Kabut asap karhutla bisa jauh dari titik api karena dipengaruhi atmosfer
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak selalu bertahan di dekat sumber api. Setelah masuk ke atmosfer, partikel asap dapat terbawa pergerakan udara sehingga wilayah yang terkena kabut tidak pasti berada dekat titik pembakaran. Fenomena ini pernah diteliti secara spesifik di Bengkayang, Kalimantan Barat.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Teknologi Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2023 membahas potensi penyebaran PM10 akibat kebakaran hutan melalui pemodelan atmosfer. Penelitian tersebut menekankan bahwa angin menjadi faktor utama dalam perpindahan asap. Partikel pencemar, termasuk PM10, setelah dilepaskan ke udara dapat mengikuti arah massa udara, dengan kecepatan angin menentukan seberapa cepat asap berpindah.
Selain kecepatan angin, kondisi atmosfer ikut menentukan luas sebaran. Dalam kajian di Bengkayang, tim peneliti dari Universitas Tanjungpura memakai model AERMOD untuk memprediksi penyebaran PM10 berdasarkan data hotspot dan kondisi meteorologi.
Model AERMOD diterapkan dengan analisis 2.873 hotspot selama 2010-2020 pada radius 25 kilometer dari lokasi penelitian. Periode tersebut digunakan untuk melihat pola penyebaran partikelnya berdasarkan variasi kondisi lingkungan yang menyertai kejadian kebakaran. Hasil pemodelan memakai data meteorologi 2020 menunjukkan sebaran asap dari empat lokasi kebakaran berulang bergerak mengikuti arah selatan menuju barat. Namun, asap dari lokasi-lokasi tersebut tidak mengarah langsung ke lokasi objek penelitian, meskipun pola geraknya dapat diidentifikasi lewat hasil simulasi.
Temuan menarik lainnya adalah jarak sebaran terdekat yang mencapai sekitar 3,08 kilometer dari lokasi objek penelitian. Artinya, kabut yang tampak di suatu area dapat berasal dari sumber api yang tidak berada tepat di dekat lokasi tersebut. Penelitian ini menggarisbawahi bahwa arah dan jarak penyebaran asap sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Karena itu, menganggap jarak tertentu sebagai batas maksimum penyebaran asap karhutla dinilai tidak tepat.
Pada kebakaran yang lebih besar, asap berpotensi bergerak lebih jauh lagi. Kebakaran menghasilkan panas yang mendorong udara panas serta material hasil pembakaran naik ke atmosfer melalui proses pengangkatan ke lapisan udara yang lebih tinggi. Ketika asap mencapai lapisan udara dengan aliran angin yang kuat, material di dalamnya dapat terbawa hingga ke wilayah yang lebih jauh.
Kondisi ini membuat lokasi kabut asap tidak selalu sama dengan lokasi titik api yang memicu kebakaran. Selain angin, ketinggian plume asap dan stabilitas atmosfer turut memengaruhi arah serta lamanya partikel bertahan. Faktor lain yang disebutkan meliputi kelembapan dan hujan, yang berpengaruh pada bagaimana partikel bergerak dan seberapa lama ia berada di udara.
Selama perjalanan, partikel asap juga dapat bercampur dengan udara lain. Proses tersebut dapat menyebabkan perubahan konsentrasi maupun komposisi partikel di atmosfer.
Peneliti menilai pemantauan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan jumlah serta lokasi hotspot. Ketika kebakaran terjadi, kondisi meteorologi perlu dimasukkan agar perkiraan pergerakan polutan lebih akurat. Kebutuhan itu terkait dampak kabut asap terhadap kesehatan, transportasi, dan mobilitas masyarakat.
Peneliti juga mencatat penurunan jarak pandang akibat kabut asap dapat terjadi pada jarak yang cukup jauh dari sumber kebakaran. Dengan demikian, ketika kabut asap terlihat di suatu wilayah, sumber apinya belum tentu berada di dekat lokasi tersebut. Api bisa saja berada pada titik tertentu, sementara asapnya mengikuti “jalur” yang ditentukan oleh atmosfer.
Kajian di Bengkayang menegaskan bahwa pendekatan berbasis pemodelan diperlukan untuk memahami pergerakan PM10 dari kebakaran. Hal itu dicapai melalui penggunaan model AERMOD untuk memprediksi sebaran partikel berdasarkan hotspot dan parameter meteorologi yang relevan.
Penelitian disebutkan memakai Jurnal Teknologi Lingkungan BRIN, Vol. 24 No. 1 (2023), hlm. 28-35. Artikel ini menyertakan penggunaan model AERMOD untuk memprediksi sebaran PM10.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow