PT Timah TINS Catat Lonjakan Laba Bersih 804 Persen Pada Semester I 2026

Smallest Font
Largest Font

PT Timah Tbk (TINS) memimpin pertumbuhan kinerja paling agresif di antara emiten tambang dalam ekosistem MIND ID sepanjang semester I-2026, seperti dikutip dari Investor Daily. Perseroan membukukan lonjakan pendapatan sebesar 146,9% menjadi Rp 10,4 triliun.

Laba bersih TINS melesat hingga 804,6% mencapai Rp 2,7 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 300 miliar. Capaian ini melampaui pertumbuhan emiten sejenis seperti PT Antam Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Secara agregat, akumulasi pendapatan empat perusahaan tambang tersebut menyentuh angka Rp 104,7 triliun, atau tumbuh 14,8% dibanding semester I-2025 yang tercatat Rp 91,2 triliun. Laba bersih gabungan keempatnya melonjak 116,6% dari Rp 6,2 triliun menjadi Rp 13,6 triliun.

"Pertumbuhan laba yang jauh melampaui pendapatan menunjukkan perbaikan margin, efisiensi, serta dukungan harga jual sejumlah komoditas," kata pengamat pasar modal, Hendra Wardana di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Laju kinerja TINS ditopang oleh kenaikan harga timah dunia, peningkatan volume penjualan, serta basis laba tahun sebelumnya yang relatif rendah. Namun, pesatnya pertumbuhan ini membuat TINS menghadapi tingkat volatilitas yang lebih tinggi.

Hendra menilai keberlanjutan harga timah dan kestabilan volume produksi pada semester II-2026 menjadi faktor penentu momentum perseroan. Jika harga komoditas terkoreksi tajam, laju pertumbuhan laba TINS berpotensi mengalami normalisasi.

Emiten lain seperti ANTM mencatatkan pendapatan Rp 62,7 triliun atau naik 6,26% pada semester I-2026, dengan laba bersih tumbuh 36,03% menjadi Rp 6,39 triliun. Komoditas emas masih menjadi penopang utama ANTM di samping lini bisnis nikel dan hilirisasi.

PTBA mengantongi pendapatan Rp 22,03 triliun atau naik 7,7%, sementara laba bersihnya melonjak 218% menjadi Rp 2,65 triliun. Keberhasilan PTBA dalam menjaga biaya serta efisiensi operasional menjadi kunci utama di tengah meredanya supercycle batu bara.

"Kondisi tersebut menunjukkan keberhasilan PTBA menjaga biaya dan meningkatkan efisiensi operasional ketika harga batu bara tidak lagi berada pada level supercycle seperti beberapa tahun sebelumnya," jelas Hendra.

Adapun INCO meraup pendapatan Rp 9,6 triliun atau tumbuh 27,39%, dengan laba bersih melonjak 313,6% menjadi Rp 1,85 triliun. Kinerja jangka pendek INCO masih dipengaruhi oleh fluktuasi harga nikel global dan biaya produksi.

Perbedaan fundamental tecermin pada pergerakan pasar, di mana saham TINS melesat 31,1% secara year to date (ytd) dan PTBA menguat 19%. Sebaliknya, saham ANTM pada harga Rp 3.100 masih terkoreksi 1,59% ytd, sementara INCO menguat tipis 0,4%.

Pasar memberikan apresiasi lebih tinggi kepada TINS dan PTBA atas dorongan momentum laba yang kuat. Berdasarkan analisis Hendra Wardana, berikut adalah rincian target harga dan rekomendasi saham emiten tambang MIND ID:

Rekomendasi Saham Emiten Tambang MIND ID
Kode SahamRekomendasiTarget Harga
TINSSpeculative BuyRp 4.250
ANTMSpeculative BuyRp 3.500
PTBATrading BuyRp 2.900
INCOBuy on Weakness (area Rp 5.000)Rp 5.500

Rekomendasi speculative buy untuk TINS cocok bagi investor dengan toleransi risiko tinggi mengingat potensi aksi koreksi teknikal. Sementara itu, ANTM dan INCO dinilai memiliki ruang kenaikan untuk mengejar perbaikan kinerja fundamentalnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed