Kebakaran Hutan Kalimantan Hanguskan 202 Ribu Hektare Lahan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan lebih dari 202 ribu hektare kawasan hutan di enam provinsi Indonesia sejak awal tahun hingga Agustus 2026. Fenomena ini memicu sorotan tajam karena sebaran titik api didominasi oleh area konsesi korporasi dan kawasan yang telah mengalami pembukaan lahan.
Data pemantauan menunjukkan sekitar 77 persen titik panas di Pulau Kalimantan berada di dalam wilayah konsesi perusahaan perkebunan sawit, pertambangan, dan izin pemanfaatan hutan. Di Kalimantan Barat, luas area terbakar mencatatkan angka tertinggi mencapai sekitar 33.837 hektare meskipun beberapa wilayah masih menerima curah hujan.
Anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik mengindikasikan fenomena El Niño berpotensi bertahan hingga awal 2027. Kendati demikian, kawasan hutan primer di bagian tengah Pulau Kalimantan relatif aman dari titik api berkat tutupan vegetasi yang masih terjaga dan minimnya akses pembukaan lahan.
Pendiri Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, memberikan penjelasan mengenai faktor utama yang menjaga kawasan tengah Kalimantan dari sebaran api.
"Satu, daerah tersebut tidak banyak permukiman dan jauh dari permukiman. Kedua, area tersebut bukan area yang sedang atau telah dibuka hutannya sehingga hutannya masih aman," ujar Paulinus.
Ia menyampaikan bahwa hutan dengan kondisi baik memiliki daya tahan tinggi terhadap kekeringan ekstrim saat musim kemarau.
"Sehingga seperti aku bilang tadi, kekuatan hutan itu masih besar untuk menahan kondisi kekeringan yang cukup tinggi saat ini," terangnya.
Menurut hasil analisisnya, pola titik api di lapangan selalu berkorelasi langsung dengan tingkat kerusakan tutupan lahan akibat ulah manusia.
"Kalau dilihat di titik api, kita akan menemukan area-area terbakar ini kebanyakan area yang memang sudah terbuka, bukan hutan primer lagi," ungkapnya.
Ia menyarankan peninjauan data titik panas secara spasial dengan memanfaatkan peta pembukaan lahan pemerintah.
"Kalau teman-teman overlay yang pakai SiPongi saat ini kemudian digabungkan ke dalam peta pembukaan lahan, maka titik api itu lebih banyak di area yang dibuka lahannya ketimbang yang di tengah-tengah hutan," tuturnya.
Paulinus kemudian menunjuk sejumlah kawasan konservasi di Kalimantan Timur yang terbukti terbebas dari sebaran titik panas.
"Contoh kalau di Kaltim, coba cek apakah titik api ada di dalam Hutan Lindung Wehea? Apakah titik api ada di dalam Hutan Lindung Lesan? Apakah titik api ada di Hutan Lindung Kemul? Kan enggak ada itu," katanya.
Kekeringan akibat kemarau panjang dinilai belum mampu menembus kawasan yang vegetasi alamiahnya masih utuh.
"Jadi titik api itu sebenarnya tidak ada di dalam hutan primer sampai saat ini. Karena kemarau yang terjadi saat ini walaupun kita bilang 'Godzilla', itu belum mampu menyentuh area-area yang primer," ungkapnya.
Ia menggarisbawahi bahwa kunci utama kerentanan karhutla terletak pada pembukaan kawasan secara masif.
"Kalimat yang tepat adalah pembukaan hutan dan lahan sehingga tutupan lahan itu berkurang. Area di mana ada api, tutupan hutannya sudah enggak bagus lagi," jelas dia.
Mengenai langkah penanganan di lapangan, Paulinus menyoroti ketimpangan antara jumlah personel dan luasnya area yang terbakar.
"Kita bisa lihat kendaraan pemadam, BPBD turun, Manggala Agni turun. Bahkan Damkar Pemda pun turun untuk memadamkan api. Tapi kan lagi-lagi ini tidak sebanding dengan jumlah titik api," bebernya.
Ia menegaskan keterbatasan sarana pencegahan menjadi hambatan besar dalam pemadaman skala luas.
"Jadi memang kita harus akui bahwa tenaga pemadaman dan teknologi kita belum cukup mumpuni untuk melakukan pemadaman skala besar," pungkas Paulinus.
Sorotan terhadap pengulangan bencana karhutla tahunan ini juga disampaikan oleh pihak Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai Politik tersebut mempertanyakan efektivitas langkah mitigasi pemangku kebijakan yang dinilai telah mengetahui pemetaan titik rawan sejak awal.
Selain kerugian vegetasi, pemerhati lingkungan E. Kurniawan Padma menegaskan bahwa karhutla mengancam keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem secara permanen. Pengelolaan lingkungan diimbau bergeser dari sekadar manajemen karbon menuju perlindungan kapital alam terintegrasi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow