AS Kirim USS Theodore Roosevelt ke Timteng Gantikan Lincoln

Smallest Font
Largest Font

Militer Amerika Serikat mengerahkan kapal induk USS Theodore Roosevelt ke Timur Tengah untuk penugasan selama tujuh bulan ke depan di tengah konflik dengan Iran pada Kamis (27/8/2026). Pengerahan kapal berpersonel 5.000 prajurit ini menggantikan USS Abraham Lincoln yang ditarik setelah berlayar lebih dari 250 hari.

US Naval Institute melaporkan bahwa kapal induk USS Theodore Roosevelt, kelompok kapal pengawal, serta Carrier Air Wing 11 disiapkan untuk menggantikan posisi USS George Washington yang berbasis di Jepang. Sebelumnya, USS George Washington telah memasuki wilayah operasi Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Timur Tengah sejak pekan lalu.

Master Chief Petty Officer of the Navy John Perryman menyampaikan durasi penyiapan pasukan sebelum dikerahkan ke kawasan konflik tersebut.

"Mereka tahu bahwa mereka akan berada di sana lebih dari tujuh bulan. Komandan mereka memberi mereka waktu delapan bulan untuk melakukan persiapan," kata Perryman.

Pengerahan armada baru ini dilakukan di tengah sorotan terhadap kondisi fisik dan mental awak kapal USS Abraham Lincoln. Kapal yang beroperasi sejak November 2025 itu berlayar selama lebih dari 240 hari, dengan 200 hari di antaranya beroperasi tanpa pernah bersandar di pelabuhan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menanggapi penarikan kapal induk Lincoln menuju perairan Thailand.

"Amerika Serikat mengirimkan USS Abraham Lincoln ke kawasan tersebut untuk unjuk kekuatan," kata Baqaei.

Ia menyebut kapal perang milik militer Amerika Serikat tersebut telah gagal dalam menjalankan misi utamanya di Timur Tengah.

"Setelah berbulan-bulan terlibat perang dan lebih dari 200 hari tanpa sekalipun melakukan persinggahan di pelabuhan (port call) kapal tersebut kini berlayar menuju Thailand untuk [istirahat dan pemulihan] para awaknya," ujar Baqaei.

Laksamana Brad Cooper selaku pimpinan CENTCOM menyampaikan pesan perpisahan kepada para prajurit Lincoln yang dialihkan ke Asia Tenggara melalui artikel opini di The Wall Street Journal.

"Semoga perjalanan kalian lancar dan selamat menikmati reuni yang memang layak kalian dapatkan," kata Cooper.

Kondisi di atas USS Abraham Lincoln sempat memicu kemarahan 15 senator AS kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth terkait laporan kelangkaan air, makanan, kerusakan fasilitas sanitasi, hingga krisis kesehatan mental prajurit. Seorang pelaut Lincoln bahkan menghadapi hukuman disipliner militer berdasarkan Pasal 83 dan Pasal 86 Uniform Code of Military Justice atas dugaan melukai diri sendiri dan tidak hadir tanpa izin pada awal Agustus.

Istri dari pelaut yang menghadapi proses disipliner tersebut menyuarakan keberatannya atas penanganan otoritas militer.

"Dia membutuhkan bantuan psikologis, bukan hukuman," kata istri pelaut.

Ia menilai tindakan tegas yang diambil markas militer terhadap suaminya kurang tepat di tengah kondisi tekanan mental.

"Saya pikir mereka gila karena memperlakukan orang yang membutuhkan bantuan psikologis seperti itu," ujar istri pelaut.

Jurnalis USA Today Chris Quintana yang mewawancarai sejumlah keluarga kru kapal mengungkapkan beban emosional yang ditanggung para prajurit akibat penugasan yang terus diperpanjang.

"Saat seseorang bergabung dengan militer, mereka tahu akan melewatkan beberapa momen penting, tapi jadwal pulang yang terus mundur menimbulkan beban emosional," kata Quintana.

Seorang anggota keluarga awak kapal Lincoln juga membeberkan penurunan fasilitas selama operasional di laut lepas.

"Kondisi di kapal kadang buruk, seperti makanan yang tidak layak dan air panas yang tidak tersedia," kata keluarga awak kapal.

Pemerintah Thailand mengonfirmasi bahwa USS Abraham Lincoln bersama tiga kapal dari kelompok serang akan bersandar singkat di wilayah Sattahip, Chon Buri, guna menjalani rekreasi dan pemenuhan logistik tanpa melakukan latihan militer. Kepala Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Daryl Caudle menegaskan pihaknya terus berusaha memberikan kepastian durasi penugasan armada lautnya.

"Saya lebih memilih penempatan selama tujuh bulan. Biasanya saya bukan orang yang menyukai perpanjangan masa penempatan dan saya menentangnya dengan keras. Tetapi tidak ada jaminan dalam situasi perang," kata Caudle.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed