Perempuan Lajang Pilih Kencan Buta Akibat Jenuh Aplikasi Kencan
Tren pencarian pasangan mulai bergeser dari aplikasi kencan digital ke acara kencan buta tatap muka akibat maraknya ketimpangan ekspetasi serta maraknya kasus penipuan di platform daring. Peneliti agama, budaya, dan kesehatan mental Universitas Gadjah Mada, Ladrina Bagan, menilai bahwa kepindahan ini dipicu oleh meningkatnya kesadaran perempuan akan kebutuhan pasangan yang menghargai orang lain secara benar. "Perempuan sekarang sudah mulai sadar, yang kami tuntut hanyalah decent human being, orang yang tahu cara memperlakukan orang lain dengan benar," jelas Ladrina.
Ia menambahkan bahwa sebagian laki-laki belum menyadari pergeseran kriteria ini dan masih berpatokan pada pandangan lama.
"bukan lagi berkutat pada dogma budaya yang menyebut perempuan itu submissive [patuh]", lanjut Ladrina. Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Desintha Asriani, menjelaskan bahwa fenomena ini hadir akibat adanya permintaan pasar dari perubahan gaya hidup daring ke luring.
"Permintaan itu terbentuk dari perubahan sosial online ke offline, secara sosiologis ini juga menggambarkan fenomena kelas sosial, karena yang bisa mengakses itu pasti orang-orang yang punya kemampuan untuk membayar jasa mak comblang," papar Desintha. Para peserta kencan buta mengaku merasa lebih aman dengan metode ini. Nina, seorang pekerja kreatif asal Malang yang pernah mengalami percobaan penipuan di aplikasi kencan, memutuskan mencoba kencan buta di Surabaya yang diselenggarakan oleh komunitas Blinddate Indonesia.
"Saya tidak terlalu percaya dengan dating app karena beberapa kali hampir kena tipu, ada yang love bombing, ada pula yang meminta identitas diri (KTP)," jelas Nina. Pendiri Blinddate Indonesia, Mahathir Al Afgahani Zein, menyebutkan dari 1.300 pendaftar pada sesi ke-22, pihaknya melakukan seleksi ketat selama 14 hari hingga tersaring 12 peserta. "Namun, dari ribuan aplikasi itu yang lolos proses kurasi hanya 12 orang, atau enam perempuan dan enam laki-laki," ungkap Al.
Proses kurasi ini ditujukan untuk menciptakan kesetaraan serta keamanan bagi setiap peserta yang hadir.
"Kesetaraan itu penting untuk kelangsungan hubungan. Pernikahan, misalnya, merupakan ibadah terlama dalam keyakinan saya, yakni Islam. Jadi, kesetaraan dalam finansial, kestabilan ekonomi, mental hingga hobi merupakan faktor-faktor yang memengaruhi kurasi itu," kata Al.
Ia menegaskan bahwa komunitas yang dibentuknya sejak 2021 ini tidak berorientasi pada keuntungan finansial belaka. "Kami fokus pada idealisme, menjodohkan seseorang dengan yang setara," tambah Al.
Sesi kencan buta dijalankan dengan menutup mata para peserta menggunakan kain kuning dan memberikan waktu mengobrol 10 menit secara bergantian.
"Silakan bergeser untuk mengobrol dengan yang lain," katanya Aulia Lestari Rauf, pemandu acara sekaligus istri Al. Usai mengikuti acara, Nina merasakan adanya kecocokan namun belum mengambil keputusan.
"Karena enggak pernah ngobrol seintens itu, tetapi jujur saja belum bisa memutuskan memilih siapa," katanya. Ia memilih ikut serta untuk menguji keterbukaan dirinya dalam bertemu orang baru.
"Kenapa mau coba blind date, karena aku mau coba membuka diri dan pengen tes diriku," katanya. Ia juga ingin mengetahui sejauh mana dirinya mampu berkomunikasi dalam pertemuan pertama. "Seberapa bisa aku open sama orang lain dalam waktu sekali pertemuan." katanya.
Meski begitu, Nina tidak menaruh harapan berlebih pada hasil kencan tersebut.
"aku tak berharap 100%" kata Nina. Sifat acara yang terbuka membuat Nina merasa lebih percaya diri untuk berinteraksi. "Aku ngerasanya karena di situasi itu, semuanya udah pada paham apa maksud acara itu, jadinya aku bisa lebih pede untuk membuka diri," katanya.
Peserta lain, Dinda, seorang Pegawai Negeri Sipil, merasa lega setelah mengetahui banyak orang seusianya yang mengalami kondisi serupa.
"Lega rasanya, ternyata masih ada orang-orang di usia yang relatif dekat dengan kondisi melajang yang sama seperti diriku," kata Dinda.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow