Digitalisasi Otomasi Rumah Sakit Tingkatkan Efisiensi Energi dan Operasional
Efisiensi energi di rumah sakit menuntut pengelolaan yang tidak hanya mengurangi pemborosan listrik, tetapi juga menjaga pasokan listrik, suhu, kelembapan, dan utilitas penting lainnya agar beroperasi terus-menerus demi keselamatan dan pelayanan pasien.
Digitalisasi pengelolaan gedung menjadi solusi utama untuk kebutuhan tersebut. Melalui integrasi dan otomatisasi sistem, pemantauan fasilitas dapat dilakukan secara real-time, sedangkan penggunaan energi disesuaikan dengan aktivitas di setiap area.
Reza Syarif, Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, menjelaskan bahwa sektor bangunan menghadapi tantangan keberlanjutan, ketahanan, efisiensi, dan kenyamanan pengguna. Bangunan menyumbang sekitar 40% emisi karbon global, dengan lebih dari 30% energi terbuang sia-sia. Oleh karena itu, sistem kelistrikan, pencahayaan, HVAC, air, limbah, transportasi, dan keamanan harus terintegrasi dalam satu manajemen berbasis data.
Integrasi ini memungkinkan pengelola mengetahui pola konsumsi energi, mendeteksi pemborosan, dan melaksanakan efisiensi secara terukur. Hal ini sangat penting di rumah sakit, di mana beberapa fasilitas harus terus beroperasi tanpa henti meski aktivitas menurun.
Salah satu contoh penerapan teknologi ini adalah Building Management System (BMS) di RS Telogorejo, Semarang. Sistem ini memungkinkan pengawasan dan pengendalian fasilitas dari satu pusat kendali. Menurut Rio Oktavianus, Facility Manager RS Telogorejo, digitalisasi ini meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga keandalan operasional fasilitas kritis yang harus aktif 24 jam.
Setelah sistem otomatisasi berjalan, pengeluaran listrik rumah sakit turun sekitar 5% pada 2025, membalik tren kenaikan biaya utilitas sebesar 9% per tahun sebelumnya. Selain penghematan listrik, waktu respon tim teknis terhadap gangguan juga menjadi 60% lebih cepat berkat peringatan otomatis.
Dari Pengelolaan Manual ke Sistem Otomatis
Pengelolaan energi di rumah sakit memiliki karakteristik khusus karena listrik menjadi sumber daya penting untuk peralatan medis dan pelayanan yang harus terus berjalan. Sebelum digitalisasi, pengelolaan manual menyebabkan pemborosan energi sulit terdeteksi, seperti HVAC yang tetap aktif pada jadwal tetap tanpa mempertimbangkan penggunaan ruangan.
Model pemeliharaan yang reaktif juga meningkatkan risiko dan biaya. Sistem otomatisasi mengubah pendekatan ini dengan menyesuaikan operasional peralatan berdasarkan kondisi aktual dan memberikan peringatan dini untuk pemeliharaan proaktif.
Transformasi ini dimulai dari audit dan pemetaan aset untuk mengetahui pola konsumsi listrik dan titik kritis. Kemudian, fasilitas dipasang sensor dan digital power meter serta menghubungkan panel listrik, UPS, dan HVAC ke jaringan BAS terpusat agar data dapat dikumpulkan dan dianalisis secara terpadu.
RS Telogorejo menargetkan pengurangan konsumsi listrik bulanan sebesar 10%-15% dan mewujudkan visibilitas real-time terhadap utilitas kritis.
Penyesuaian Konsumsi Energi Berdasarkan Fungsi Ruangan
Sistem otomatisasi juga memungkinkan pengaturan energi sesuai kebutuhan fungsi ruang. Misalnya, klinik rawat jalan yang aktivitasnya menurun pada malam hari dapat mengurangi penggunaan HVAC, sementara ruang operasi dan fasilitas kritis tetap menerima dukungan utilitas 24 jam.
Rio Oktavianus menjelaskan, "Klinik rawat jalan tentu memiliki pola penggunaan berbeda dengan ruang operasi. Energi bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing area, sementara fasilitas kritis tetap mendapat dukungan selama 24 jam." Pendekatan ini mencegah pengurangan energi yang seragam dan tidak sesuai fungsi tiap area.
Pengawasan Terpusat Melalui Command Center
RS Telogorejo mengumpulkan data operasional dari berbagai fasilitas dalam command center, sehingga tim teknis dapat memantau kondisi chiller, cooling tower, HVAC, kelistrikan, UPS, suhu, dan kelembapan secara terpusat. Hal ini mengurangi ketergantungan pada inspeksi manual dan mempercepat respons terhadap anomali.
Pengawasan suhu dan kelembapan sangat penting untuk menjaga standar lingkungan di ruang operasi, yang erat kaitannya dengan kualitas pelayanan medis. Digitalisasi mendukung stabilitas lingkungan sekaligus efisiensi energi.
Selain itu, pola kerja tim fasilitas berubah dari reaktif menjadi proaktif. Data yang tersedia membantu tim dalam mengenali potensi masalah, menentukan prioritas pemeliharaan, dan mencegah gangguan sebelum terjadi kerusakan.
"Tim teknis tidak lagi hanya datang saat ada kerusakan. Dengan data, kami bisa lebih proaktif mengelola aset dan kebutuhan pemeliharaan," tutur Rio.
Digitalisasi dan otomatisasi gedung rumah sakit ini menjadi fondasi penting dalam pengembangan konsep smart hospital yang efisien dan handal, sesuai kebutuhan layanan kesehatan mutakhir.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow