Bank Sentral Dunia Borong Emas di Tengah Koreksi Harga
Aksi borong emas oleh bank sentral global menjadi penahan utama penurunan harga logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik. Dikutip dari Investor Daily, koreksi harga yang terjadi saat ini dinilai menjadi momentum akumulasi bagi investor jangka panjang.
Pasar emas dunia mencatatkan tingkat volatilitas tinggi sepanjang tahun ini. Lonjakan harga sempat menembus rekor tertinggi di atas US$ 5.500 per ons pada Januari 2026, sebelum akhirnya merosot ke level US$ 4.100 per ons pada Agustus 2026.
Penurunan tajam tersebut terpicu oleh eskalasi konflik Iran yang mendorong kenaikan harga minyak global. Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi, sehingga memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) bakal mengerek suku bunga pada akhir tahun.
Meski terdepresiasi sekitar 25% dari puncak tertinggi pada Januari 2026, akumulasi harga emas secara tahunan masih mencetak kenaikan sekitar 20%. Stabilitas harga relatif terjaga berkat akumulasi pembelian yang konsisten dari institusi moneter dunia.
Laporan World Gold Council (WGC) mencatat bank sentral global memborong 288,9 ton emas pada kuartal II-2026. Angka tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 62% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Bank Sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BoK) tercatat kembali melakukan pembelian emas setelah 13 tahun absen. Keputusan ini mempertegas tingginya minat sektor resmi terhadap aset lindung nilai.
Para analis memproyeksikan fase penurunan harga saat ini sebagai momentum tepat bagi investor untuk mengoleksi aset secara bertahap. Sejumlah pelaku pasar meyakini logam mulia masih berada di tahap awal tren penguatan jangka panjang (bull market).
Kepala Strategi Ekuitas Global di Jefferies, Christopher Wood, bersama pengelola hedge fund John Paulson merekomendasikan pembagian porsi investasi pada emas fisik dan saham sektor pertambangan emas.
"Seiring hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap mata uang kertas (fiat), emas sebagai alternatif akan terus tumbuh. Emas kini bertransformasi menjadi mata uang cadangan yang paling tepat di dunia menggantikan mata uang fiat," kata John Paulson.
John Paulson menambahkan bahwa potensi keuntungan dari saham perusahaan tambang emas berpeluang melampaui emas batangan, terutama bagi emiten yang menguasai cadangan besar belum tereksplorasi.
Sementara itu, Christopher Wood menarik kesejajaran dengan krisis teknologi pada tahun 2000. Ia menilai penurunan tajam pada belanja modal sektor kecerdasan buatan (AI) akibat pengetatan kredit berpotensi menguncang pasar saham dan mengalihkan dana ke aset safe haven.
WGC memperkirakan harga emas saat ini telah mencerminkan kondisi pertumbuhan ekonomi global yang moderat, inflasi tinggi yang mulai melandai, serta ekspektasi pengetatan suku bunga yang terbatas, dengan pergerakan stabil di rentang ±5%.
Potensi kenaikan harga menuju US$ 4.200 hingga US$ 4.500 per ons tetap terbuka apabila terjadi pemburukan ekonomi atau kejutan geopolitik baru. Sebaliknya, risiko penurunan harga di atas 10% diperkirakan akan tertahan oleh maraknya aksi beli saat harga rendah (dip buying).
Tren dedolarisasi yang berlangsung sejak krisis 2008 dan pembekuan cadangan devisa Rusia pada 2022 mendorong bank sentral menempatkan emas sebagai aset cadangan devisa netral tanpa risiko penyitaan geopolitik.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow