Ketua Umum PBNU Terpilih Gus Kikin dan Rais Aam Miftachus Akhyar
Ketua Umum PBNU terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dan Rais Aam KH Miftachul Akhyar resmi memimpin Nahdlatul Ulama periode 2026-2031 setelah terpilih melalui mekanisme musyawarah mufakat Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar ke-35 di Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026).
Proses pemilihan Ketua Umum PBNU berubah dari sistem kompetitif one man one vote menjadi sistem musyawarah kolektif AHWA yang diisi oleh sembilan kiai sepuh berkompetensi, sebagai solusi untuk menyatukan pandangan beragam di tubuh NU yang sempat mengalami dinamika pada 2025, menurut Prof. Mohammad Nuh, Sekretaris Steering Committee Muktamar ke-35 NU.
Dalam sistem baru ini, setiap cabang mengusulkan sembilan calon anggota AHWA, kemudian dipilih sembilan suara terbanyak sebagai penentu Rais Aam dan Ketum PBNU. Gus Kikin memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan awal dengan 472 suara, dilansir dari detikNews.
Gus Kikin dalam pidato perdananya menyampaikan harapan agar NU menjadi organisasi yang lebih guyub dan bersatu dengan tujuan utama berkhidmah kepada masyarakat serta mewujudkan kemaslahatan umat.
"Termasuk NU juga nanti ke depan menjadi satu organisasi yang lebih guyub, bersatu, dan dengan tujuan yang utama adalah untuk khidmah kepada masyarakat, untuk kemaslahatan umat yang kita miliki," ujar Gus Kikin di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden.
Gus Kikin juga menandatangani Kontrak Jam'iyyah yang berisi komitmen untuk mematuhi kebijakan Rais Aam dan Pengurus Besar Syuriyah serta menjaga transparansi kepemimpinannya selama lima tahun ke depan.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan harapan besar kepada kepemimpinan Gus Kikin dan Miftachul Akhyar agar dapat membawa kebaikan bagi sekitar 90 juta warga Nahdliyin dan umat Islam di Indonesia, serta menjaga NU sebagai pelindung toleransi antarumat beragama.
"Harapan kita NU betul bisa membawa maslahat untuk seluruh umat dan juga sebagai penjaga gerbang utama keagamaan yang ada di Indonesia," kata Sigit di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8).
Sigit juga mengapresiasi kelancaran dan kesuksesan Muktamar ke-35 NU yang berlangsung sejak 27 hingga 31 Agustus 2026, serta berharap keputusan-keputusan yang dihasilkan menjadi fondasi utama organisasi pada periode kepemimpinan baru.
Akademisi Nahdliyin Nadirsyah Hosen berharap Gus Kikin dapat memimpin NU secara kolektif tanpa menjadi pusat kekuatan tunggal dan menjaga independensi organisasi dari kepentingan politik praktis.
"Harapan terbesar saya justru bukan agar Gus Kikin menjadi ketua yang paling kuat, tetapi menjadi ketua yang mampu membuat NU bekerja secara kolektif," ujar Nadirsyah kepada Kompas.com, Senin (31/8).
Ketua PBNU Alissa Wahid menambahkan bahwa Gus Kikin harus segera melakukan rekonsiliasi dan konsolidasi organisasi untuk memulihkan hubungan internal NU pasca-Muktamar, sekaligus membangun kembali kepercayaan publik terhadap NU.
Alissa juga menekankan perlunya menjaga jarak ideal NU dengan pemerintah dan aktor politik agar organisasi tetap independen dan fokus pada pelayanan warga NU serta transformasi jam'iyyah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow