Iran Ancam Hentikan Ekspor Minyak Teluk Respons Sanksi AS
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengancam bakal menghentikan seluruh ekspor minyak melalui kawasan Teluk jika negara-negara di wilayah tersebut mendukung sanksi ekonomi terbaru Amerika Serikat terhadap Teheran pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Ancaman dari Teheran ini berpotensi memicu gangguan parah di Selat Hormuz, jalur perairan vital yang melayani seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Peringatan tersebut dilontarkan usai Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perluasan sanksi sekunder yang menargetkan sektor emas, penerbangan, teknologi, hingga aset digital Iran.
"Jika mereka memulai tindakan semacam itu, kami tidak akan membiarkan satu tetes minyak pun melintasi Teluk," kata Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Rezaei menegaskan kembali dampak ancaman pemblokiran akses minyak dari kawasan tersebut bagi perdagangan internasional.
"Minyak tidak akan bisa keluar melalui Selat Hormuz ataupun Teluk Persia," ujar Rezaei.
Ancaman ini disampaikan Teheran guna merespons langkah tegas Washington yang berniat memperketat isolasi keuangan terhadap perekonomian Iran.
"Negara mana pun yang berpartisipasi dalam penerapan pembatasan ekonomi terhadap kami akan dianggap sebagai musuh," ucap Rezaei.
Pemerintah AS menyatakan bahwa sanksi baru menyasar 60 individu, kapal, serta perusahaan di berbagai negara termasuk Hong Kong, China, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Eropa yang diduga memfasilitasi pendapatan minyak serta operasi siber Iran.
"Jika mereka memfasilitasi transaksi dan menjadi bagian dari ekosistem yang mengubah minyak Iran menjadi uang, menjadi alat penindasan, maka mereka akan menjadi sasaran," kata Scott Bessent, Menteri Keuangan AS.
Reaksi keras juga datang dari Kementerian Luar Negeri China sebagai pembeli utama lebih dari 80 persen minyak mentah Iran yang dikirim via jalur laut. Beijing menolak penerapan sanksi sepihak AS yang dinilai tidak memiliki dasar hukum internasional maupun mandat Dewan Keamanan PBB.
"Kerja sama China dengan Iran dilakukan dalam kerangka hukum internasional dan tidak boleh diganggu," ujar Lin Jian, Juru Bicar Kementerian Luar Negeri China.
Pemerintah China menilai penerapan tekanan penuh hanya memicu eskalasi konflik yang merusak perekonomian global.
"Perang ekonomi dan tekanan maksimal bukanlah solusi," ucap Lin Jian.
Analis Z-Ben Peter Alexander menilai langkah China mengembangkan sistem pembayaran lintas negara Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) menjadi salah satu benteng pertahanan dari dominasi dolar AS.
"Ini adalah instrumen lindung nilai geopolitik," ujar Peter Alexander, Direktur Pelaksana Z-Ben.
Keterangan dari pakar ekonomi lainnya menekankan bahwa posisi dolar AS dalam perdagangan global membuat tindakan tegas AS dapat memberikan dampak ganda bagi kedua belah pihak.
"China jelas ingin tetap berada dalam sistem dolar yang menguntungkan mesin perdagangannya, namun hal itu tidak berarti mereka akan melakukan segalanya demi mematuhi sanksi AS yang terus meluas," kata Tianchen Xu, Ekonom Senior The Economist Intelligence Unit.
Alexander juga menambahkan penilaiannya mengenai potensi ketegangan ekonomi langsung antara Beijing dan Washington.
"Beijing bahkan belum mulai mengambil sikap keras terhadap Amerika," ujar Alexander.
Di tengah eskalasi retorika politik, harga minyak mentah berjangka Brent merosot 2,0 persen ke level 86,80 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 1,8 persen ke 80,87 dolar AS per barel pada perdagangan Rabu. Penurunan harga ini terdorong oleh harapan pasar setelah Iran dan Oman melanjutkan pembahasan pengelolaan koridor pelayaran serta pembersihan ranjau di Selat Hormuz.
"Pasar terus merespons perkembangan terkait navigasi di Selat Hormuz. Harapan akan kemajuan perundingan antara Iran dan Oman memicu aksi jual," kata Mitsuru Muraishi, Analis Fujitomi Securities.
Sentimen penurunan harga minyak dunia tersebut juga diperkuat oleh data American Petroleum Institute (API) yang mencatat lonjakan stok minyak mentah AS sebesar 4,2 juta barel per 21 Agustus 2026, melampaui proyeksi awal analis sebesar 600.000 barel.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow