BNPL Makin Marak Konsumen Diimbau Tahu Diri Sebelum Gunakan Paylater
Penulis : Prisma Ardianto 30 Aug 2026 | 19:29 WIB
Warga melihat barang dagangan melalui perangkat elektronik pada aplikasi platform niaga elektronik (e-commerce) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)
JAKARTA, investor.id – Kemudahan layanan buy now, pay later (BNPL) atau paylater membuat masyarakat semakin mudah membeli barang dan membayarnya secara mencicil. Namun, sebelum memanfaatkan fasilitas tersebut, konsumen dinilai perlu memiliki satu kemampuan penting, yakni “tahu diri” terhadap kondisi keuangannya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), layanan paylater di perbankan tercatat mencapai baki debet kredit mencapai Rp 30,7 triliun per Juni 2026, tumbuh subur sebesar 33,54% year on year (yoy). Dari nilai tersebut, terdapat sebanyak 32,77 juta rekening BNPL.
Perkembangan yang sama juga dicatatkan paylater yang diselenggarakan oleh perusahaan pembiayaan. Layanan ini dilaporkan mencapai Rp 13,40 triliun atau meningkat 57,02% yoy per Juni 2026. Secara kualitas, rasio pinjaman macet (non-performing financing/NPF) sebesar 3,09%.
Perencana keuangan, Andhika Diskartes, mengatakan bahwa penggunaan paylater seharusnya disesuaikan dengan kemampuan seseorang dalam memenuhi kewajiban pembayaran. Jangan sampai kemudahan mendapatkan barang justru membuat konsumen mengambil beban utang di luar kapasitas finansial.
“Sebetulnya kalian lumayan punya wisdom, sudah punya level wisdom yang lumayan ngerti: Tahu diri. Karena orang yang tidak tahu diri, dia akan makan sebanyak apa pun yang dia kasih,” ujar Andhika dalam talkshow Money Lab, seperti ditukil pada Minggu (30/8/2026).
Menurut dia, prinsip tersebut dapat diterapkan dalam penggunaan utang jenis apa pun. Seseorang perlu mengetahui batas kemampuan finansialnya sebelum memutuskan mengambil cicilan.
“Penting untuk kita bisa makan sesuatu yang bisa kita makan saja. Kadang-kadang paylater itu kita makan di luar kemampuan yang bisa kita makan. Jatuhnya kita sakit sendiri,” katanya.
Andhika menjelaskan, masalah dalam penggunaan paylater bukan semata-mata terletak pada fasilitas pembiayaannya. Persoalan muncul ketika seseorang tidak menghitung kemampuan pembayaran sebelum melakukan transaksi.
Paylater memungkinkan konsumen memperoleh barang terlebih dahulu dan membayar kemudian. Skema tersebut dapat terlihat ringan karena pembayaran dibagi ke dalam sejumlah cicilan.
Namun, kemampuan membayar tetap menjadi pertimbangan utama. Menurut Andhika, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri apakah cicilan tersebut benar-benar sanggup dibayar hingga lunas.
“Kira-kira kalau pakai paylater, kira-kira saya kuat bayarnya? Kalau tidak, ya sudah tidak usah,” tegasnya.
Ia menilai prinsip tersebut perlu ditanamkan sejak seseorang mulai mengenal berbagai produk keuangan. Kemudahan akses kredit tanpa dibarengi kemampuan mengelola kewajiban justru dapat membawa seseorang masuk ke pusaran utang.
“Jangan sentuh utang kalau gak ngerti cara bayarnya,” ujar Andhika.
Andhika juga meminta masyarakat tidak mudah menganggap seluruh barang yang ingin dibeli sebagai kebutuhan. Kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi bagian penting dari pengelolaan keuangan.
Ia mencontohkan seseorang yang ingin mengganti laptop untuk kebutuhan kuliah, meskipun laptop yang dimiliki masih berfungsi dengan baik. Dalam kondisi tersebut, pembelian laptop baru belum tentu merupakan kebutuhan mendesak.
Contoh lain adalah membeli telepon seluler baru karena ingin memiliki perangkat tambahan untuk membuat konten, padahal perangkat yang dimiliki masih dapat digunakan. Menurut Andhika, keputusan seperti itu perlu dievaluasi terlebih dahulu sebelum dibiayai dengan cicilan.
“Kadang-kadang kita beranggapan bahwa ini kebutuhan yang mendesak untuk gue nugas. Tapi sebetulnya itu konsumtif karena memang masih bisa dipakai,” katanya. Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menggunakan paylater hanya karena pembayaran bulanannya terlihat kecil.
Cicilan Kecil Bukan Berarti Murah
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Paylater Bukan Jebakan, Tapi Opsi yang Tak Perlu Diambil
Utang Karena FOMO, Apa Boleh?
BNPL Ubah Cara Pandang Orang tentang Utang
Daya Beli Lesu, Masyarakat Putuskan Belanja Cuma Saat Ada Diskon
Paylater Jadi Bantalan Konsumsi Masyarakat
Money Lab 1 menit yang lalu Pakai Paylater Harus “Tahu Diri” Perencana keuangan mengingatkan pengguna paylater untuk “tahu diri”, dengan menghitung lebih dulu kemampuan bayar sebelum berutang.
Market 26 menit yang lalu Yield SUN Mulai Menarik Yield SUN 10 tahun di sekitar 7% mulai menarik untuk akumulasi, tetapi reli besar masih tertahan kebutuhan SBN dan faktor eksternal.
Business 49 menit yang lalu Kementan: 3.233 Hektare Sawah Diselamatkan dari Kekeringan Akibat El Nino Kementan mencatat 3.233 hektare sawah terdampak kekeringan El Nino di Lamongan telah teraliri air, dari total 3.450 hektare lahan.
Money Lab 1 jam yang lalu Paylater Bukan Jebakan, Tapi Opsi yang Tak Perlu Diambil Perencana keuangan sebut paylater tidak untuk dimusuhi, tetapi juga tidak menjadikannya sebagai pilihan otomatis ketika membeli sesuatu.
Finance 1 jam yang lalu Pinjol, Disayang Lalu Dibenci Per Juni 2026, outstanding pembiayaan pindar mencapai Rp105,14 triliun, melesat 25,88% secara tahunan (yoy).
Market 2 jam yang lalu Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Senin 31 Agustus 2026 Harga emas Antam (ANTM) diprediksi bergerak ke level ini pada Senin, 31 Agustus 2026.
Tag Terpopuler
Terpopuler
Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 29 Agustus 2026, Cek Rinciannya
Wakil Direktur Utama GoTo Catherine Hindra Sutjahyo Mengundurkan Diri
Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 30 Agustus 2026, Cek Rinciannya
Penulis : Prisma Ardianto 30 Aug 2026 | 19:29 WIB
Andhika menerangkan, mekanisme cicilan dapat mengubah cara seseorang melihat harga sebuah barang. Barang senilai Rp 5 juta, misalnya, dapat terasa lebih terjangkau ketika pembayaran dibagi menjadi 10 kali cicilan sebesar Rp 500 ribu.
Padahal, nilai barang yang dibeli tetap Rp 5 juta. Perubahan nominal yang terlihat setiap bulan dapat membuat konsumen merasa memiliki kemampuan membeli lebih besar daripada kondisi sebenarnya.
“Ketika ada mekanisme dicicil, let's say 10 kali, jadinya Rp500 ribu. Jadinya berasa kecil,” ujar Andhika.
Menurut dia, kondisi tersebut berkaitan dengan accounting bias, ketika seseorang lebih mudah memperhatikan angka cicilan dibandingkan total nilai transaksi. Karena itu, “tahu diri” dalam menggunakan paylater berarti tidak hanya melihat apakah cicilan bulan ini terlihat ringan. Konsumen juga perlu menghitung seluruh kewajiban yang sudah dimiliki serta kemampuan pendapatan untuk membayarnya.
Andhika menegaskan, siapa pun yang sudah memiliki utang harus bertanggung jawab menyelesaikannya. Prinsip tersebut berlaku baik untuk utang kepada penyedia paylater maupun kepada pihak lain.
“Kalau kamu punya pinjaman, baik itu ke paylater atau ke orang lain, kamu harus selesaikan,” katanya.
Menurut dia, pembayaran kewajiban sebaiknya dilakukan sebelum jatuh tempo. Kebiasaan membayar utang tepat waktu penting karena menunjukkan tanggung jawab seseorang dalam mengelola keuangan.
“Kalau tanggal 10 jatuh tempo, selesaikan sebelumnya,” ujar Andhika.
Ia menilai persoalan utang tidak semata-mata berkaitan dengan kemungkinan pengaruhnya terhadap akses kredit di masa depan. Lebih dari itu, kebiasaan memenuhi kewajiban akan membentuk reputasi seseorang.
“Reputasi kamu sebagai orang muda itu adalah hal yang paling mahal yang akan dimiliki,” katanya.
Andhika turut mengingatkan generasi muda agar tidak menggunakan utang untuk mengejar standar gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Menurut dia, perkembangan digital membuat masyarakat semakin mudah terpapar berbagai gaya hidup dan terdorong untuk memilikinya.
Dorongan tersebut dapat menjadi persoalan apabila seseorang memaksakan diri membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan atau tidak sesuai kemampuan finansial. “Di era sekarang ketika orang harus pamer kekayaan sekian, itu sangat berbahaya ketika kita mengejar itu dengan utang. Karena rasional sudah tidak jalan,” ujar Andhika.
Ia mengatakan seseorang tidak perlu memperbesar hal-hal yang sebenarnya tidak memengaruhi kualitas hidup. Bagi mahasiswa, misalnya, kebutuhan utama tetap berkaitan dengan makan, tidur, belajar, dan menjaga kualitas berpikir.
“Ketika quality of life kita masih terjaga, berarti itu belum ada kewajiban untuk menggunakan,” katanya.
Andhika menambahkan, kemampuan mengatakan “tidak” terhadap keinginan membeli sesuatu merupakan bagian penting dari kesehatan finansial. Paylater boleh menjadi pilihan, tetapi pengguna harus terlebih dahulu memahami batas kemampuan dirinya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow