Kinerja Emiten Kawasan Industri Semester I-2026 Bervariasi
Rapor keuangan emiten sektor kawasan industri pada semester I-2026 memperlihatkan hasil yang beragam, seperti dilansir dari Investor Daily. Sejumlah perseroan berhasil membukukan kenaikan laba bersih secara signifikan, sementara sebagian lainnya harus menghadapi penurunan performa hingga mencatatkan kerugian. PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan kerugian bersih konsolidasian sebesar Rp6,43 miliar pada paruh pertama 2026.
Kondisi ini berbalik dari capaian periode yang sama tahun sebelumnya yang mencetak laba bersih Rp627 miliar. Kerugian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk KIJA tercatat mencapai Rp177 miliar. Sementara itu, laba untuk kepentingan nonpengendali tergerus menjadi Rp171,44 miliar dari sebelumnya Rp316,90 miliar.
Dari segi komersial, total penjualan dan pendapatan jasa KIJA menyusut dari Rp2,72 triliun menjadi Rp2,43 triliun. Bisnis penjualan tanah matang yang menjadi tumpuan utama melorot dari Rp1,33 triliun menjadi Rp783 miliar, sedangkan pendapatan dari penyewaan ruang perkantoran, pabrik, dan ruko turun dari Rp28,57 miliar menjadi Rp23,99 miliar.
Manajemen KIJA menjelaskan bahwa hasil negatif ini dipicu oleh beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) akibat refinancing Senior Notes dari mata uang dolar AS ke fasilitas pinjaman bank berdenominasi rupiah. Langkah ini memunculkan rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen lindung nilai (hedging), serta percepatan beban amortisasi Senior Notes yang jatuh tempo pada 2027. "Kami terus melihat permintaan yang baik terhadap lahan industri baik di Cikarang maupun Kendal, sembari tetap fokus pada eksekusi yang disiplin di seluruh lini bisnis serta memperkuat basis pendapatan berulang kami," kata Budianto Liman, Wakil Direktur Utama PT Kawasan Industri Jababeka Tbk.
Budianto Liman menambahkan bahwa operasional perusahaan sebenarnya masih menghasilkan keuntungan jika tidak memperhitungkan pos-pos tak berulang tersebut. Selain itu, kontribusi bisnis infrastruktur yang memberikan pendapatan berulang kini telah menyumbang lebih dari separuh pendapatan konsolidasian perusahaan. Koreksi kinerja juga dialami oleh PT Metropolitan Land Tbk (MTLA). Pendapatan perseroan terkikis dari Rp837 miliar pada semester I-2025 menjadi Rp791 miliar pada semester I-2026.
Penurunan pendapatan tersebut memicu pangkasnya laba bersih MTLA yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk dari Rp208 miliar menjadi Rp168 miliar. Laba kepentingan nonpengendali juga merosot dari Rp32 miliar menjadi Rp4,8 miliar, sehingga total laba bersih berjalan MTLA tercatat Rp173 miliar dari sebelumnya Rp241 miliar. Kondisi berbeda ditunjukkan oleh PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) yang berhasil membalikkan keadaan.
Pendapatan usaha perseroan melesat dari Rp2,11 triliun menjadi Rp3,35 triliun pada semester I-2026. Laba usaha SSIA melambung tinggi ke angka Rp633 miliar dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp102 miliar. Setelah memperhitungkan beban dan pajak, SSIA mencetak laba periode berjalan sebesar Rp479 miliar, melompat dari posisi Rp21,13 miliar pada semester I-2025.
Porsi laba pemilik entitas induk berbalik untung menjadi Rp262 miliar dari sebelumnya rugi Rp32,34 miliar.
Langkah impresif turut dicatatkan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) dengan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,80 triliun, atau melonjak nyaris tiga kali lipat dibanding semester I-2025 sebesar Rp613,36 miliar. Sektor industri menjadi penyumbang terbesar mencapai Rp1,75 triliun, disusul hunian Rp19,32 miliar, komersial Rp18,16 miliar, sewa Rp9,47 miliar, serta hotel Rp8,07 miliar.
"Perseroan tidak memiliki utang. Dengan posisi kas bersih yang sehat, kami terus mengembangkan Kota Deltamas untuk mewujudkannya sebagai kawasan terpadu modern di timur Jakarta dengan memadukan kawasan industri, komersial, dan hunian," kata Tondy Suwanto, Direktur dan Sekretaris DMAS. Tondy Suwanto menyebutkan bahwa pusat data (data center) menjadi segmen pelanggan utama yang menopang penjualan lahan industri perusahaan. Lonjakan pendapatan tersebut membuat laba bersih DMAS melesat 175,34% menjadi Rp1,19 triliun pada semester pertama 2026 dari posisi Rp433 miliar pada tahun sebelumnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow