Penertiban Tambang Ilegal Buat Laba PT Timah Melonjak Sembilan Lipat

Smallest Font
Largest Font

Penertiban aktivitas tambang ilegal dan penutupan jalur penyelundupan timah di wilayah Bangka Belitung berdampak positif secara langsung terhadap operasional PT Timah Tbk (TINS).

Seperti dilansir dari Investor Daily, TINS mencatatkan lonjakan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga Rp2,71 triliun pada semester I-2026.

Pencapaian ini melesat lebih dari sembilan kali lipat apabila dibandingkan dengan raihan periode yang sama pada tahun sebelumnya senilai Rp300,07 miliar.

Pertumbuhan kinerja keuangan perseroan juga ditunjukkan melalui pendapatan yang terangkat 146,9% hingga menyentuh angka Rp10,42 triliun.

Pada saat bersamaan, laba usaha TINS merangkak naik dari posisi awal Rp380,20 miliar menjadi Rp3,46 triliun, yang mendorong pelebaran margin laba usaha hingga 33,24%.

Secara operasional, peningkatan hasil tambang terlihat pada produksi bijih timah yang melonjak 75% mencapai 12.232 ton Sn.

Adapun volume produksi logam timah mencatatkan kenaikan 58% menjadi 10.865 metrik ton, sementara total penjualan meningkat 85% menjadi 10.984 metrik ton.

Faktor pendukung lonjakan operasional ini adalah kenaikan harga jual rata-rata komoditas timah sebesar 52% ke level US$49.794 per metrik ton.

Langkah pengawasan di Wilayah Izin Usaha Pertambangan makin solid lewat dukungan penuh Satuan Tugas Pemerintah Pusat dan arahan Presiden Prabowo Subianto.

Operasi penertiban sekitar 1.000 titik tambang ilegal dan penutupan rute penyelundupan yang melibatkan TNI, Polri, serta Bea Cukai ini telah berjalan sejak September 2025.

Komitmen penegakan hukum ini sejalan dengan pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) dalam mengamankan cadangan strategis demi kedaulatan ekonomi nasional.

Analis BRI Danareksa Andhika Audrey menilai, penindakan hukum mendorong kegiatan penambangan timah kembali beralih menuju ekosistem resmi secara teratur.

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi TINS untuk mengamankan pasokan bijih dari wilayah konsesinya sekaligus meningkatkan utilisasi fasilitas produksi serta kepercayaan investor terhadap industri pengelolaan timah Nasional.

"Dampaknya mulai terlihat dari kenaikan produksi, volume penjualan, serta perbaikan margin TINS. Apabila pengawasan tambang dan jalur penyelundupan dilakukan secara konsisten, pertumbuhan kinerja perseroan berpotensi lebih berkelanjutan," ujar Andhika dikutip di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Tren positif perbaikan kinerja bisnis ini tercermin pada pergerakan saham TINS di bursa efek.

Harga saham TINS melonjak 17,7% dari Rp3.270 pada 30 Juni 2026 menjadi Rp3.850 pada 10 Agustus 2026, yang membuat nilai kapitalisasi pasarnya menembus Rp28,67 triliun.

Penilaian rasio harga terhadap laba bersih (PER) indikatif TINS tercatat pada kisaran 5,3 kali berdasarkan kalkulasi annualized laba semester I-2026.

"Penutupan tambang ilegal dapat menjadi katalis re-rating bagi TINS. Pasar tidak lagi hanya melihat perseroan sebagai penerima manfaat kenaikan harga timah, tetapi juga sebagai perusahaan yang memiliki peluang pertumbuhan produksi, arus kas, dan laba yang lebih terukur," jelas Andhika.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed