Pemerintah dan BRIN Kaji Tepung Singkong untuk Pemadaman Karhutla

Smallest Font
Largest Font

Presiden Prabowo Subianto mendukung penggunaan tepung ubi atau singkong sebagai alternatif pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Gagasan tersebut disampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat rapat koordinasi penanganan karhutla Sumatera di VVIP Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Senin (24/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Listyo memaparkan bahwa bahan bertepung memiliki potensi tinggi untuk mencegah serta memadamkan kobaran api pada tahap awal kebakaran.

"Menarik sekali itu bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Wah coba diproduksi dalam skala besar ya. Ajukan biaya untuk produksinya ya, kita usahakan semua upaya," kata Prabowo, dikutip dari detiksumbagsel.

Penggunaan singkong sebagai bahan pemadam api sebelumnya pernah dikembangkan oleh inovator asal Kabupaten Cirebon, Aryanto Misel, pada 2022. Aryanto mengolah kulit singkong menjadi alat pemadam api ringan (APAR) karena kandungan potasium sitrat di dalamnya dinilai efektif memutus rantai pembakaran.

Inovasi pemadam berbasis organik tersebut diklaim lebih aman bagi lingkungan dan kesehatan dibandingkan penggunaan gas halon. Selain memadamkan api di ruang terbuka maupun tertutup, sisa residunya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.

"Keunggulan alat pemadam api dari kulit singkong ini adalah bisa memutus mata rantai reaksi pembakaran dan residunya juga bisa dijadikan sebagai pupuk untuk tanaman," kata Aryanto, dalam arsip detikjabar pada 2022 lalu.

Aryanto memproduksi alat pemadam tersebut dalam dua varian, yakni bentuk tabung serta bentuk bola. Pengembangan awal alat ini dilakukan sejak 2003 setelah ia menyaksikan kebakaran pemukiman di Jakarta.

"Kalau kita punya alat pemadam api ringan, minimal sebelum api membesar bisa kita tanggulangi. Tapi kebanyakan APAR itu rata-rata dari (gas) galon. Halon itu zat kimia yang berbahaya. Dari situlah saya mulai berfikir untuk membuat APAR berbahan organik," terang Aryanto, dikutip dari detikjabar.

Penemuan keunggulan potasium sitrat bermula secara tidak sengaja saat Aryanto meneliti produk antikarat rantai kendaraan. Bahan uji coba yang dibuang ke tempat sampah ternyata langsung memadamkan api di lokasi pembakaran.

"Akhirnya saya coba-coba bikin beberapa kilo, saya masukan ke tabung, saya isi dengan nitrogen dengan tekanan 11-12 Bar. Dan hasilnya ternyata lebih dahsyat dari APAR berbahan halon," kata Aryanto.

Merespons usulan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Kimia Molekuler mulai melakukan kajian ilmiah mengenai efektivitas pati singkong untuk penanganan karhutla.

"Ya jadi praktik nyata kan sudah dilakukan oleh teman-teman di Babinsa dari Polri ya. Namun yang sedang kita pelajari karena itulah kemudian BRIN melakukan kajian," kata Kepala BRIN usai acara BRIN Goes To Industry 6 di Kawasan Sains dan Teknologi Sarwono Prawirohardjo BRIN, Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Kepala BRIN, Arif, menyatakan belum menemukan bukti skema serupa di luar negeri, namun secara teori penggunaan tepung ubi sangat memungkinkan untuk memadamkan api.

"Saya belum tahu ya soal itu ya (penggunaan tepung singkong untuk memadamkan api) di luar negeri ya. Tapi artinya secara teori sudah oke. Sebenarnya secara teori mungkinkah sih. Secara teori memungkinkan," ungkapnya, dikutip berdasarkan arsip detikedu.

Pihak BRIN saat ini bermitra langsung dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk meneliti formula pemadaman tersebut.

"Nah sekarang kami dengan Polri sedang kerja sama buat itu.Ya siapa tau dengan kerja sama ini, ini bisa menjadikan langkah alternatif," kata Arif.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed