Mahasiswa Rentan Mengalami Burnout Akademik Menurut Hasil Studi UI

Smallest Font
Largest Font

Ekspektasi masa kuliah yang menyenangkan sering kali berbanding terbalik dengan kenyataan yang dihadapi para mahasiswa. Tekanan jadwal kelas, organisasi, praktikum, hingga tugas akhir kerap membuat stamina fisik serta mental mereka terkuras habis. Kondisi kehilangan semangat belajar meski tetap rutin masuk kuliah dan meraih IPK memadai ini dikenal sebagai burnout akademik.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh peneliti dari Laboratorium Learning, Education and School Wellbeing Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dilansir dari Detikcom. Fenomena ini berbeda dari kelelahan fisik biasa yang bisa pulih setelah beristirahat atau tidur cukup. Burnout berlangsung dalam jangka panjang serta memengaruhi cara pandang mahasiswa terhadap proses studi dan masa depannya.

Mengacu pada kerangka Maslach Burnout Inventory-Student Survey yang dikembangkan Wilmar Schaufeli pada 2002, terdapat tiga indikator utama dari kondisi ini. Pertama adalah kelelahan emosional akibat tingginya tuntutan perkuliahan.

Indikator kedua berupa sinisme akademik, yakni munculnya sikap apatis dan menarik diri dari aktivitas kampus. Adapun indikator ketiga adalah penurunan efikasi diri atau hilangnya keyakinan mampu menyelesaikan kewajiban akademik. Di Indonesia, instrumen ukur khusus telah disesuaikan dengan konteks lokal. Tekanan sistem SKS, tuntutan keluarga, kegiatan organisasi, dan target kelulusan menjadi variabel penting yang memengaruhi mental mahasiswa.

Tingkat Prevalensi Burnout di Tingkat Lokal dan Global

Riset terhadap 250 mahasiswa keperawatan di sebuah perguruan tinggi negeri menunjukkan bahwa stres dan depresi menjadi pemicu dominan. Mahasiswa tahun keempat tercatat mengalami tingkat burnout paling tinggi karena menanggung beban kelulusan serta kecemasan dunia kerja. Penelitian lain pada 105 mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia menemukan 73,3 persen responden mengalami burnout tingkat sedang. Kelelahan dan sikap sinis menjadi aspek yang paling menonjol.

Secara global, meta-analisis terhadap 28.000 mahasiswa dari 24 negara berkembang mencatat angka prevalensi sebesar 12,1 persen. Risiko pada mahasiswa pascasarjana mencapai 29,2 persen, jauh lebih tinggi ketimbang mahasiswa sarjana sebesar 9,1 persen. Studi berskala besar yang melibatkan puluhan ribu mahasiswa turut membuktikan bahwa fenomena ini berdampak langsung pada penurunan prestasi. Kondisi tersebut juga meningkatkan dorongan untuk berhenti dari perkuliahan.

Faktor Pemicu dan Tanda yang Perlu Diwaspadai

Penumpukan beban perkuliahan, praktikum, magang, dan organisasi dalam satu waktu menjadi faktor utama. Ketidakseimbangan antara tuntutan studi dengan umpan balik dosen maupun fleksibilitas belajar turut memperparah keadaan.

Faktor lain mencakup stres digital akibat paparan notifikasi tugas yang tiada henti, keterasingan dari lingkungan kampus, serta minimnya dukungan sosial. Mahasiswa yang mengalami burnout kerap menunjukkan gejala fisik seperti migrain, gangguan tidur, dan prokrastinasi.

Langkah Penanganan dan Peran Lembaga Kampus

Langkah awal pemulihan dapat dimulai dengan membangun resiliensi akademik dan menetapkan target belajar yang realistis. Mengembalikan makna belajar serta memanfaatkan jejaring dukungan sosial dari teman, keluarga, maupun mentor juga sangat membantu.

Mahasiswa disarankan tidak ragu mengakses layanan konseling kampus saat merasakan gejala lelah berkepanjangan. Di sisi lain, pihak perguruan tinggi memegang tanggung jawab untuk mengevaluasi beban tugas, perbaikan komunikasi dosen, dan penyediaan fasilitas kesehatan mental yang memadai.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed