The Fed Tentukan Suku Bunga Acuan dalam Rapat FOMC Juli 2026
Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, mengakhiri rapat kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal pada Rabu (29/7/2026) waktu setempat untuk memutuskan arah suku bunga acuan yang saat ini berada di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen.
Pertemuan dua hari tersebut merupakan rapat kedua yang dipimpin oleh Kevin Warsh sejak dirinya resmi menjabat sebagai Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell pada Mei 2026.
Pasar keuangan memperkirakan peluang sekitar 67 persen hingga 70 persen bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga acuan. Sebaliknya, probabilitas kenaikan sebesar 25 basis poin menuju kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen berada di angka 30 persen hingga 33 persen, meningkat tajam menyusul lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Iran.
Keputusan kali ini dinilai sulit diprediksi lantaran Warsh secara konsisten menghindari pemberian petunjuk mengenai panduan kebijakan mendatang. Berbeda dari pertemuan periode sebelumnya, rapat Juli ini juga tidak disertai pembaruan proyeksi ekonomi maupun diagram dot plot.
Langkah The Fed mempertahankan suku bunga didukung melandainya inflasi konsumen AS dari 4,2 persen pada Mei menjadi 3,5 persen pada Juni, serta perlambatan tajam dalam penyerapan tenaga kerja. Meski demikian, ukuran inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Mei masih tercatat tinggi sebesar 4,1 persen secara tahunan.
Sikap berhati-hati diprediksi tetap menjadi pilihan utama bank sentral. Analis pasar IG Fabien Yip menilai instansi tersebut masih memerlukan bukti tambahan terkait potensi risiko inflasi.
"Saya masih berpikir The Fed membutuhkan lebih banyak petunjuk mengenai berapa lama risiko inflasi akan berlangsung," ujar Yip.
Pandangan senada disampaikan oleh Wakil Ketua Evercore ISI Krishna Guha yang melihat kecilnya kemungkinan pengetatan mendadak setelah rilis data inflasi terkini.
"Kami pikir The Fed mungkin tidak akan menaikkan suku bunga. Akan aneh jika melakukannya tepat setelah angka inflasi Juni yang lebih baik, mengingat jalur yang tidak rumit untuk menaikkan suku bunga pada bulan September jika diperlukan," kata Guha.
Meski begitu, Guha memberi catatan bahwa dinamika internal di bawah kepemimpinan baru tetap membuka berbagai kemungkinan.
"Tetapi kita tidak bisa meremehkan kemungkinan tersebut mengingat penolakan Warsh untuk menjelaskan strateginya. ... Kami tidak melihat tekanan luas pada komite untuk menaikkan suku bunga sekarang. Tetapi suara yang dibutuhkan ada jika Warsh ingin melakukannya," lanjut Guha.
Di sisi lain, dorongan untuk pengetatan moneter tetap muncul dari internal komite. Kepala Ekonom Renaissance Macro Research Neil Dutta menilai penyesuaian skala kecil dapat dipertimbangkan lebih awal.
"Lebih baik melakukan sedikit sekarang daripada banyak nanti," tulis Dutta.
Dutta menambahkan bahwa fokus kebijakan tahun ini bergeser dibanding periode sebelumnya.
"Jika tahun lalu adalah tentang mengambil beberapa asuransi, tahun ini adalah tentang mengembalikan sebagiannya," kata Dutta.
Kredibilitas kebijakan moneter juga menjadi perhatian para pengamat pasar. Analis LH Meyer Derek Tang menilai opsi kenaikan suku bunga dapat memberikan sinyal independensi instansi.
"Menurut pandangan kami, kenaikan suku bunga (terutama 50 basis poin) lebih didorong oleh motif pencitraan dan kredibilitas," tulis Tang.
Ketegangan internal dan perbedaan pendapat diproyeksikan mewarnai hasil pemungutan suara FOMC Juli, terutama dari pejabat hawkish seperti Presiden The Fed Dallas Lorie Logan dan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack. Sementara itu, opsi penurunan suku bunga dinilai hampir mustahil meski Presiden AS Donald Trump secara terbuka terus mendesak penurunan biaya pinjaman.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow