SSIA Raih Laba Bersih Rp262,6 Miliar pada Semester I 2026
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mencatatkan perbaikan kinerja keuangan dengan membukukan laba bersih sebesar Rp262,6 miliar pada semester I-2026. Capaian positif ini berbalik dari kondisi semester I-2025 yang mengalami rugi bersih Rp32,3 miliar, seperti dilansir dari Investor Daily pada Rabu (5/8/2026). Pengakuan penjualan lahan industri di Subang Smartpolitan dan Suryacipta City of Industry Karawang menjadi pemicu utama pertumbuhan tersebut.
Pendapatan konsolidasian perseroan melonjak 58,4 persen secara tahunan dari Rp2,12 triliun menjadi Rp3,35 triliun pada enam bulan pertama 2026. Sektor properti mengalami pertumbuhan pendapatan hingga 274,1 persen menjadi Rp1,27 triliun. Meskipun demikian, lini bisnis konstruksi masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi perseroan dengan nilai mencapai Rp1,70 triliun.
Sektor perhotelan turut menunjukkan kenaikan pendapatan sebesar 113,3 persen menjadi Rp471,1 miliar. Laba bruto perseroan naik 145,9 persen menjadi Rp1,09 triliun, sementara EBITDA melesat 553,2 persen menjadi Rp692,5 miliar dengan margin EBITDA di angka 20,7 persen.
Dari sisi segmentasi, laba bersih bisnis properti melesat menjadi Rp459,3 miliar dari sebelumnya Rp44,9 miliar. Laba bersih unit konstruksi juga tumbuh 21,1 persen menjadi Rp93,2 miliar, sedangkan segmen perhotelan menekan rugi bersih sebesar 20,3 persen menjadi Rp83,8 miliar. Perbaikan kinerja bisnis hotel terdorong oleh peningkatan tingkat hunian dan tarif kamar di Paradisus by Meliá Bali. Kenaikan kinerja tersebut didukung penerapan konsep layanan all-inclusive pada fasilitas resor tersebut.
Hingga akhir Juni 2026, pos kas dan setara kas perseroan tercatat sebesar Rp1,09 triliun. Utang berbunga perseroan berhasil ditekan 3,5 persen menjadi Rp2,27 triliun, sehingga rasio utang terhadap ekuitas tetap terkendali pada tingkat 26,8 persen. Anak usaha perseroan, PT Suryacipta Swadaya, membukukan penjualan pemasaran atau marketing sales sebesar Rp195,9 miliar dari lahan seluas 9,4 hektare. Meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dinilai menjadi pemicu penundaan keputusan ekspansi manufaktur dari sejumlah investor.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow