Investor Asing Catat Net Buy Saham BBCA Rp 80,82 Miliar
Investor asing mencatatkan aksi beli bersih atau net buy saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 80,82 miliar pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Tren akumulasi saham BCA oleh investor asing tersebut terus berlangsung konsisten sejak 12 Agustus 2026, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Aksi borong saham ini mengubah tren kinerja saham BBCA di pasar modal. Pada periode 1 Juli 2026 hingga 26 Agustus 2026, net buy asing terkumpul Rp 2,3 triliun. Capaian tersebut membalikkan posisi periode Januari hingga Juni 2026 yang selalu mencatatkan net sell setiap bulannya.
Meskipun menorehkan aksi beli asing, harga saham emiten terafiliasi Grup Djarum ini terkoreksi 0,78% ke level Rp 6.350 pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Transaksi harian mencatatkan frekuensi 21.432 kali dengan volume 86,12 juta saham dan nilai transaksi mencapai Rp 550,01 miliar. Angka ini telah bangkit lebih dari 30% dibanding titik terendah Rp 4.850 pada 8 Juni 2026.
Di sisi lain, BCA bersiap membagikan dividen interim kedua tahun buku 2026 senilai Rp 3,07 triliun atau Rp 25 per saham. Keputusan pembagian dividen tersebut telah disetujui dewan komisaris pada 19 Agustus 2026.
Berdasarkan jadwal perseroan, cum date dividen interim di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 28 Agustus 2026, diikuti recording date pemegang saham yang berhak pada 1 September 2026. Pembayaran dividen dijadwalkan terealisasi pada 16 September 2026.
Penerima dividen mencakup entitas terafiliasi Grup Djarum seperti PT Dwimuria Investama Andalan yang menguasai 54,94% saham dengan potensi jatah dividen Rp 1,69 triliun. Selain itu, PT Caturguwiratna Sumapala (1,02%) dan PT Tricipta Mandhala Gumilang (1,07%) masing-masing berpotensi mengantongi Rp 31,54 miliar dan Rp 32,83 miliar. Konglomerat Anthoni Salim yang menggenggam 1,15% saham berpeluang menerima Rp 35,4 miliar.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menjelaskan bahwa alokasi dividen interim kuartal III-2026 memperhitungkan struktur modal yang kuat, likuiditas memadai, serta kualitas aset yang terjaga.
<"Nilai dividen interim yang lebih tinggi dari kuartal sebelumnya merupakan cerminan kinerja solid perseroan pada semester I-2026. Terobosan ini diharapkan dapat menjadi hadiah bagi investor, bertepatan dengan bulan Kemerdekaan Republik Indonesia," ujar Hendra.
Seluruh pembayaran dividen interim akan diperhitungkan ke dalam dividen final tahun buku 2026 setelah mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 2027.
Secara kinerja keuangan (bank only), BBCA membukukan laba bersih Rp 35,3 triliun sepanjang Januari hingga Juli 2026 atau tumbuh 2% secara tahunan (yoy). Khusus bulan Juli 2026, laba bersih tercatat Rp 5,1 triliun, naik 5% yoy.
Analis MNC Sekuritas Victoria Venny menyatakan bahwa pencapaian laba bersih hingga Juli 2026 telah memenuhi 58% dari proyeksi MNC Sekuritas untuk tahun 2026 serta 59% dari target konsensus analis. Pendapatan bunga bersih (NII) terakumulasi naik 0,3% yoy selama tujuh bulan 2026.
<"Pertumbuhan kredit sebesar 8% yoy sebagian besar terkompensasi oleh tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM)," jelas Victoria.
Meski NIM 7M26 melandai 20 bps yoy menjadi 5,5%, kinerja operasional didukung perbaikan rasio dana murah (CASA) yang naik ke level 85,4% pada Juli 2026 seiring lonjakan dana murah 11% yoy.
<"Tekanan margin tersebut masih membatasi laju pertumbuhan pendapatan bunga bersih," ungkap dia.
MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 8.700 yang mencerminkan estimasi valuasi PBV 3,4 kali untuk 2026. Risiko utama rekomendasi tersebut mencakup potensi perlambatan kredit dan pergerakan makroekonomi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow