BGN Imbau Siswa Tidak Bawa Pulang Makanan Program MBG

Smallest Font
Largest Font

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengimbau para siswa untuk tidak membawa pulang paket makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah pencegahan ini dikeluarkan setelah muncul temuan insiden keracunan yang menimpa peserta didik usai mengonsumsi MBG di rumah, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Selasa (11/8/2026).

Larangan membawa pulang menu MBG ini dimaksudkan untuk menjaga mutu pangan tetap terjamin. Risiko pemicu keracunan dinilai meningkat drastis lantaran kondisi dan kelayakan makanan yang disimpan dalam perjalanan menuju rumah tidak dapat dipantau secara pasti.

"Kami mengimbau kepada para siswa, dan juga memohon kepada Bapak Ibu Guru untuk memberitahu kepada peserta didik, siswa-siswa di kelasnya, untuk kemudian tidak membawa pulang menu makanan MBG ke rumah," kata Kepala BGN Sudaryono.

Ketidakpastian standar kualitas makanan yang telah lama berada di luar lingkungan sekolah menjadi perhatian utama pihak BGN. Perubahan kondisi makanan berpotensi membahayakan kesehatan siapa pun yang mengonsumsinya.

"Karena makanan yang dibawa pulang ke rumah, kita tidak tahu kualitasnya, tidak tahu kerusakannya yang bisa jadi dikhawatirkan menimbulkan keracunan bagi siswa yang mengonsumsi," kata Sudaryono.

Dampak dari terbiarkannya makanan MBG hingga mengalami penurunan kualitas tidak hanya menyasar para siswa. BGN mencatat dampak kesehatan tersebut turut meluas hingga ke anggota keluarga di rumah.

"Bahkan di beberapa kasus keracunan yang kami temukan, orang tua siswa yang mengonsumsi MBG di rumah itu kemudian juga mengalami keracunan," kata Sudaryono.

Guna menekan angka kasus serupa, BGN mendorong peran aktif para tenaga pendidik di sekolah untuk mengawasi sekaligus memberikan pemahaman kepada anak didik. Keberhasilan program MBG tidak sekadar diukur dari banyaknya jumlah penerima manfaat, melainkan juga kepastian jaminan keamanan pangan yang dikonsumsi.

"Jadi, mari kita sama-sama jaga bahwa MBG ini harus aman, MBG ini harus bergizi," kata Sudaryono.

Sebelum menu MBG dibagikan kepada para siswa, BGN sebetulnya telah menerapkan prosedur pemeriksaan keamanan bertingkat. Pemeriksaan ketat dilakukan sejak dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga saat makanan tiba di area sekolah.

Pengujian secara organoleptik yang mencakup pengamatan visual, penciuman, dan pengetesan rasa wajib dijalankan oleh dua orang petugas penerima distribusi makanan di sekolah.

"Namun di situ, tetap PIC juga melakukan satu mekanisme organoleptik, yaitu dibuka, diambil sampelnya, dibuka, kemudian dibau, dicium, dirasa, dilihat. Manakala tidak memenuhi standar, maka tidak harus atau wajib hukumnya tidak diberikan kepada siswa," kata Sudaryono.

Petugas penanggung jawab di lapangan memegang peran sentral dalam menyaring kelayakan konsumsi hidangan sebelum masuk ke ruang kelas.

"Jadi PIC itu adalah layer terakhir kedua, yang memastikan bahwa menu makanan itu aman dan tidaknya," kata Sudaryono.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed