Stok Rudal AS Menipis di Tengah Konflik Berkelanjutan dengan Iran
Kekhawatiran mengenai ketersediaan amunisi menipis menghantui militer Amerika Serikat di tengah operasi militer yang berlanjut melawan Iran pada Selasa (21/7/2026). Peneliti senior Cato Institute Katherine Thompson menilai potensi perang panjang terancam terhambat akibat menipisnya stok rudal jarak jauh serta amunisi pertahanan udara.
Kondisi keterbatasan persediaan amunisi ini berisiko memperumit posisi Negeri Paman Sam jika konflik militer meluas melampaui perkiraan awal.
"Waktu adalah faktor utama di sini. Jika ini berlanjut selama beminggu-minggu dan kemudian kita mencapai gencatan senjata, semuanya baik-baik saja," kata Katherine Thompson, Peneliti Senior Cato Institute.
Thompson menggarisbawahi tantangan logistik yang dihadapi AS dalam melindungi sekitar 50.000 pasukannya di wilayah Timur Tengah di tengah gempuran balasan yang terus berlangsung.
"Tapi saya rasa persediaan amunisi kita tak akan dalam kondisi baik jika ini berlanjut satu atau dua tahun lagi," ujar Katherine Thompson, Peneliti Senior Cato Institute.
Kecemasan serupa diungkapkan seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal pemerintah terkait batasan operasi militer akibat menyusutnya persenjataan.
"Ini menunjukkan dampaknya ke persediaan kita yang digunakan untuk melindungi kehadiran tersebut, karena serangan balasan masih terus terjadi dengan kecepatan yang mengkhawaitrkan," ujar Katherine Thompson, Peneliti Senior Cato Institute.
Lembaga kajian CSIS mencatat AS telah menggunakan lebih dari 3.000 rudal seperti Tomahawk, Patriot, JASSM, hingga sistem THAAD. Pengadaan kembali persediaan senjata tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga akhir dekade ini.
"Ternyata, Iran masih punya akses ke rudal dan drone. Serangan balasan [Iran] tidak akan besar di hari-hari awal perang, tetapi mereka menunjukkan kemampuan untuk terus menyerang," ujar Katherine Thompson, Peneliti Senior Cato Institute.
Meskipun demikian, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi militernya tetap melancarkan gempuran terhadap pusat komando militer, fasilitas maritim, serta sistem pertahanan udara Iran dalam serangan selama sembilan hari berturut-turut.
"Kita tidak memiliki cukup amunisi untuk mempertahankan operasi dengan aman, dan saya rasa Gedung Putih tidak menyadari hal itu," kata seorang pejabat AS kepada The Washington Post.
Pemerintah AS melalui Kementerian Pertahanan menegaskan militer masih memiliki persediaan senjata yang memadai untuk melindungi seluruh kepentingan nasionalnya.
"Pasukan Amerika tetap siaga dan siap meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan yang tidak beralasan terhadap awak kapal sipil yang berupaya melintasi selat secara bebas dan terbuka," tulis CENTCOM.
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merespons serangan tersebut dengan menggempur target-target militer AS di Yordania, Bahrain, dan Suriah.
"Kami sudah melaksanakan berbagai operasi yang sukses di seluruh komando tempur sambil memastikan militer AS memiliki persenjataan yang lengkap untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," kata Sean Parnell, Juru Bicara Kementerian Pertahanan AS.
Pihak IRGC juga menutup pintu terhadap diplomasi janji negosiasi yang ditawarkan oleh AS.
"Sekarang setelah Amerika yang kriminal sekali lagi memilih jalan kesalahan, agresi, dan petualangan, kami terikat teguh pada perjanjian ini: bahwa kami akan memberikan 'pelajaran yang tak terlupakan'... pelajaran yang akan mencegah agresor mana pun untuk mengulangi kesalahannya," kata IRGC dalam pernyataan resminya.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya saat ini sedang menghadapi perang secara terbuka di pelbagai lini.
"Kami berjanji bahwa... kami tidak akan pernah mengikat nasib negara ini pada janji-janji musuh pembunuh anak yang rekam jejaknya penuh dengan pelanggaran kepercayaan, tipu daya, dan kebencian terhadap bangsa Iran," kata IRGC.
Pezeshkian menyoroti bahwa sektor perekonomian kini menjadi perhatian paling mendesak bagi kelangsungan masyarakatnya di tengah eskalasi konflik militer yang terus meningkat.
"Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh," ujar Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.
"Medan perang terpenting saat ini adalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat," kata Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow