Netanyahu Kunjungi Washington di Tengah Ketegangan Hubungan dengan Trump
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan ke Washington pada Selasa untuk bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Langkah ini diambil di tengah menurunnya pengaruh politik Netanyahu di dalam negeri menjelang pemilu Oktober dan sidang kasus korupsi.
Kunjungan ini menjadi pertemuan pertama Netanyahu dengan Trump sejak perang di Iran dimulai. Lawatan tersebut dilakukan di tengah stagnasi konflik wilayah, kritik publik Amerika Serikat, serta manuver diplomatik Washington di Timur Tengah tanpa keterlibatan penuh pihak Israel.
Hubungan kedua pemimipin memburuk akibat dugaan peran Netanyahu dalam meyakinkan AS terkait penggulingan pemerintah Iran, tindakan pemukim Israel terhadap senator AS, serta rencana penjualan jet F-35 ke Turki dan kerja sama nuklir AS-Arab Saudi.
Mantan Duta Besar Israel untuk AS Alon Pinkas menilai agenda resmi kunjungan tersebut hanyalah dalih politik dari Netanyahu.
"Sebab nyata Netanyahu melakukan kunjungan [ke Washington] ini murni sinis," kata Alon Pinkas, mantan duta besar dan konsul jenderal Israel di New York, kepada Al Jazeera.
Pinkas menambahkan bahwa ada isu strategis yang seharusnya dibahas dalam pertemuan resmi tersebut.
"Seharusnya ada agenda, seharusnya mereka akan berbicara tentang Iran, F-35, dan potensi kesepakatan nuklir Arab Saudi," kata Pinkas.
Namun, menurut Pinkas, fokus utama Perdana Menteri Israel dalam lawatan kali ini tetap terkait situasi politik dalam negeri.
"Namun sebenarnya ini tentang dua hal: berharap dapat meyakinkan sekutu dan pengkritik di dalam Israel bahwa hubungan dengan Trump tetap terjaga dan, secara terpisah, berharap Trump akan kembali menyerukan pengampunannya dalam sidang korupsi," tambah Pinkas, merujuk pada intervensi Trump pada November 2025.
Kunjungan Netanyahu juga diwarnai kritik dari figur sayap kanan AS seperti Tucker Carlson, Marjorie Taylor Greene, hingga Wakil Presiden JD Vance yang menuding adanya pihak di Israel yang mencoba menggagalkan kesepakatan damai dengan Iran.
Analis keamanan Israel Ahron Bregman menilai posisi diplomatik Netanyahu di AS telah mengalami penurunan signifikan.
"Netanyahu tiba di Washington saat banyak orang di sekitar [Trump] merasa curiga padanya. Dia telah menjadi toksik di AS," kata Ahron Bregman, analis keamanan Israel dan pengajar senior di King’s College London.
Bregman menambahkan bahwa persepsi publik Amerika terhadap peran Netanyahu dalam konflik kawasan telah berubah.
"Dia dianggap di AS – secara benar atau salah – sebagai sosok yang menyeret Trump ke dalam perang pilihan yang berubah menjadi bencana strategis. Tidak ada seorang pun, bahkan Trump, yang akan membiarkannya berpura-pura menjadi orang terpintar di ruangan itu. Hari-hari itu sudah berlalu," ujar Bregman.
Kritik terhadap kepemimpinan Netanyahu juga datang dari kalangan internal dan mantan pejabat politik Israel sendiri.
"Netanyahu memiliki rekam jejak yang luar biasa dengan AS, tetapi dia telah membakar banyak jembatan," kata Mitchell Barak, lembaga survei Israel dan mantan asisten Netanyahu tahun 1990-an, kepada Al Jazeera.
Barak menyoroti keterbatasan dukungan politik dari Presiden AS dalam momentum pemilu mendatang.
"Kita telah melihat ketegangan melalui komentar Trump tentang berbagai penjualan F-35, termasuk yang terbaru ke Turki, serta kritik AS terhadap Netanyahu di awal perang Iran, jadi saya tidak terlalu yakin apakah Trump bakal mendukung Netanyahu lebih lama lagi," kata Barak.
Menurut Barak, terdapat kemungkinan pergantian arah dukungan politik AS terhadap kepemimpinan di Israel.
"Bisa saja Trump menyatakan Netanyahu adalah pemimpin perang yang hebat, tetapi sudah waktunya bagi Israel untuk bangkit, sebelum bertemu dengan [politisi Israel lainnya] dan mendukung perdana menteri baru untuk Israel," ujar Barak.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow