BGN Evaluasi SPPG Karo Usai Ratusan Siswa Keracunan MBG

Smallest Font
Largest Font

Badan Gizi Nasional menindaklanjuti kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis yang menimpa 361 siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada Kamis (13/8/2026). Lembaga ini mengevaluasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi setempat dan berencana menerapkan uji kimia pada setiap sajian.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, insiden tersebut berdampak pada murid SMAN 1 Berastagi serta SMA dan SMK Swasta Bersama. Sebanyak 270 korban menjalani rawat inap, 89 rawat jalan, dan dua pasien lainnya dirujuk ke rumah sakit di Medan.

Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menjenguk salah satu siswa SMAN 1 Berastagi yang dirujuk ke RSU Haji Medan pada Jumat (14/8/2026) akibat mengalami penurunan kesadaran. Pasien mendapat penanganan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit.

"Disampaikan tadi memang adik kita ini lebih, kondisinya lebih parahlah ya dibandingkan teman-teman yang lain, awalnya dirawat di Kabanjahe, namun dirujuk ke sini karena memang kondisinya pas di sana sempat mengalami penurunan kesadaran," kata Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara.

Bobby memastikan pemerintah mengawal proses penanganan medis hingga pasien benar-benar pulih. Dokter mengestimasi masa pemulihan pasien membutuhkan waktu dua hingga tiga hari.

"Di sini pokoknya kami usahakan, kami tadi janji sampai pulih, minta orang tua tadi kalau bisa benar-benar dipulihkan total. Tadi estimasi dari dokternya mungkin 2 sampai dengan 3 hari lagi estimasi dari dokternya," ujar Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara.

Direktur RSU Haji Medan Yulinda Elvi Nasution menjelaskan bahwa pasien mengalami keluhan nyeri perut hebat yang muncul secara berulang. Pihak medis memberikan penanganan analgesik dan pemeriksaan laboratorium susulan.

"Merasa kesakitan dari perutnya itu, sebelum begitu lah, rasa nyeri, nyeri, nyeri sekali. Terus ditambah analgesiknya dari dokter, ya, disuntikkan baru dia tenang, nah, setengah jam sekali begitulah dia, kolik, nyeri yang terlalu hebat," kata Yulinda Elvi Nasution, Direktur RSU Haji Medan.

Tim medis RSU Haji Medan terus memantau kondisi pasien sejak tiba pada Jumat sore.

"Kita masih mau periksa labnya lagi lebih lanjut, kan baru diperiksa dari sana, mungkin besok kita ada hasil lab yang baru," tutur Yulinda Elvi Nasution, Direktur RSU Haji Medan.

Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menyatakan di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (17/8/2026), bahwa evaluasi menyeluruh sedang berjalan. Pengujian makanan tidak cukup hanya mengandalkan pengecekan organoleptik seperti bau dan rasa.

"Ada, ada (evaluasi). Jadi keracunan ini bukan hanya misalnya dicek organoleptik dari bau, rasa, atau dicicipi, ya. Dari bau tidak ada masalah, dicicipi juga tidak ada persoalan, akhirnya dikonsumsi," kata Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional.

Langkah pemeriksaan zat berbahaya seperti arsenik akan diperketat dengan menyediakan kit uji kimia di setiap dapur pelayanan. Metode ini mengadaptasi sistem pengujian yang diterapkan oleh Polri.

"Jadi ini sedang kami pertimbangkan untuk kemudian di setiap dapur nanti kita lakukan test kit. Jadi dites, diberi chemical untuk mengecek apakah ada arsenik, basi, atau bahan berbahaya lainnya," ucap Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional.

BGN menargetkan tidak ada lagi kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan program nasional ini.

"Kita belajar dari keberhasilan SPPG, beberapa SPPG-salah satunya yang dikelola oleh Bhayangkari dari Polri-menggunakan test kit dan sampai saat ini tidak ada satu pun kasus keracunan. Kita tidak ingin ada yang keracunan lagi," lanjut Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional.

Penutupan operasional telah dilakukan terhadap 1.300 SPPG selama tiga minggu terakhir. Sanksi tegas berupa pencopotan personel atau pemutusan status ASN PPPK siap dijatuhkan bagi pihak yang melanggar standar.

"Dari 27 ribu dapur, alhamdulillah sebagian besar bekerja dengan baik dan kita harus upayakan yang baik itu terus bertambah baik. Kita mengevaluasi bagi yang belum baik. Yang tidak bisa dievaluasi, tidak bisa diperbaiki, mohon maaf harus saya tutup.

Bagi personel yang tidak bisa mengikuti standar tinggi yang saya punya, mohon maaf harus saya copot atau pecat status ASN PPPK-nya. Itu kira-kira," ucap Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional.

Langkah penutupan permanen diambil terhadap fasilitas pengolahan makanan yang menolak membenahi kualitas pelayanan demi keselamatan penerima manfaat.

"Manakala masih ada yang belum dan tidak mau diperbaiki, ya mohon maaf, demi nyawa seseorang, demi kesehatan seseorang, demi pemenuhan gizi seluruh anak-anak kita, demi primanya program ini-maksudnya baik, tujuannya baik, tetapi pelaksanaannya tidak bisa diikuti-terpaksa harus ditutup permanen," tegas Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional.

BGN menegaskan bahwa standar sistem keselamatan akan diterapkan tanpa memandang kepemilikan SPPG.

"Saya tidak peduli SPPG itu milik siapa, saya tidak melihat itu, saya melihat sistem. Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen. Itu kira-kira," imbuh Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed