Harga Bitcoin Melemah ke US$ 63.333 Meski Inflasi AS Sesuai Ekspektasi
Tekanan jual melanda pasar kripto pada perdagangan Kamis (13/8/2026) pagi. Dikutip dari Investor Daily, pergerakan nilai Bitcoin (BTC) terkoreksi ke tingkat US$ 63.333 per koin atau sekitar Rp 1,13 miliar pada pukul 06.25 WIB, berdasarkan data CoinMarketCap.
Pelemahan sebesar 0,29 persen tersebut terjadi di tengah rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang sesuai proyeksi pasar. Penurunan ini turut menyeret kapitalisasi pasar aset kripto global sebesar 0,3 persen menjadi US$ 2,17 triliun.
Koreksi harga juga membayangi sejumlah aset kripto utama lain. Ethereum (ETH) mengalami penurunan 0,23 persen menuju level US$ 1.874. Sementara itu, Binance Coin (BNB) mencatatkan penurunan 0,64 persen ke posisi US$ 609.
Sebaliknya, Indeks CoinDesk 20 yang memantau pergerakan 20 aset kripto teratas justru mencatat penguatan 0,57 persen. Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi Juli naik 0,1 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan.
Meskipun data inflasi memberikan ruang bagi The Fed untuk menahan suku bunga, harga Bitcoin sempat merosot di bawah US$ 63.500. Kondisi ini menghapus seluruh kenaikan harian yang sempat terbentuk sebelumnya.
Chief Investment Officer Sygnum Bank Fabian Dori menilai bahwa kombinasi inflasi yang melandai dan data tenaga kerja yang melemah memperkuat alasan bagi The Fed untuk menghindari kebijakan hawkish. Menurut Fabian Dori, kondisi ini mencerminkan perlambatan ekonomi secara bertahap tanpa memicu kekhawatiran resesi.
Berdasarkan pantauan CME Group FedWatch Tool, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,50%-3,75% pada September naik signifikan menjadi 60 persen. Angka tersebut meningkat pesat dibanding posisi bulan lalu yang berada di kisaran 30 persen.
Managing Partner DWF Labs Andrei Grachev mengungkapkan bahwa pasar opsi Bitcoin masih menunjukkan premi perlindungan penurunan harga yang cukup besar. Menurut Andrei Grachev, opsi dengan strike di sekitar US$ 60.000 tercatat lebih mahal dibandingkan strike sisi atas di sekitar US$ 70.000 untuk kontrak akhir Agustus.
Dari tinjauan teknikal, analis Rekt Capital mengingatkan bahwa daya pantul Bitcoin di area support US$ 63.000 terus mengalami pelemahan bertahap. Rekt Capital mencatat pantulan harga dari level tersebut yang sebelumnya mencapai 6,27 persen terus menyusut hingga tersisa 1,15 persen pada momentum terakhir.
Rekt Capital juga menyoroti indikator Exponential Moving Average 50 bulan (EMA 50) di kisaran US$ 65.827 yang kini berubah menjadi area resistance kuat. Menurutnya, kondisi ini menegaskan potensi kembalinya pola pasar bearish.
Senada dengan hal tersebut, riset Bitfinex Alpha mencatat Bitcoin berulang kali gagal membukukan penutupan harian di atas US$ 65.000 meski sempat menembusnya enam kali pada periode 5–10 Agustus. Apabila garis pertahanan di level US$ 63.000 jebol, ruang koreksi lanjutan bagi Bitcoin diproyeksikan akan terbuka lebar.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow