FOMO dan Risiko Utang Akibat Paylater di Era Digital
Penulis : Prisma Ardianto 30 Aug 2026 | 17:27 WIB
Ilustrasi pinjaman digital. (Investor Daily/Prisma Ardianto)
JAKARTA, investor.id – Fear of missing out (FOMO) atau rasa takut tertinggal dari tren dinilai sebagai hal yang wajar di era digital. Namun, ketika dorongan mengikuti tren membuat seseorang membeli barang di luar kemampuan finansial dan mengandalkan paylater, FOMO justru dapat berubah menjadi jebakan utang.
Perencana keuangan, Andhika Diskartes, mengatakan bahwa FOMO pada dasarnya bukan persoalan selama masih dalam batas kewajaran dan tidak mengganggu kondisi keuangan. Persoalan muncul ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan kebutuhan dan keinginan.
“FOMO itu kalau di level seperti itu saya rasa sangat-sangat wajar. Jadi itu bukan hal yang menakutkan sebetulnya,” ujar Andhika dalam talkshow Money Lab, seperti dikutip pada Minggu (30/8/2026).
Menurut dia, keinginan mengikuti tren makanan, olahraga, traveling, atau aktivitas hiburan lainnya masih dapat ditoleransi selama tidak membuat kondisi keuangan terganggu. Sebaliknya, FOMO menjadi masalah ketika seseorang terdorong membeli barang bernilai besar hanya karena terpapar konten di media sosial.
“Isu besarnya ketika FOMO itu di luar batas,” katanya.
Andhika mencontohkan perilaku mahasiswa yang ingin mengganti laptop meski perangkat yang dimiliki masih berfungsi dengan baik. Keinginan tersebut kerap dibungkus dengan alasan kebutuhan untuk mengerjakan tugas atau sebagai bentuk self-reward.
Padahal, menurut dia, keputusan tersebut belum tentu merupakan kebutuhan yang mendesak. Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang membeli ponsel baru atau barang lain hanya karena mengikuti gaya hidup yang ditampilkan di media sosial.
“Kalau FOMO cuma makanan it's okay. Cuma kalau FOMO-nya pengen punya, misalnya ya, karena terpapar konten terus pengen punya kendaraan bermotor, terus harus yang aneh-aneh, itu baru problem. ” ujarnya.
Andhika menilai persoalan menjadi semakin kompleks karena mekanisme paylater membuat beban pembelian terlihat lebih ringan. Konsumen tidak lagi melihat harga barang secara utuh, melainkan hanya nominal cicilan yang harus dibayar setiap bulan.
Ia menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan accounting bias, yakni kecenderungan seseorang melihat nominal yang lebih kecil sebagai sesuatu yang lebih mudah ditanggung.
“Kalau misalnya teman-teman di sini, let's say beli produk harga Rp 5 juta. Mungkin berasa mahal karena harus langsung bayar. Kemudian ketika ada mekanisme dicicil, let's say 10 kali, jadinya Rp 500 ribu. Jadinya berasa kecil,” kata Andhika.
Dari ilustrasi itu, dia mengingatkan bahwa meski nominal pembayaran terlihat lebih rendah, nilai barang yang dibeli sesungguhnya tetap sama. Perubahan cara melihat angka tersebut dapat membuat seseorang merasa mampu membeli barang yang sebenarnya berada di luar kemampuan finansialnya.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya melihat besarnya cicilan ketika menggunakan paylater. Kemampuan membayar secara keseluruhan harus menjadi pertimbangan utama sebelum mengambil utang.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), layanan paylater di perbankan tercatat mencapai baki debet kredit mencapai Rp 30,7 triliun per Juni 2026, tumbuh subur sebesar 33,54% year on year (yoy). Dari nilai tersebut, terdapat sebanyak 32,77 juta rekening BNPL.
Perkembangan yang sama juga dicatatkan paylater yang diselenggarakan oleh perusahaan pembiayaan. Layanan ini dilaporkan mencapai Rp 13,40 triliun atau meningkat 57,02% yoy per Juni 2026. Secara kualitas, rasio pinjaman macet (non-performing financing/NPF) sebesar 3,09%.
Jangan Terjebak Gaya Hidup
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
BNPL Ubah Cara Pandang Orang tentang Utang
WIKA Pangkas Utang Hingga Rp 2,15 Triliun, Ini Rinciannya
Pemerintah Targetkan Penarikan Utang hingga Rp 876,3 Triliun pada 2027
Tumbuh 12,65%, Realisasi Utang Pemerintah Tembus Rp 10.293,69 Triliun
Money Lab 3 menit yang lalu Utang Karena FOMO, Apa Boleh? FOMO dinilai wajar, tetapi bisa menjadi jebakan utang jika mendorong belanja di luar kemampuan dan mengandalkan paylater.
Business 20 menit yang lalu Danantara Housing Expo Perkuat Ekosistem Hunian IFG memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Danantara Housing Expo 2026.
Business 45 menit yang lalu Strict Liability Karhutla Tetap Perlu Pembuktian Penerapan prinsip strict liability dalam masalah Kahurtla perlu disertai pembuktian
Money Lab 1 jam yang lalu BNPL Ubah Cara Pandang Orang tentang Utang BNPL mengubah cara pandang terhadap harga dan utang. Financial planner mengingatkan konsumen agar tak hanya melihat cicilan.
Market 1 jam yang lalu Saham Bank Mandiri (BMRI) Malah Kebanjiran Dana Saham Bank Mandiri (BMRI) mencatat net buy asing Rp 580 miliar dalam sepekan. Saham BMRI direkomendasikan beli, target hingga Rp 6.200.
Tag Terpopuler
Terpopuler
Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 29 Agustus 2026, Cek Rinciannya
Wakil Direktur Utama GoTo Catherine Hindra Sutjahyo Mengundurkan Diri
Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 30 Agustus 2026, Cek Rinciannya
Penulis : Prisma Ardianto 30 Aug 2026 | 17:27 WIB
Andhika juga mengingatkan bahwa perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memandang gaya hidup. Konten influencer, iklan digital, hingga kemudahan transaksi membuat seseorang semakin mudah terdorong untuk mengikuti tren.
Menurut dia, persoalan bukan terletak pada produk paylater semata, melainkan pada bagaimana konsumen menggunakan fasilitas tersebut. “Bukan paylater-nya yang problematik, tetapi bagaimana manusianya memandang itu,” ujarnya.
Ia menegaskan, utang seharusnya hanya digunakan ketika seseorang memiliki kemampuan untuk mengembalikannya. Prinsip tersebut berlaku bagi individu dan bahkan suatu perusahaan sekalipun.
“Prinsipnya adalah gak usah sentuh utang kalau gak ngerti cara bayarnya,” kata Andhika.
Ia juga mengingatkan mahasiswa dan generasi muda agar tidak mengejar standar kekayaan atau gaya hidup dengan utang. Menurut dia, dorongan untuk terlihat kaya dapat membuat pertimbangan rasional semakin berkurang.
“Di era sekarang ketika orang harus pamer kekayaan sekian, itu sangat berbahaya ketika kita mengejar itu dengan utang. Karena rasional sudah tidak jalan,” ujarnya.
Andhika mengutip prinsip investasi yang pernah disampaikan Charlie Munger, yakni tiga hal yang dapat merusak investor, salah satunya adalah leverage atau utang, selain alkohol dan nafsu.
Jangan Sampai FOMO Jadi Utang
Lebih lanjut, Andhika mengatakan rasional atau tidaknya penggunaan utang seperti paylater sangat bergantung pada kemampuan finansial masing-masing individu. Selama pembelian tersebut tidak mengganggu kemampuan membayar kewajiban, keputusan itu masih memiliki dasar rasional.
Andhika menilai literasi keuangan menjadi kunci agar kemudahan akses kredit tidak berubah menjadi persoalan keuangan. Konsumen perlu memahami bahwa kemudahan checkout dan cicilan kecil tidak menghapus kewajiban untuk membayar.
Ia juga mengingatkan generasi muda untuk membangun kebiasaan bertanggung jawab terhadap setiap kewajiban finansial. Jika sudah memiliki utang, pembayaran harus menjadi prioritas.
“Kalau kamu punya pinjaman, baik itu ke paylater atau ke orang lain, kamu harus selesaikan. Kalau tanggal 10 jatuh tempo, selesaikan sebelumnya,” tegasnya.
Menurut Andhika, persoalan utang bukan hanya berkaitan dengan catatan kredit, tetapi juga membentuk reputasi dan kebiasaan seseorang. “Reputasi kamu sebagai orang muda itu adalah hal yang paling mahal yang akan dimiliki,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketika seseorang belum memiliki banyak uang, aset penting yang dimiliki adalah waktu dan nama baik. Karena itu, keduanya harus dijaga sejak dini. Pada akhirnya, Andhika menilai paylater bukan sepenuhnya merupakan jebakan, tetapi juga bukan solusi yang harus selalu digunakan.
“Paylater itu adalah opsi tapi yang tidak perlu diambil. Paylater itu bukan jebakan, karena itu akan terlalu naif kalau kita bilang itu jebakan, bukan juga solusi, tapi sebagai opsi yang menurut saya tidak perlu diambil,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow