Investasi Data Center Kerek Prospek Saham DMAS dan SSIA
Geliat investasi pusat data dan ekspansi sektor kendaraan listrik dilaporkan mengerek prospek pertumbuhan emiten kawasan industri di Indonesia, seiring melonjaknya permintaan lahan manufaktur dan infrastruktur digital, seperti dilansir dari Investor Daily pada Senin (31/8/2026).
Analis menilai PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) dan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) mengantongi katalis positif yang cukup kuat untuk melanjutkan tren penguatan saham mereka di pasar modal.
Head of Investment Specialist PT Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah Budiman menjelaskan bahwa rotasi modal pasar yang sebelumnya berfokus pada saham teknologi berbasis kecerdasan buatan kini mulai beralih ke emiten pemilik lahan fisik.
"Ketika kita melihat pergerakan saham yang berhubungan dengan cerita AI dan data center, rotasinya seharusnya berlanjut ke saham-saham yang memiliki lahan industri. Dua nama yang kami garis bawahi adalah DMAS dan SSIA," kata Fath dalam program Tiger Insights Maybank Sekuritas Indonesia pada Senin (31/8/2026).
Kinerja keuangan DMAS mencerminkan dampak langsung dari lonjakan permintaan tersebut dengan membukukan pendapatan usaha sekitar Rp1,8 triliun pada semester I-2026, melesat dari Rp613,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor kawasan industri menyumbang porsi terbesar hingga Rp1,75 triliun, di mana porsi penjualan didominasi oleh perusahaan pusat data seperti PT Digital Gayana Ekagrata, PT Princeton Digital Group, PT Indoedge Real Estate and Data Center, dan PT STT GDC Indonesia.
"Sebagian besar penjualan mereka ke sektor industri memiliki korelasi dengan industri data center. Ini yang membuat narasi DMAS semakin kuat di tengah pertumbuhan kebutuhan data center di Indonesia," ujarnya.
Selain realisasi penjualan, pasar saham juga menyoroti agenda RUPSLB DMAS pada 22 September 2026 serta potensi pembagian dividen. Laba bersih perseroan melonjak 175,34% secara tahunan menjadi Rp1,19 triliun pada semester I-2026 dengan margin laba kotor mencapai 70,81%.
"DMAS ini tipikal dividend play. Hampir semua keuntungannya dibagikan dalam bentuk dividen. Dengan penjualan yang masif dan pendapatan yang naik hampir tiga kali lipat, otomatis ekspektasi terhadap pembayaran dividen juga bisa meningkat," jelas Fath.
Sementara itu, emiten SSIA terdorong oleh peresmian fasilitas pabrik produsen kendaraan listrik BYD di Subang Smartpolitan pada 3 September 2026. Pabrik yang berdiri di lahan seluas 126 hektare tersebut menelan investasi Rp11,7 triliun dengan kapasitas produksi 150.000 unit kendaraan per tahun.
"Sebagai pemilik lahan di Subang Smartpolitan, seharusnya ini menjadi salah satu katalis positif untuk penjualan lahan ke depannya," ujarnya.
Poin krusial lain yang perlu dicermati pelaku pasar menjelang paparan publik SSIA pada 7 September 2026 meliputi ketersediaan sisa cadangan lahan serta kualitas infrastruktur penunjang kawasan.
"Kalau melihat emiten properti yang fokus di lahan industri, yang perlu diperhatikan adalah sisa lahannya berapa. Kemudian apakah infrastrukturnya memadai atau bahkan di atas rata-rata industri," tuturnya.
Peragangan saham Senin (31/8/2026) mencatat harga saham DMAS ditutup pada level Rp204, atau melonjak sekitar 43,66% dalam sebulan terakhir, sedangkan saham SSIA berada di posisi Rp1.900 setelah menguat 17,70% pada periode yang sama.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow