Ahli Kesehatan Minta Layanan Rumah Sakit dan Empati Nakes Dibutuhkan
Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia dinilai memerlukan pembenahan menyeluruh, khususnya terkait durasi penanganan pasien di ruang gawat darurat dan peningkatan sikap empati tenaga medis. Penilaian tersebut disampaikan oleh Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Prof dr Tjandra Yoga Aditama, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Menurut Tjandra, keluhan mengenai pasien yang harus menunggu di Instalasi Gawat Darurat (IGD) hingga delapan jam atau lebih serta kurangnya empati tenaga kesehatan merupakan dua masalah utama yang harus ditangani secara bersamaan. Ia menekankan pentingnya ketersediaan tempat tidur dan kamar rawat inap yang memadai agar seimbang dengan ketersediaan alat medis canggih.
Sorotan tersebut juga mengarah pada perilaku sebagian tenaga kesehatan di media sosial yang mengunggah konten negatif terkait kondisi pasien kritis saat menunggu antrean pelayanan.
"Nakes selain harus empati, juga harus ada ‘einfuhlung’ yang dapat ‘merabarasakan’ yang dialami pasien yang dihadapinya," ujar Prof Tjandra, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
Guna mengatasi persoalan ini, Tjandra mendorong keterlibatan aktif dari tiga lembaga kunci. Organisasi profesi perlu diberikan ruang lebih luas untuk membimbing para anggotanya. Institusi pendidikan juga diminta memperkuat penanaman etika sejak masa perkuliahan, sementara otoritas kesehatan seperti Kementerian Kesehatan, dinas kesehatan, dan manajemen rumah sakit diharapkan memberikan edukasi mengenai regulasi pelayanan kepada masyarakat.
"Ada dua hal utama tentang kejadian pelayanan kesehatan sekarang ini, pasien harus menunggu di IGD sampai 8 jam (dan mungkin lebih), dan nakes (tenaga kesehatan) yang kurang punya empati. Dua-duanya perlu dibenahi. Jangan hanya satu saja," ujar Prof Tjandra, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
Tjandra menambahkan bahwa keterbatasan ruang rawat di ibu kota menjadi penanda penting bagi pemerintah untuk segera memperbaiki sarana dan prasarana rumah sakit. Selain menambah jumlah tempat tidur, manajemen waktu kerja tenaga kesehatan juga harus diatur dengan baik guna mencegah kondisi kelelahan mental atau burnout.
"Jangan ada pembatasan yang tidak perlu, karena merekalah yang sehari-hari bersama nakes dalam ‘peer group’nya," ujar Prof Tjandra, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
Pengawasan terhadap ketersediaan dokter jaga malam serta penyesuaian aturan BPJS Kesehatan yang dinilai menyulitkan pasien juga dianggap perlu untuk segera dievaluasi.
"Tentu sesudah lulus, institusi pendidikan tidak punya ‘grip’ lagi, jadi memang harus ke organisasi profesi yang perlu diberi peran," kata Prof Tjandra, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
Penguatan sistem rujukan antarrumah sakit menjadi salah satu langkah krusial agar penumpukan pasien di satu fasilitas kesehatan dapat terhindari secara efektif.
"Tentu sebaiknya ada juga penjelasan ke masyarakat luas tentang kerja nakes di lapangan, apa yang mereka bisa lakukan, aturan apa yang mungkin ada di rumah sakit, dan lain-lain yang harus diikuti walaupun kadang-kadang ‘berbenturan’ dengan kemudahan pelayanan, dan sebagainya," jelas Prof Tjandra, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
Langkah-langkah pembenahan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas sistem pelayanan medis nasional secara berkelanjutan.
"Karena tentu jadi amat kasihan pada pasien dan keluarganya. Kalau ini masih terjadi bahkan di Ibukota negara, maka tentu jadi alarm bahwa ada yang perlu dibenahi oleh pemerintah tentang sarana-prasarana rumah sakit, termasuk kurangnya jumlah tempat tidur dan lain-lain," tegas Prof Tjandra, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
Peningkatan kualitas fasilitas dasar tetap menjadi prioritas utama dalam pemenuhan hak kesehatan masyarakat.
"Alat super canggih di rumah sakit barangkali diperlukan, tetapi kalau tempat tidur dan kamar rawat sampai tidak tersedia tentu ada yang perlu dibenahi," tegas Prof Tjandra, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
Upaya perbaikan terus mendorong terciptanya lingkungan pelayanan kesehatan yang lebih responsif dan ramah bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Jumlah dan jenis petugas juga harus tersedia memadai. Ingat ini bukan hanya tentang dokter yang sangat ahli dan bertaraf internasional tetapi juga tentang dokter dan tenaga kesehatan yang jaga malam, atau yang sehari-hari di IGD atau poliklinik penuh pengunjung dan lain-lain," ujar Prof Tjandra, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
Keseluruhan aspek regulasi dan operasional rumah sakit kini tengah menjadi perhatian khusus para pemangku kepentingan.
"Kalau semua nakes sudah melakukan tugasnya tetapi memang kamar rawat tidak tersedia dan tidak ada mekanisme aturan memadai untuk menanganinya maka tentu pasien dan masyarakat yang jadi korbannya. Semoga dunia pelayanan kesehatan di Indonesia dapat lebih sejuk dan harmonis, semoga sarana prasarana pelayanan kesehatan (apalagi yang dasar seperti ruang rawat) memang tersedia bagi rakyat yang membutuhkannya," tutup Prof Tjandra, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow