Buy Now Pay Later Ubah Perilaku dan Persepsi Konsumen Terhadap Harga dan Utang
Penulis : Prisma Ardianto 30 Aug 2026 | 16:25 WIB
Aplikasi pinjaman bayar nanti (paylater) atau buy now lay later (BNPL). (Antara/Yulius Satria Wijaya)
JAKARTA, investor.id – Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater tidak hanya mengubah cara masyarakat melakukan transaksi, tetapi juga dapat mengubah cara seseorang memandang harga dan utang. Skema cicilan membuat barang dengan harga jutaan rupiah terasa lebih ringan karena perhatian konsumen bergeser dari total harga menjadi nominal pembayaran setiap bulan.
Financial Planner, Andhika Diskartes, menjelaskan bahwa perubahan persepsi tersebut berkaitan dengan accounting bias, yakni kecenderungan manusia melihat angka secara berbeda ketika sebuah harga besar dipecah menjadi cicilan yang lebih kecil.
“Kalau misalnya teman-teman di sini, let's say gak usah paylater deh. Let's say pinjem ke orang lain. Misalnya beli produk. Apa produk yang kalian beli? Misalnya harga Rp 5 juta. Rp 5 juta atau Rp 3 juta. Mungkin berasa mahal karena harus langsung bayar,” kata Andhika dalam talkshow Money Lab, seperti dikutip pada Minggu (30/8/2026).
Menurut dia, persepsi tersebut dapat berubah ketika pembayaran dilakukan secara mencicil. Barang seharga Rp5 juta, misalnya, akan terasa lebih terjangkau apabila dibagi menjadi 10 kali pembayaran sebesar Rp500 ribu.
“Ketika ada mekanisme cicilan, let's say 10 kali, jadinya 500 ribu. Jadinya berasa kecil. Iya kan?” ujar dia.
Andhika menilai cara berpikir manusia memang dapat berubah ketika berhadapan dengan angka besar dan kecil. Padahal, nilai barang yang dibeli tetap sama meskipun cara pembayarannya berbeda.
“Cara berpikir manusia adalah berubah: oh, ini harganya bukan 5 juta, oh gue masih bisa bayar kok 500 ribu. Jadi point of view dari manusia ketika melihat angka yang besar dan angka yang kecil itu POV-nya langsung berbeda,” tuturnya.
Menurut Andhika, persoalan utama bukan semata-mata terletak pada mekanisme paylater. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana konsumen memandang transaksi tersebut. “Padahal value-nya itu sama. Karena manusia cenderung melihat harga, tidak melihat value,” kata Andhika.
Ia mengingatkan, pola pikir tersebut juga relevan ketika seseorang mengambil keputusan investasi. Konsumen maupun investor perlu melihat nilai sebenarnya dari sesuatu, bukan hanya angka yang terlihat lebih kecil atau lebih ringan.
“Padahal buat saya, yang paling utama adalah sebagai manusia itu kita melihat value-nya itu di mana. Sama ketika teman-teman nanti melihat emiten, melihat saham, harus kembali ke value-nya itu seperti apa,” ujarnya.
Andhika menilai apabila seseorang hanya berfokus pada nominal cicilan, keputusan finansial dapat dipengaruhi berbagai bias yang pada akhirnya merugikan diri sendiri. “Karena kalau tidak pasti kita akan ke dalam bias-bias yang merugikan diri sendiri,” katanya.
Paylater dan Ilusi Kemudahan
Perubahan cara pandang tersebut juga membuat penawaran paylater terasa lebih mudah diterima konsumen. Menurut Andhika, bisnis pemberian pinjaman memang memiliki daya tarik kuat karena manusia cenderung lebih memperhatikan manfaat yang diperoleh saat menerima pinjaman dibandingkan kewajiban yang harus dikembalikan.
“Sebagian besar orang tidak memikirkan bagaimana bayarnya. Sebagian besar tidak akan berpikir itu,” ujar dia.
“Sebagian besar berpikir, wah saya akan dapat pinjaman,” lanjut Andhika.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Daya Beli Lesu, Masyarakat Putuskan Belanja Cuma Saat Ada Diskon
Paylater Jadi Bantalan Konsumsi Masyarakat
Mengapa Paylater Semakin Populer?
OJK Waspadai Kredit Macet Multifinance
Kredit Macet Paylater Melonjak, OJK Sebut Kemampuan Bayar Debitur Menurun
Money Lab 11 menit yang lalu BNPL Ubah Cara Pandang Orang tentang Utang BNPL mengubah cara pandang terhadap harga dan utang. Financial planner mengingatkan konsumen agar tak hanya melihat cicilan.
Market 18 menit yang lalu Saham Bank Mandiri (BMRI) Malah Kebanjiran Dana Saham Bank Mandiri (BMRI) mencatat net buy asing Rp 580 miliar dalam sepekan. Saham BMRI direkomendasikan beli, target hingga Rp 6.200.
Lifestyle 1 jam yang lalu RI Bidik 4 Emas di Asian Games 2026 Menpora) Erick Thohir menargetkan empat medali emas dalam kepesertaan Indonesia di ajang Asian Games 2026.
Market 2 jam yang lalu Indosat (ISAT) Terdongkrak AI, Ada Proyek Jumbo, Potensi Cuan Sahamnya 35% Bisnis AI melalui Zankore mengangkat prospek Indosat. BRI Danareksa menaikkan target harga saham ISAT menjadi Rp 3.430.
Business 2 jam yang lalu IBM Dorong Developer Indonesia Manfaatkan AI untuk Dongkrak Ekonomi Digital IBM Indonesia memperkenalkan IBM Bob, platform pengembangan berbasis agentic AI yang dapat membantu developer untuk berinovasi lebih cepat.
Market 2 jam yang lalu Arah Harga Minyak Pekan Depan, Ada Sentimen Penentu Pengamat komoditas memprediksi harga minyak dunia bergerak fluktuatif, seiring perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur.
Tag Terpopuler
Terpopuler
Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 29 Agustus 2026, Cek Rinciannya
Wakil Direktur Utama GoTo Catherine Hindra Sutjahyo Mengundurkan Diri
Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 30 Agustus 2026, Cek Rinciannya
Penulis : Prisma Ardianto 30 Aug 2026 | 16:25 WIB
Menurut dia, kondisi tersebut membuat penawaran pinjaman dengan bunga yang terlihat rendah dapat terasa menarik bagi konsumen. Padahal, pengguna tetap memiliki kewajiban untuk mengembalikan dana yang telah digunakan.
“Makanya kalau Bapak/Ibu yang selain mahasiswa di sini mendapat pinjaman dari kantor dengan bunga rendah, pasti disikat. Senang banget. Kenapa? Karena itu kembali ke nature manusia. Oh saya akan dapat pinjaman. Bukan berpikir saya harus mengembalikan uangnya,” tuturnya.
Andhika menegaskan, paylater pada dasarnya merupakan mekanisme “beli dulu, bayar nanti”. Karena itu, kemudahan memperoleh fasilitas tersebut tidak seharusnya membuat seseorang mengabaikan kemampuan membayar.
“Paylater ya simple, pinjaman. Beli dulu bayar nanti. Memang berbeda dengan pinjaman daring atau pinjaman online, skemanya, tetapi berbeda prinsipnya adalah beli dulu bayar nanti,” katanya.
Jangan Hanya Lihat Cicilan Bulanan
Andhika mengingatkan bahwa utang seharusnya hanya digunakan ketika seseorang memiliki kemampuan untuk membayarnya. Prinsip tersebut menurut dia berlaku bukan hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi individu.
Ia menilai masalah muncul ketika penggunaan paylater tidak dihitung dan direncanakan sejak awal. Dalam kondisi tersebut, konsumen berpotensi mengambil kewajiban yang berada di luar kemampuan finansialnya.
“Sebagian besar paylater yang ada di Indonesia yang dikonsumsi oleh masyarakat itu tidak dihitung, tidak direncanakan sehingga tidak bisa dikembalikan. That's the problem. Itu problem utama,” ujar Andhika.
Menurut dia, prinsip tersebut perlu dipahami terutama oleh generasi muda yang semakin mudah mengakses berbagai fasilitas kredit melalui platform digital. Andhika juga mengingatkan agar konsumen tidak menggunakan utang hanya untuk mengejar gaya hidup. Menurut dia, mengejar tampilan kekayaan dengan menggunakan utang dapat membuat pertimbangan rasional seseorang terganggu.
Pada akhirnya, Andhika menilai paylater bukan instrumen yang secara otomatis buruk. Penggunaannya kembali kepada kemampuan finansial masing-masing individu dan apakah kewajiban tersebut dapat dipenuhi tanpa merusak kondisi keuangan.
Dia bilang, hal terpenting bagi seseorang yang mempertimbangkan utang adalah mengetahui batas kemampuan finansialnya. Jika kemampuan membayar tidak memadai, maka pilihan paling aman adalah tidak mengambil utang tersebut.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), layanan paylater di perbankan tercatat mencapai baki debet kredit mencapai Rp 30,7 triliun per Juni 2026, tumbuh subur sebesar 33,54% year on year (yoy). Dari nilai tersebut, terdapat sebanyak 32,77 juta rekening BNPL.
Perkembangan yang sama juga dicatatkan paylater yang diselenggarakan oleh perusahaan pembiayaan. Layanan ini dilaporkan mencapai Rp 13,40 triliun atau meningkat 57,02% yoy per Juni 2026. Secara kualitas, rasio pinjaman macet (non-performing financing/NPF) sebesar 3,09%.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow