Mendiktisaintek Brian Yuliarto Dorong Psikologi Lebih Mudah Diakses untuk Semua Kalangan

Smallest Font
Largest Font

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menilai ilmu psikologi sangat penting dan perlu diakses oleh semua lapisan masyarakat, termasuk remaja dan mahasiswa. Pernyataan ini disampaikan pada Seminar Nasional Fakultas Psikologi Universitas Indonesia di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Brian mengungkapkan bahwa informasi psikologi saat ini kerap menggunakan istilah sulit sehingga tidak mudah dipahami. Ia menilai perlu ada penyampaian ilmu psikologi dengan bahasa yang ringan agar lebih dekat dengan masyarakat.

Menurut Brian, materi psikologi yang ringan membantu mereka yang mengalami masalah tapi enggan berkonsultasi secara langsung karena rasa malu atau takut dinilai orang lain, terutama mahasiswa di kampus.

"Bagaimana membangun psikologi apa ya, ilmu-ilmu psikologi yang ringan mungkin dibaca," ujar Brian. "Apalagi di kampus ya, mahasiswa itu kalau sudah datang ke ruang psikolog ya atau ruang BK itu, wah masalah tuh, gitu kan ya. Takut, jadi mahasiswa juga malu-malu," tambahnya.

Dekan Fakultas Psikologi UI, Dicky C Palupessy, mengakui kesan psikologi sebagai ilmu yang sulit dipahami oleh publik karena istilah yang rumit. Namun, Dicky menilai generasi muda kini mulai sadar pentingnya kesehatan mental, terlihat dari penggunaan istilah populer seperti healing dan trauma.

"Orang muda itu kan mereka sekarang sudah terbiasa ya, menggunakan istilah healing, kesehatan mental, dan bahkan kadang-kadang kan digunakan secara populer, misalnya trauma, ada bipolar disorder, gitu-gitu. Nah, ini kan sebenarnya menunjukkan psikologi itu mulai dikenal," ujar Dicky.

Data menunjukkan tren peningkatan kesadaran kesehatan mental di kalangan anak muda perkotaan. Namun, Dicky menyoroti keterbatasan tenaga psikolog dan kurangnya informasi psikologi yang mudah diakses di berbagai daerah.

"Sehingga memang ya itu tantangan ya, tadi disampaikan oleh Pak Menteri kepada kita, kepada kami, kalau kita perlu membuat psikologi itu, informasinya, edukasinya itu, makin mudah diakses dengan sesuatu yang memang dekat dengan kehidupan masyarakat ya, terutama kalau kita bicara anak muda," tegas Dicky.

Menanggapi hal ini, Brian meminta psikolog dan ahli psikologi membuat terobosan berupa konten edukasi dan buku psikologi yang mudah dipahami oleh anak-anak dan remaja untuk membangun kapasitas diri secara psikologis.

"Jadi mereka seolah-olah membaca buku yang santai, ringan, tetapi sebenarnya membangun kapasitas diri dari sisi psikologis," ungkap Brian.

Brian juga mengusulkan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) mengadakan sayembara penyusunan buku psikologi untuk Gen Z dengan bahasa ringan dan topik yang relevan, seperti kesuksesan karier dan kepemimpinan transformatif.

"Mungkin bisa diadakan ini Pak, lomba, sayembara penyusunan buku untuk Gen Z tentang psikologi, tapi bukan Pengantar Ilmu Psikologi. Jangan, nggak ada yang baca," pesan Brian. "Contohnya, bagaimana sukses karier, gitu-gitu kira-kira bahasanya, menuju kepemimpinan transformatif, kira-kira yang begitu, tapi tidak terlalu berat, yang ringan.

Kayak Atomic Habits itu menurut saya ringan ya dia, sehingga semua orang akhirnya baca. Gak hanya orang-orang kelompok tertentu," tambahnya lagi.

Berita ini dilansir dari Detikcom.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed