Asumsi Rupiah RAPBN 2027 Dinilai Menantang di Tengah Tekanan Pasar
Warga menunjukan uang rupiah di kawasan Jagakarsa, Jakarta, Rabu (1/7/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Rakha Raditya Yahya/YU)
Pemerintah memasang asumsi nilai tukar rupiah rata-rata Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam RAPBN 2027. Angka itu berada di batas atas rentang awal Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS. Optimisme tersebut ditopang penguatan pasar keuangan domestik, peningkatan pasokan devisa, dan arus modal masuk.
Asumsi itu masih mungkin dicapai, tetapi jalannya makin terjal. Pada Senin (31/8/2026), rupiah ditutup melemah 29 poin atau 0,16% menjadi Rp17.722 per dolar AS. Jisdor juga melemah menjadi Rp17.746. Level itu belum berarti asumsi 2027 pasti meleset karena RAPBN menggunakan kurs rata-rata tahunan. Namun, ia menjadi peringatan bahwa bantalan rupiah kian tipis.
Tekanan datang hampir bersamaan dari dua arah. Dari Amerika Serikat, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan pentingnya membawa inflasi ke sasaran 2%. Pasar membacanya sebagai sinyal hawkish dan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 60%. Dolar AS dan imbal hasil US Treasury pun menguat.
Dari Timur Tengah, ketegangan AS-Iran kembali meningkat. Risiko terhadap Selat Hormuz ikut membesar dan harga minyak kembali terangkat. Bagi Indonesia, kombinasi dolar kuat dan minyak mahal adalah pukulan ganda: arus modal berisiko keluar, sementara kebutuhan devisa untuk impor energi meningkat.
Nota Keuangan RAPBN 2027 sendiri mengakui konflik Timur Tengah dapat mendorong harga energi dan inflasi global serta membuat suku bunga dunia bertahan tinggi. Artinya, ancaman terhadap rupiah bukan sekadar sentimen sesaat, tetapi dapat berlanjut melalui pasar keuangan, harga energi, dan kebutuhan pembiayaan eksternal.
Karena itu, pemerintah perlu lebih realistis menguji asumsi kurs. Rp17.500 per dolar AS boleh tetap menjadi target kebijakan, tetapi APBN juga perlu diuji dengan skenario rupiah di atas Rp18.000. Bahkan diusulkan stress case Rp18.250-Rp18.500 agar risiko fiskal tidak diremehkan.
Kurs bukan hanya angka di layar perdagangan. Perubahan nilai tukar memengaruhi penerimaan ekspor-impor, PPh migas, PNBP sumber daya alam, pembayaran bunga utang, subsidi dan kompensasi energi, dan utang luar negeri. Asumsi kurs yang terlalu optimistis dapat membuat kebutuhan belanja dan pembiayaan meleset dari perencanaan.
Di sinilah kredibilitas fiskal ikut menentukan rupiah. Pasar tidak hanya membaca keputusan suku bunga Bank Indonesia, tetapi juga menilai defisit, kebutuhan utang, kualitas belanja, dan konsistensi kebijakan pemerintah. Fiskal yang terjaga menurunkan premi risiko, sedangkan keraguan terhadap disiplin anggaran dapat memperberat tekanan rupiah.
Dari sisi moneter, BI perlu tetap meredam volatilitas berlebihan dan menjaga daya tarik aset rupiah. Namun, intervensi tidak bisa menjadi satu-satunya benteng. Ketahanan rupiah harus diperkuat melalui ekspor, investasi langsung penghasil devisa, substitusi impor, pendalaman pasar keuangan, serta perluasan transaksi menggunakan mata uang lokal.
Menjaga rupiah adalah kerja bersama. BI menjaga stabilitas moneter dan pasar keuangan, sedangkan pemerintah memperkuat fundamental ekonomi dan kredibilitas fiskal. Sinergi keduanya bukan mencampuradukkan kewenangan, melainkan memastikan kebijakan yang satu tidak melemahkan efektivitas kebijakan lainnya.
Rp17.500 per dolar AS boleh menjadi jalur yang dituju. Tetapi ketika peta risiko global berubah, pemerintah dan BI harus menyiapkan bantalan sebelum tekanan membesar. Lebih baik APBN disusun dengan kewaspadaan memadai daripada dipaksa menyesuaikan ketika rupiah telanjur keluar jalur.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow