barat secara menyeluruh.

"Kami akan mengirim dia ke neraka dan kami akan membuktikan bahwa kesalahan besar Netanyahu telah membawa rezim Zionis mendekati akhir," kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei.

Ia menambahkan bahwa Teheran mengamati situasi di Beirut dan kawasan selatan Lebanon dengan sensitivitas tinggi sebagai garis merah.

"Masa depan apapun akan berbeda dengan yang sebelumnya," kata Mohsen Rezaei.

Rezaei juga menegaskan syarat utama penyelesaian konflik dengan pihak Amerika Serikat di Asia Barat.

"Asia Barat seperti sebuah rantai. Syarat-syarat itu terkait," kata Mohsen Rezaei.

Sementara itu dari pihak Israel, mantan pejabat tinggi intelijen menyerukan peningkatan tindakan operasional untuk menjatuhkan pemerintahan Iran.

"Menurut penilaian saya, tidak ada pilihan selain meningkatkan tindakan ekonomi, diplomatik, dan operasional terhadap rezim ini sampai rezim tersebut jatuh—dan itu akan terjadi," kata Mantan Kepala Mossad David Barnea.

Ia mengklaim bahwa masyarakat internasional kini semakin menyadari ancaman militer dan program nuklir Iran.

"Rakyat Iran menginginkan kejatuhan [rezim]. Mereka membutuhkan hal itu [terjadi] agar dapat melihat secercah harapan. Dunia Barat yang tercerahkan juga menginginkannya, dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel, yang kini lebih bertekad dari sebelumnya," kata David Barnea.

Barnea menekankan dampak dari situasi keamanan ini kepada publik internasional saat menghadiri upacara di Yerusalem.

"Dunia mulai memahami bahwa jika masalah ini tidak diselesaikan, dampaknya akan menjangkau semua orang dan ke mana pun—baik melalui rudal balistik, terorisme, maupun pengembangan senjata nuklir pemusnah massal," kata David Barnea.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed