Kementan Periksa 15 Merek Beras Terkait Indikasi Kecurangan Harga
Kementerian Pertanian tengah memeriksa 15 merek beras fortifikasi menyusul temuan indikasi kecurangan pengusaha yang mengalihkan beras premium menjadi beras khusus demi meraup keuntungan berlipat di Jakarta pada Jumat (31/7/2026).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa kelangkaan beras premium di pasaran diduga akibat ulah produsen yang sengaja mengubah label kemasan menjadi beras fortifikasi atau beras ber-vitamin.
Praktik pengalihan label tersebut disinyalir sebagai akal-akalan pelaku usaha yang mengeluhkan tipisnya margin keuntungan pada penetapan harga beras premium.
"Salah satunya. Indikasi itu sementara ya," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta.
Pemerintah telah mengunci harga beras premium agar tidak dimainkan oleh produsen. Namun, para pengusaha berdalih memindahkan kategori produk ke beras fortifikasi agar bisa menjualnya dengan harga jauh lebih tinggi.
"Sebelumnya dibilang dia geser ke sana (fortifikasi), dugaan kami kalau dia premium kan tidak bisa main-main, karena kita kunci. Nah berpindah lagi dengan alasan margin tipis, karena selalu mau cari untung banyak. Bayangkan kalau jual Rp 42.000/kg gila nggak untungnya?" terangnya.
Berdasarkan pengujian sampel terhadap seluruh merek beras fortifikasi yang terdaftar maupun tidak terdaftar, Kementerian Pertanian menemukan sebanyak 80 persen produk tidak memenuhi standar kualitas yang dicantumkan.
Beras berkategori medium atau premium diduga disulap dan dijual sebagai beras khusus dengan rata-rata harga Rp 22.665 per kilogram, bahkan ada yang menembus Rp 42.000 per kilogram.
"Totalnya setelah kita ambil sampel, ini seluruh yang terdaftar fortifikasi, ada juga yang tidak terdaftar. Yang terdaftar itu ada 80% tidak sesuai standar dan average, harganya itu Rp 22.665/kg. Ada yang Rp 42.000/kg. Ini tidak masuk akal," ungkap Amran.
Kementerian Pertanian menegaskan akan menyerahkan temuan 15 merek beras bermasalah tersebut kepada aparat penegak hukum setelah seluruh proses pengumpulan data internal rampung.
"Ada 15 merek, bukan 15 perusahaan, merek," pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow