Bapanas Usul Tambahan Kuota SPHP Jagung Pakan 150 Ribu Ton
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengusulkan penambahan kuota program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan sebesar 150 ribu ton untuk mendongkrak harga telur di tingkat peternak yang masih di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP).
Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, Bapanas mencatat per 19 Agustus 2026, rerata harga telur ayam peternak sebesar Rp 22.978 per kg, atau 13,29% di bawah HAP sebesar Rp 26.500 per kg. Sementara itu, harga daging ayam broiler di peternak tercatat Rp 24.849 per kg.
Di tingkat konsumen, harga rata-rata telur ayam mencapai Rp 28.097 per kg dan daging ayam Rp 40.639 per kg. Sebagai langkah intervensi, Bapanas resmi mengajukan permintaan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) kepada Kementerian Koordinator Bidang Pangan guna menyetujui usulan kuota SPHP jagung tersebut.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa memaparkan kondisi harga produsen yang masih rendah serta upaya pemerintah dalam melakukan pengawalan intervensi pasar.
"Perkembangannya di sisi produsen ini masih rendah sehingga kami sedang mengupayakan penaikan di tingkat produsen. Mungkin akan berefek pada IPH (Indeks Perkembangan Harga) nantinya. Tapi kalau kita melihat di sisi konsumen memang juga masih di bawah Rp 30.000," ujar Ketut.
Pemerintah terus mencermati pergerakan harga komoditas perunggasan dari hilir hingga ke tingkat peternak agar tetap terjaga dengan baik.
"Kalau daging ayam ras memang mengalami sedikit kenaikan tapi masih relatif di posisi harga acuan dan bahkan kalau di tingkat produsen masih di bawah HAP. Nah tentu di tingkat konsumen ada beberapa yang memang sudah tinggi di atas HAP, maka pemerintah secara bersama melakukan langkah-langkah intervensi yang bisa dilakukan," kata Ketut.
Langkah penambahan kuota 150 ribu ton jagung pakan ini telah dibahas Bapanas bersama asosiasi peternak telur di Surabaya untuk mendorong eskalasi harga di tingkat peternak.
"Beberapa waktu yang lalu Bapak Kepala Bapanas sudah mengundang seluruh asosiasi peternakan telur di Surabaya untuk memastikan bahwa pemerintah akan melakukan intervensi. Pada kesempatan tersebut sudah disepakati bahwa untuk mengendalikan harga, unlock-nya harga telur di tingkat produsen ini, Bapak Kepala Bapanas sudah memutuskan untuk menambah SPHP jagung sebanyak 150 ribu on," beber Ketut.
Program SPHP jagung pakan tahun 2026 yang dimulai sejak awal Mei telah menetapkan alokasi awal sebesar 213,2 ribu ton. Target penyaluran ini ditujukan untuk kelompok peternak mikro sebesar 138,65 ribu ton, peternak kecil 50,37 ribu ton, dan peternak menengah 24,17 ribu ton.
"Nanti kita menunggu rakortas di Kemenko Pangan, sehingga dapat membantu peternak yang menghadapi kondisi relatif harga pakan agak naik sedikit. Kemudian DOC (Day Old Chicks) dan lain sebagainya. Dengan adanya tambahan SPHP jagung ini, harapan kita peternak masih bisa membeli pakan dengan harga yang relatif wajar," tambah Ketut.
Hingga 18 Agustus 2026, realisasi penyaluran SPHP jagung pakan telah mencapai 49,97 persen atau 120,31 ribu ton yang diserap oleh peternak di 28 provinsi. Jawa Timur menjadi wilayah penerima tertinggi dengan 3.672 peternak, disusul Jawa Tengah dengan 2.012 peternak.
"Oleh karena itu, dengan kendali-kend{ "title": "Bapanas Usul Tambah Kuota SPHP Jagung Pakan 150 Ribu Ton", "title_slug": "bapanas-usul-tambah-kuota-sphp-jagung", "description": "Bapanas mengusulkan penambahan kuota SPHP jagung pakan 150 ribu ton untuk menstabilkan harga telur dan daging ayam di tingkat peternak.", "keywords": "bapanas, sphp jagung, harga telur, peternak, kemenko pangan, pasokan pakan", "category_id": "1", "tags": "Bapanas, Jagung Pakan, Harga Telur", "thumbnail": "ilustrasi jagung pakan peternakan unggas", "content": "
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengusulkan penambahan kuota program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan sebanyak 150 ribu ton. Langkah tersebut diambil guna merespons harga telur dan daging ayam tingkat peternak yang masih di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP), sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Kamis (20/8/2026).
Data pantauan Bapanas per 19 Agustus mencatat rata-rata harga telur ayam di tingkat peternak mencapai Rp22.978 per kg, berada 13,29 persen di bawah HAP sebesar Rp26.500 per kg. Sementara itu, harga ayam broiler peternak bertengger di angka Rp24.849 per kg atau 0,6 persen di bawah HAP, sedangkan di tingkat konsumen harga telur mencapai Rp28.097 per kg dan daging ayam Rp40.639 per kg.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengonfirmasi bahwa pergerakan harga di tingkat produsen belum menunjukkan perbaikan signifikan. Bapanas telah meminta Kementerian Koordinator Bidang Pangan menggelar Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) untuk memutuskan usulan tersebut.
"Perkembangannya di sisi produsen ini masih rendah sehingga kami sedang mengupayakan penaikan di tingkat produsen. Mungkin akan berefek pada IPH (Indeks Perkembangan Harga) nantinya. Tapi kalau kita melihat di sisi konsumen memang juga masih di bawah Rp 30.000," ujar Ketut dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
Kenaikan harga daging ayam di tingkat konsumen mendasari langkah intervensi bersama yang disiapkan oleh pemerintah. Intervensi ini dirancang agar harga pakan tetap wajar bagi para peternak skala mikro hingga menengah.
"Kalau daging ayam ras memang mengalami sedikit kenaikan tapi masih relatif di posisi harga acuan dan bahkan kalau di tingkat produsen masih di bawah HAP. Nah tentu di tingkat konsumen ada beberapa yang memang sudah tinggi di atas HAP, maka pemerintah secara bersama melakukan langkah-langkah intervensi yang bisa dilakukan," kata Ketut.
Keputusan penambahan kuota ini sebelumnya juga telah dibahas bersama para pelaku industri dan asosiasi peternakan di Surabaya. Pertemuan tersebut menegaskan komitmen Bapanas dalam mengendalikan harga di tingkat hulu.
"Beberapa waktu yang lalu Bapak Kepala Bapanas sudah mengundang seluruh asosiasi peternakan telur di Surabaya untuk memastikan bahwa pemerintah akan melakukan intervensi. Pada kesempatan tersebut sudah disepakati bahwa untuk mengendalikan harga, unlock-nya harga telur di tingkat produsen ini, Bapak Kepala Bapanas sudah memutuskan untuk menambah SPHP jagung sebanyak 150 ribu on," beber Ketut.
Program SPHP jagung pakan tahun 2026 telah berjalan sejak awal Mei dengan total alokasi awal 213,2 ribu ton. Target kuota tersebut mencakup alokasi 138,65 ribu ton untuk peternak mikro, 50,37 ribu ton untuk peternak kecil, dan 24,17 ribu ton bagi peternak skala menengah.
"Nanti kita menunggu rakortas di Kemenko Pangan, sehingga dapat membantu peternak yang menghadapi kondisi relatif harga pakan agak naik sedikit. Kemudian DOC (Day Old Chicks) dan lain sebagainya. Dengan adanya tambahan SPHP jagung ini, harapan kita peternak masih bisa membeli pakan dengan harga yang relatif wajar," tambah Ketut.
Realisasi penyaluran SPHP jagung hingga 18 Agustus tercatat telah mencapai 49,97 persen atau setara 120,31 ribu ton yang terdistribusi di 28 provinsi. Jawa Timur menjadi wilayah dengan penerima terbanyak yakni 3.672 peternak, disusul Jawa Tengah dengan 2.012 peternak.
"Oleh karena itu, dengan kendali-kendali yang kita lakukan, mudah-mudahan relatif harga telur baik di produsen maupun di konsumen, nantinya bisa terkendali dengan baik dan sesuai dengan harga acuan yang kita tetapkan," sebut Ketut.
Sejalan dengan langkah tersebut, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan Perum Bulog untuk mempermudah distribusi jagung pakan kepada peternak unggas. Penyaluran dilakukan melalui koperasi atau asosiasi terdaftar dengan acuan harga Rp5.000 per kg di gudang Bulog dan maksimal Rp5.500 per kg di tingkat peternak.
"Menambah dan memperpanjang SPHP. Nah itu Bulog, tanggung jawab saya, Bulog, perpanjang sepanjang-panjangnya. Selama peternak butuh, kasih, titik, mudah, jangan ada basa-basi. SPHP Bulog kita lanjutkan sampai akhir tahun," tutur Amran.
Penyaluran SPHP jagung pakan di wilayah sentra tetap memperhatikan periode panen raya serta tingkat harga di petani lokal guna mencegah penurunan harga yang terlalu dalam.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow