Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih Tiga Persen Akibat Konflik AS Iran
Harga minyak mentah dunia ditutup melonjak lebih dari 3 persen hingga menyentuh level tertinggi dalam hampir enam pekan pada perdagangan Rabu (22/7/2026), dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan akibat memanasnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Penguatan harga minyak mentah Brent tercatat naik US$ 3,06 atau 3,36 persen menjadi US$ 94,07 per barel, setelah sempat mencapai puncak US$ 95,47 per barel. Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate AS menguat US$ 2,49 atau 2,95 persen ke posisi US$ 86,83 per barel.
Kondisi pasar saat ini berada dalam struktur backwardation, yang ditunjukkan oleh pelebaran selisih harga kontrak Brent tiga bulan menjadi US$ 9,26 per barel. Pengetatan pasokan jangka pendek terjadi menyusul serangan militer AS terhadap Iran serta ancaman terhadap jalur pelayaran vital di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
"Pasar energi kini menghadapi kekhawatiran terhadap dua jalur strategis sekaligus. Selain Selat Hormuz, Selat Bab el-Mandeb juga berpotensi menjadi titik panas baru yang mengancam distribusi minyak global," kata Tim Waterer, Chief Market Analyst KCM Trade.
Ancaman keamanan memicu penyesuaian rute kapal komersial dan tanker minyak untuk menghindari kawasan rawan di Laut Merah.
Analis Gelber & Associates menilai meningkatnya konflik dan risiko keamanan di Laut Merah membuat banyak kapal komersial mengubah rute pelayaran, sehingga meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia.
Pengalihan rute pengiriman oleh sejumlah kilang di Asia melintasi jalur alternatif turut memengaruhi kondisi pasar fisik.
Frank Walbaum, Market Analyst Naga.com menilai pengalihan jalur kapal tanker berpotensi memperketat pasar fisik minyak dan mengurangi ekspor minyak Saudi, sehingga menopang kenaikan harga.
Di sisi lain, laporan Energy Information Administration menunjukkan stok minyak mentah AS justru naik 2 juta barel menjadi 411,7 juta barel pada pekan yang berakhir 17 Juli 2026. Kenaikan persediaan yang dipicu penurunan aktivitas kilang ini berbanding terbalik dengan perkiraan analis yang memproyeksikan penurunan 1,1 juta barel.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow