BMKG Ungkap Kekeringan di Indonesia Tidak Hanya Dipicu El Nino
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena El Nino bukan menjadi satu-satunya pemicu terjadinya kekeringan di Indonesia. Kondisi cuaca nasional juga sangat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala global hingga lokal serta suhu perairan di sekitar wilayah Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan keberadaan El Nino dengan intensitas kuat tidak secara otomatis menyebabkan suatu wilayah di Indonesia mengalami kekeringan dengan tingkat durasi tertentu.
"Tapi, satu hal yang perlu saya sampaikan bahwa kekeringan dan durasinya yang panjang di Indonesia semata-mata tidak tergantung dari indeks ENSO ini," kata Faisal dalam acara Insight with Desi Anwar pada Jumat (28/8/2026).
Faisal memperkirakan dampak dari fenomena El Nino yang saat ini masuk kategori sangat kuat akan mulai mereda ketika memasuki pertengahan Oktober 2026, seiring dengan dimulainya musim hujan.
"Jadi, nanti pengaruh El Nino akan berkurang tidak signifikan ketika minggu masuk pertengahan dari Oktober. Ketika musim hujan telah datang, maka El Nino relatif tidak memiliki pengaruh," jelas Faisal.
BMKG mencatat kehadiran El Nino pada masa kemarau berpotensi memperpanjang durasi kondisi kering. Dampak tersebut berisiko mengganggu sektor pertanian akibatdefisit air, mulai dari gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga ancaman puso.
Selain sektor pertanian, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penurunan kualitas udara akibat polutan, serta risiko penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan dampak paparan suhu panas.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow