Harga Emas Diproyeksi Melonjak Hingga 20 Ribu Dolar AS per Troy Ounce
Prospek penguatan harga emas dalam jangka panjang dinilai tetap solid meski komoditas tersebut sedang berada dalam fase koreksi, sebagaimana dilaporkan oleh Investor Daily pada Selasa (1/9/2026).
Pendiri sekaligus CEO Crescat Capital, Kevin Smith, memproyeksikan harga emas berpotensi melonjak hingga menyentuh level US$ 20.000 per troy ounce. Lonjakan ini didorong oleh tingginya ketidakpastian global serta pembengkakan utang Pemerintah Amerika Serikat.
Pergerakan emas sebelumnya sempat mengalami kondisi overbought pada awal tahun 2026 setelah mencetak rekor tertinggi di level US$ 5.600 per troy ounce. Meskipun harga terkoreksi selama beberapa bulan, pondasi moneter yang menopang logam mulia ini dianggap justru semakin kuat.
"Menurut saya, pasar emas sempat bergerak terlalu cepat mendahului kondisinya pada awal tahun, yakni bulan Januari dan Februari," kata Kevin Smith, Pendiri dan CEO Crescat Capital.
Penurunan harga emas tersebut dipicu oleh penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve yang dikenal memiliki pandangan hawkish. Selain itu, dinamika konflik antara AS dan Iran turut meningkatkan kekhawatiran inflasi serta mengubah ekspektasi arah suku bunga pasar.
Namun, efektivitas langkah Federal Reserve dalam menerapkan kebijakan moneter ketat kini mulai diragukan oleh para pelaku pasar.
"Menurut saya, The Fed sebenarnya tidak berdaya untuk melawan atau mengendalikan inflasi. Hal ini bertolak belakang dengan klaim Warsh, karena saya rasa mereka benar-benar terjebak dalam rezim dominasi fiskal akibat ketidakseimbangan fiskal dan kebutuhan untuk mempertahankan suku bunga tetap rendah," kata Kevin Smith, Pendiri dan CEO Crescat Capital.
Tekanan inflasi yang melekat pada pertumbuhan PDB nominal menjadi salah satu pendorong utama bagi pergerakan harga emas ke depan.
"Selain itu, satu-satunya jalan keluar dari masalah rasio utang terhadap PDB yang kita hadapi saat ini adalah melalui pertumbuhan ekonomi. Namun, pertumbuhan tersebut disertai dengan pertumbuhan PDB nominal, yang mencakup komponen inflasi yang cukup besar. Dan menurut saya, hal itulah yang menjadi faktor makro utama yang mendorong inflasi sekaligus menjadi faktor pendorong bagi harga emas," kata Kevin Smith, Pendiri dan CEO Crescat Capital.
Kondisi makroekonomi saat ini dinilai tetap memberikan dukungan kuat bagi tren kenaikan harga logam mulia dalam jangka panjang.
"Kita berada dalam lingkungan makro yang mendukung kenaikan harga emas. Kami menetapkan target harga di sekitar US$ 20.000 untuk emas," kata Kevin Smith, Pendiri dan CEO Crescat Capital.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow