AS memperketat sanksi ekonomi total terhadap Iran di tengah risiko Teheran

Smallest Font
Largest Font

Amerika Serikat melancarkan tekanan ekonomi maksimum terhadap Iran, disertai ancaman sanksi bagi negara yang tetap mendukung Teheran. Pemerintah Iran menyatakan akan membalas dan menolak ikut mundur, sementara dampak ekonomi mulai terlihat di dalam negeri dan antrean warga di pom bensin. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut strategi ini sebagai upaya menekan kebutuhan Washington untuk kembali melakukan operasi militer berskala besar terhadap Iran. Donald Trump menamai langkah tekanan ekonomi itu "Economic D-Day" serta mendesak sekutu AS untuk membantu mengisolasi Iran.

Bessent mengungkapkan blokade berkelanjutan di Selat Hormuz sebagai bagian dari pendekatan dua jalur yang memadukan tekanan finansial dan blokade fisik terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Mohsen Rezaei mengatakan Teheran akan merespons dengan pembalasan "seperti gempa bumi" jika Washington melanjutkan langkah-langkah tekanan ekonomi. Rezaei memperingatkan negara-negara tetangga Iran di Teluk agar tidak bergabung dalam kampanye sanksi AS.

"Jika negara-negara di sekitar Iran bergabung dengan Amerika dalam perang ekonomi mereka, tidak setetes pun minyak akan keluar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz," kata Rezaei, menambahkan bahwa Iran akan menargetkan jalur ekspor minyak lainnya dari Teluk. Dampak tekanan ekonomi juga tercermin pada antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar di area Teheran pada Selasa (25/8) waktu setempat, dengan warga khawatir kebutuhan harian ikut terdampak.

Salah satu warga Iran, Mehdi Yazdian, menilai "sanksi mempengaruhi kehidupan masyarakat" dan mendesak pemerintah mengendalikan harga. Warga lainnya, Kia Farahani, menyebut "perang ini akan lebih bersifat ekonomi" dan bisa memicu kembali aksi protes. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai sanksi diberlakukan sebagai tanda keputusasaan AS dan menganggap langkah itu tidak akan berhasil.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan, "Mengulangi metode yang sebelumnya terbukti gagal tidak akan menghasilkan hasil yang berbeda".

Esmail menambahkan bahwa memaksa negara lain menghentikan atau membatasi hubungan perdagangan melanggar landasan terpenting hubungan internasional dan pilar piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Profesor studi Asia Barat di Universitas Teheran Hassan Ahmadian mengatakan tidak ada satu pun sanksi baru atas Iran karena sanksi primer dan sekunder sudah berlaku sejak 2018. CNBC Indonesia melaporkan tekanan AS juga bertemu tantangan dari China, yang menjadi pembeli utama minyak Iran dan menolak sanksi sepihak Washington.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan, "Perang ekonomi dan tekanan maksimum tidak akan membantu menyelesaikan masalah ini".

Lin Jian menyinggung potensi meningkatnya ketegangan dan risiko bagi perekonomian global, terutama menjelang rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS bulan depan. Di tengah tekanan, Iran mengandalkan diversifikasi domestik, ekspor minyak ke China, dan jaringan perbankan bayangan untuk bertahan, sementara nilai tukar rial Iran disebut terpuruk hingga 1,84 juta rial per dolar AS.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed