AS Gempur Pulau Larak dan Ancam Putus Akses Dolar Bank Mesir
Pasukan Amerika Serikat membombardir dua peluncur roket milik Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz, pada Minggu (30/8/2026). Serangan militer ini diiringi langkah Washington yang mengancam memutus akses cabang Banque Misr di Uni Emirat Arab dari sistem keuangan global.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan gempuran dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terdeteksi menyiapkan roket bermuatan ranjau laut. Pulau Larak merupakan titik krusial Teheran dalam memantau lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Merespons aksi tersebut, IRGC meluncurkan rudal balistik dan drone ke dua pangkalan udara AS di Yordania, yakni King Hussein dan Azrag, pada Senin (31/8/2026) dini hari. Media pemerintah Press TV melaporkan Iran juga menembakkan rudal ke kapal-kapal AS di Selat Hormuz.
Sebelum bertolak ke Kyrgyzstan untuk menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) pada Senin (31/8/2026), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan posisi diplomasinya.
"Iran akan memberikan respons tegas terhadap agresor (jika diserang)," kata Pezeshkian, dilansir dari kantor berita Fars.
Ia menyoroti dampak eskalasi militer terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
"Ketidakstabilan dan pergolakan di kawasan ini tidak menguntungkan negara mana pun dan akan menjadi tantangan bagi semua pihak," ujar Pezeshkian.
Di sektor ekonomi, Pezeshkian mengakui perdagangan Iran tertekan hebat akibat sanksi dan konflik yang berlangsung.
"Mengatakan bahwa sanksi sama sekali tidak berdampak tidak sesuai dengan fakta," kata Pezeshkian dalam wawancara dengan televisi pemerintah, dikutip dari CNBC International.
Ia membeberkan ekspor dan impor Iran melorot antara 25 persen hingga 35 persen, dengan penurunan impor tercatat lebih dalam.
Menanggapi situasi ini, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mendorong penguatan produksi dalam negeri melalui strategi Resistance Economy.
"Sama pentingnya untuk memberikan perhatian khusus terhadap pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produksi, secara bertahap mengurangi peran utama dolar AS, dan pada akhirnya menjadikan Resistance Economy sebagai fokus utama," kata Khamenei dalam pesan tertulisnya.
Di sisi lain, Presiden Pezeshkian sempat menyatakan manfaat kesepakatan diplomatik yang pernah dijajaki sebelumnya pada Sabtu (29/8/2026).
"Kami tidak menginginkan perang, tetapi akan melawan setiap agresor dengan tegas, dan tidak ada kekuatan yang dapat memaksa sebuah bangsa yang teguh berdiri dengan segenap kekuatan dan tekadnya, untuk menyerah," kata Pezeshkian.
Tekanan terhadap Teheran kian memuncak setelah Kementerian Keuangan AS melalui FinCEN mengusulkan pencabutan akses layanan perbankan koresponden bagi cabang Banque Misr di UEA. Bank milik pemerintah Mesir tersebut dituding memproses transaksi hingga US$1,8 miliar untuk perusahaan yang terhubung dengan jaringan perbankan bayangan Iran.
"Kementerian Keuangan AS menilai Banque Misr UEA merupakan simpul penting bagi akses rezim Iran terhadap dolar AS," kata Departemen Keuangan AS dalam pernyataannya.
AS memberi waktu 30 hari untuk masa tanggapan publik atas usulan tersebut. Selain menyasar bank, AS turut menjatuhkan sanksi kepada manajer cabang Dubai Bank Melli, Reza Mohammad Taeedi.
"Bank Melli telah menjadi pusat keuangan penting bagi angkatan bersenjata Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Islam Iran-Quds Force dan Kementerian Pertahanan serta Logistik Angkatan Bersenjata, yang keduanya merupakan entitas yang dikenai sanksi AS," kata Kementerian Keuangan AS.
Tindakan AS juga menyasar perusahaan berbasis Hong Kong, Kameng Trading Limited, yang dituduh memfasilitasi pencucian uang. Terkait potensi ketegangan dengan China akibat sanksi ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan Washington mengedepankan jalur diplomasi.
"Kami menilai cara terbaik untuk berhubungan dengan berbagai negara adalah melalui diplomasi yang tenang, dan kami menyampaikan kepada setiap negara mengenai ekspektasi kami," kata Bessent.
Langkah AS terhadap Banque Misr UEA menjadi bagian dari "Operation Economic Outcast" untuk mempersempit akses ekonomi Teheran. Bank Sentral UEA kini telah memulai pemeriksaan terhadap transaksi perbankan yang disorot oleh otoritas keuangan Amerika Serikat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow