BMKG Minta Waspadai Potensi Kekeringan Akibat Kemarau dan El Nino

Smallest Font
Largest Font

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan potensi kekeringan parah akibat puncak musim kemarau dan fenomena El Nino pada Rabu, 5 Agustus 2026. Sejumlah wilayah mulai dari Jawa, Bali, hingga Kalimantan Selatan diprediksi mengalami penurunan curah hujan secara drastis.

Ancaman krisis air bersih, fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta dampak ke sektor pertanian kini membayangi berbagai daerah. Dampak kekeringan bahkan sudah memicu kekeringan sumur warga di Bogor hingga menyusutnya debit air di Bendungan Karian Banten.

Pihak BMKG menyebutkan bahwa curah hujan di wilayah yang terdampak diproyeksikan berada di bawah level normal hingga memasuki awal Oktober mendatang.

"Wilayah dengan potensi kekeringan tertinggi pada puncak kemarau Agustus-September 2026 adalah sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, serta Sulawesi bagian selatan. Daerah-daerah ini diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal hingga awal Oktober sebelum hujan mulai kembali masuk," kata Guswanto, Sekretaris Utama BMKG.

Ia menambahkan bahwa pergerakan fenomena El Nino tahun ini bakal memengaruhi kondisi iklim nasional sampai dengan awal 2027, walaupun tekanannya diperkirakan melemah pertengahan Oktober.

"Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Awal musim hujan mulai masuk pada Oktober di sebagian wilayah barat Indonesia dan akan meluas pada November," ujar Guswanto.

Menanggapi ancaman kekeringan berkepanjangan tersebut, kalangan legislatif mendesak pemerintah untuk segera beralih fokus dari langkah pencegahan menuju penanganan dampak secara konkrit.

"Kami saat raker secara tegas telah wanti-wanti kepada pemerintah agar tidak lengah menghadapi ancaman El Nino yang diprediksi para pakar iklim menjadi yang terkuat dalam 150 tahun terakhir, El Nino kuat yang kita hadapi saat ini adalah faktor alam yang memang harus diantisipasi dengan berbagai cara. Namun perlu saya tegaskan, kondisi kita sekarang sudah bergeser dari tahap pencegahan ke tahap pengendalian dampak," kata Daniel, Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan.

Untuk mengantisipasi krisis air yang meluas, langkah darurat seperti pengeboran sumur serta modifikasi cuaca perlu dieksekusi secepatnya.

"Pertama, pengeboran sumur darurat untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, tapi ini harus dikendalikan dengan hati-hati agar tidak menyebabkan degradasi air tanah jangka panjang, jangan sampai solusi darurat hari ini jadi masalah baru esok hari. Kedua, rekayasa cuaca atau modifikasi cuaca untuk memicu hujan buatan, terutama di wilayah-wilayah yang paling terdampak kekeringan dan titik api," ujarnya.

Rencana penerapan teknologi modifikasi cuaca juga disiapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menekan dampak kemarau panjang di ibu kota.

"Dari data yang ada, puncak El Nino itu akan panjang, mungkin salah satu yang terpanjang dibandingkan tahun 2023. Puncaknya kurang lebih nanti akhir September atau minggu pertama-kedua Oktober baru akan ada hujan," kata Pramono, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Meskipun demikian, keterbatasan pasokan awan potensial menjadi kendala utama dalam melangsungkan rekayasa cuaca secara berkala.

"Problemnya adalah ada kemungkinan awan itu kecil. Tetapi saya sudah memerintahkan dan kita sudah mempersiapkan. Kalau tadi malam itu termasuk rezeki anak saleh, nggak ada awan tapi bisa dimodifikasi," ujarnya.

Pihak Pemprov DKI Jakarta mengupayakan agar operasi rekayasa cuaca dapat berjalan konstan sepanjang musim kemarau.

"Jadi intinya tadi saya sudah memberikan persetujuan untuk kalau bisa setiap minggu itu satu-dua kali dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca. Karena ini akan berlangsung lama," lanjutnya.

Ketersediaan awan konvektif di udara menjadi syarat mutlak agar proses pembuatan hujan buatan dapat memicu presipitasi.

"Dengan catatan ketika awan masih ada ya. Karena kalau tanpa awan kita tidak bisa memodifikasi, sehingga nantinya bisa membuat Jakarta lebih adem," ujarnya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.

Sebagai bentuk antisipasi, BMKG melengkapi beberapa obyek gedung tinggi di wilayah Jakarta dengan alat khusus guna memaksimalkan terbentuknya titik air.

"Karena begini, di beberapa gedung tinggi di Jakarta, bekerjasama BMKG juga dengan BPBD DKI Jakarta, itu kita juga memasang namanya Ground Based Generator," ujarnya.

Teknologi generator darat tersebut bakal menyemprotkan zat pemicu ke awan yang melintas di atas wilayah ibu kota.

"Jadi ketika nanti ada awan yang kira-kira sehat untuk menghujankan Jakarta, maka akan dilepaskan uap air atau flare untuk kemudian terjadi hujan," lanjut Faisal.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed