Ahli Ungkap Penyebab Paus dan Satwa Laut Raksasa Terdampar

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Seekor mamalia laut raksasa yang diduga paus sepanjang 12 meter terdampar di kawasan permukiman tepi perairan Sungsang, Banyuasin, Sumatera Selatan, pada Senin, 29 Juni 2026.

Peristiwa yang sempat menggegerkan warga dan netizen tersebut berakhir dengan kematian sang paus setelah sempat menghantam tiang rumah warga dan terjebak saat air laut surut, seperti dikutip dari Detikcom.

Fenomena ini menambah daftar panjang kasus serupa di Indonesia sepanjang tahun 2026, termasuk terdamparnya paus sperma di Bali, paus di Ogan Komering Ilir, puluhan paus pilot di Rote Ndao, serta dua hiu paus di Cilacap.

Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Akbar Reza, S.Si., M.Sc., menjelaskan bahwa penyebab pasti terdamparnya hewan laut besar dapat diketahui secara akurat melalui proses nekropsi atau pembedahan bangkai.

Berdasarkan data nekropsi terdahulu, ditemukan adanya kerusakan pada organ ekolokasi paus yang berfungsi vital sebagai alat navigasi arah dan pencarian makan.

Kerusakan radar alami ini dipicu oleh tumpang tindih gelombang suara dari aktivitas kapal, gempa, eksploitasi minyak dan gas bumi menggunakan sonar, survei seismik, infeksi parasit, hingga pencemaran sampah plastik dan jaring nelayan.

Kondisi perairan dengan substrat lumpur dan pasir seperti di NTT turut memperlemah pantulan gelombang navigasi, sehingga mengacaukan sensor satwa raksasa tersebut saat memasuki wilayah dangkal.

"Nah, berkaitan kerusakan organ ekolokasi, tentu hal ini bisa makin parah, karena kalau dia rusak, ketika si paus pilot atau paus sejenis bergerak ke area dangkal, dia jadi nggak tahu itu sudah dangkal atau masih dalam gitu. Jadi, ibaratnya sensornya rusak tuh. Nggak tahu dia, akhirnya terdampar," tutur Akbar Reza.

Situasi ini kian berbahaya bagi mamalia laut yang hidup berkelompok, karena arah gerak anggota kelompok yang lain sangat bergantung pada sang pemimpin kawanan.

Ancaman Toksin dan Penurunan Kualitas Air

Faktor lain yang memicu peristiwa ini adalah dugaan keracunan akut, seperti pada kasus terdamparnya hiu paus di Pantai Banjarsari, Cilacap, pada 23 Mei 2026.

Marine Megafauna Specialist Yayasan Sealife Indonesia, drh. Dwi Suprapti, menyatakan adanya indikasi intoksikasi yang dapat bersumber dari kontaminasi makanan, buruknya kualitas perairan, atau benda asing di pencernaan.

Tim ahli menemukan gumpalan plastik kresek di dalam saluran pencernaan hiu paus tersebut, serta lima luka sayatan sedalam 1 mm yang diduga akibat terkena baling-baling kapal.

Peneliti dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr. Nuning Vita Hidayati, menambahkan bahwa akumulasi logam berat di laut merusak sistem imun, fisiologis, dan kemampuan navigasi hiu raksasa.

Kondisi serupa terjadi di pantai barat Amerika Serikat, di mana sejumlah paus bungkuk ditemukan mati akibat paparan asam domoat dari ledakan populasi alga berbahaya.

Direktur Jaringan Penyelamatan Mamalia Laut University of California Santa Cruz (UCSC), Robin Dunkin, mengonfirmasi bahwa biotoksin alami tersebut memicu gangguan neurologis fatal pada mamalia laut di Teluk Monterey.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed