Iran Mentransfer 7,5 Miliar Dolar Minyak di Tengah Sanksi AS

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah Iran mentransfer pendapatan penjualan minyak sebesar 7,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp133 triliun ke bank sentral untuk menutupi kebutuhan valuta asing hingga Desember 2026, di tengah peluncuran kampanye sanksi ekonomi Operation Economic Outcast oleh Amerika Serikat. Kementerian Perminyakan Iran melaporkan melalui kantor berita Fars pada Sabtu (29/8/2026) bahwa dana dari hasil penjualan empat bulan pertama tahun kalender Iran tersebut berhasil memenuhi 99 persen dari target penerimaan anggaran negara. Meskipun blokade angkatan laut Amerika Serikat mengganggu jalur perdagangan maritim Teheran, cadangan minyak nasional dipastikan tetap mencukupi untuk memenuhi target pendapatan periode 21 Maret 2026 hingga 20 Maret 2027.

Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad memaparkan kondisi aktivitas ekspor komoditas energi negara tersebut di tengah pengawasan ketat pihak militer asing.

"Saat ini, penjualan minyak terus berlanjut dan menjangkau pelanggan jauh di luar perairan teritorial kami," kata Paknejad, Menteri Perminyakan Iran. Paknejad mengakui adanya penurunan volume penjualan akibat blokade laut, namun ia memilih tidak membeberkan rincian angka demi mencegah pemanfaatan informasi oleh pihak musuh. Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati menyampaikan bahwa aktivitas ekspor minyak sempat nyaris terhenti akibat ketegangan kawasan.

Merespons tekanan ekonomi dari Washington pada peringatan Pekan Pemerintah, Jumat (28/8/2026), Pemimpin Tertinggi Iran Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei menekankan pentingnya penguatan kapasitas industri dalam negeri dan pengurangan ketergantungan pada mata uang dolar AS. "Kunci untuk menyelesaikan semua persoalan di bidang ini terletak pada ketergantungan sebesar mungkin terhadap produksi dalam negeri," ujar Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran.

Ia menambahkan bahwa skema impor harus dilakukan secara bijaksana jika kapasitas domestik belum memadai, sembari mengingatkan agar masyarakat tidak terpedaya oleh narasi pihak asing. "Musuh bebuyutan bangsa ini berusaha menyampaikan bahwa jalan menuju pembangunan dan kemajuan terletak pada mengikuti mereka dan memenuhi tuntutan mereka yang tidak masuk akal," ujar Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. Mojtaba mengkritik rekam jejak negara-negara musuh yang dinilainya telah mengeksploitasi sumber daya Iran sejak sebelum Revolusi Islam.

"Padahal, melihat apa yang telah mereka lakukan terhadap negara ini dan sumber dayanya pada masa lalu, bahkan bertahun-tahun sebelum Revolusi Islam, menunjukkan hal yang sebaliknya," ujar Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran.

Ia mendorong pemanfaatan inovasi teknologi dari kaum muda untuk menciptakan lompatan pembangunan, serta memuji ketahanan nasional warga dalam menghadapi agresi AS dan Israel selama enam bulan terakhir. Apresiasi juga disampaikan kepada pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian atas upaya menjaga pasokan barang pokok, perbaikan infrastruktur, dan pengelolaan energi nasional. "Secara khusus, saya memuji langkah-langkah yang layak mereka ambil, meskipun menghadapi berbagai pembatasan dan rencana musuh Amerika-Zionis, serta meningkatnya sanksi dan blokade," ujar Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran.

Selain sektor ekonomi, Mojtaba melarang keras segala bentuk wacana yang berpotensi merusak kohesi sosial dan memecah belah publik.

"Tidak diragukan lagi, setiap pernyataan yang melemahkan semangat nasional dan publik, serta segala bentuk dikotomi yang dibuat-buat-seperti perang atau negosiasi, konsensus atau ekstremisme, kompromi atau penghasutan perang-yang pada masa lalu menimbulkan kerugian langsung maupun tidak langsung bagi rakyat tercinta kita, dapat menimbulkan dampak yang sama mulai sekarang," ujar Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. Penegasan mengenai perlindungan stabilitas internal tersebut diikuti dengan larangan tindakan yang merugikan persatuan nasional.

"Oleh karena itu, saya dengan tegas menyatakan bahwa melakukan tindakan apa pun yang merusak kohesi sosial adalah dilarang," ujar Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. Peringatan Pekan Pemerintah digelar saban tahun oleh otoritas Teheran untuk mengenang Presiden Mohammad Ali Rajai dan Perdana Menteri Mohammad Javad Bahonar yang tewas dalam insiden pengeboman pada 30 Agustus 1981.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed