Saham BBCA Cetak Net Buy Asing Rp 1,24 Triliun
Aksi beli bersih oleh investor asing kembali melanda saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sepanjang Agustus 2026. Dikutip dari Investor Daily, emiten perbankan raksasa ini membukukan net buy asing sebesar Rp 1,24 triliun pada bulan tersebut.
Torehan positif ini melanjutkan tren Juli 2026, ketika investor luar negeri mencatatkan net buy Rp 1,37 triliun. Perubahan peta transaksi ini tergolong signifikan mengingat saham BBCA selalu mengalami net sell asing setiap bulannya pada periode Desember 2025 hingga Juni 2026.
Lonjakan minat asing turut mendorong pergerakan harga. Pada Juli 2026, saham BCA melejit 13,96 persen dan berlanjut menguat 2,37 persen selama Agustus. Pada penutupan perdagangan Senin (31/8/2026), saham BBCA parkir di level Rp 6.475 per lembar dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,49 triliun dari 230,90 juta saham yang diperdagangkan.
Di tengah penguatan transaksi pasar, manajemen perseroan siap membagikan dividen interim kedua tahun buku 2026. Total dividen yang dialokasikan mencapai Rp 3,07 triliun atau setara Rp 25 per saham, sesuai keputusan direksi yang disetujui dewan komisaris pada 19 Agustus 2026.
Pemegang saham yang berhak menerima dividen akan dicatat pada 1 September 2026 pukul 16.00 WIB. Sementara proses pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 16 September 2026.
Kinerja fundamental perseroan juga menunjukkan pertumbuhan solid. Laba bersih BCA pada Juli 2026 meningkat 12,2 persen secara bulanan (mom) menjadi Rp 5,06 triliun. Capaian ini membuat akumulasi laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATMI) selama tujuh bulan pertama 2026 menyentuh Rp 35,25 triliun.
Analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, mengonfirmasi bahwa realisasi tersebut berjalan sesuai estimasi. Perolehan laba tujuh bulan tersebut masing-masing telah memenuhi 58,6 persen dan 57,3 persen dari perkiraan setahun penuh versi KB Valbury dan konsensus pasar.
"Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tercatat sebesar 5,43%. Angka tersebut masih berada dalam kisaran ekspektasi NIM tahun 2026 sebesar 5,4%-5,6%," jelas Akhmad dalam risetnya.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BBCA tumbuh 8,4 persen secara tahunan (yoy), masih berada di jalur target tahunan 8-10 persen. Dana pihak ketiga (DPK) juga naik 8,2 persen yoy yang ditopang lonjakan giro sebesar 16,8 persen yoy, meski deposito berjangka terkoreksi 5 persen yoy.
Prospek dan Target Harga Saham BBCA
KB Valbury Sekuritas memproyeksikan PATMI BBCA (bank only) pada kuartal III-2026 mencapai Rp 14,78 triliun atau naik 2,8 persen yoy. Dengan demikian, akumulasi PATMI selama sembilan bulan 2026 diperkirakan menembus Rp 44,32 triliun.
Atas dasar fundamental yang terjaga, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Target harga dipatok pada level Rp 9.480, yang mengindikasikan potensi kenaikan hingga 46 persen dari harga saat ini.
Target tersebut mencerminkan valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi 2026. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada estimasi P/B 2,6 kali, sehingga membuka ruang re-rating jika katalis positif mulai terealisasi.
Sejumlah katalis pendorong mencakup pertumbuhan kredit dan imbal hasil yang lebih tinggi, penurunan cost of credit (CoC), serta perbaikan sentimen pasar. Sebaliknya, risiko yang patut dicermati meliputi potensi penurunan NIM, tingginya biaya pendanaan, hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow