Apjatel Hadirkan Skema Konsorsium untuk Tekan Biaya Relokasi Fiber Optik
Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) memperkuat komitmennya dalam membangun infrastruktur digital nasional melalui penyusunan skema penekanan biaya relokasi fiber optik yang tinggi, dikutip dari Detik iNET.
Langkah strategis ini dirumuskan setelah penyelenggaraan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) II yang menyepakati penyempurnaan Anggaran Dasar (AD) organisasi sekaligus membahas penataan jaringan di berbagai daerah.
Skema konsorsium lahir sebagai jalan keluar bagi tingginya biaya relokasi kabel, terutama untuk membantu para anggota Apjatel yang berada di skala perusahaan kecil dan menengah.
Melalui penerapan metode tersebut, sebanyak empat hingga lima jaringan fiber optik dapat dimasukkan ke dalam satu pipa HDPE secara bersamaan agar proses pembangunan dan pemindahan kabel menjadi jauh lebih efisien.
Ketua Umum Apjatel Jerry Mangasas Swandy menjelaskan bahwa program penataan jaringan ini dirancang agar tidak membebani para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor telekomunikasi dengan biaya besar.
"Apjatel membuat skema konsorsium yang terdiri atas empat hingga lima kabel yang dapat masuk dalam satu HDPE. Tujuannya untuk menekan biaya relokasi kabel udara maupun penggelaran jaringan fiber optik. Ini merupakan bentuk keberpihakan kami kepada seluruh anggota, baik perusahaan besar maupun UMKM," ujar Jerry Mangasas Swandy.
Langkah taktis ini juga dipersiapkan untuk merespons kebijakan pemerintah daerah yang gencar menata kabel udara demi estetika tata kota dan faktor keselamatan masyarakat.
Jerry memaparkan bahwa setiap permintaan penataan dari pemerintah daerah akan melewati verifikasi awal demi menentukan solusi terbaik, mulai dari perapihan kabel, tiang bersama, hingga pemindahan ke bawah tanah.
Seluruh pengerjaan teknis di lapangan akan diserahkan kepada vendor terpilih melalui sistem lelang atau penunjukan langsung yang disepakati oleh seluruh anggota secara transparan.
"Perapihan, pembangunan tiang bersama, maupun relokasi kabel bawah tanah akan dilakukan oleh vendor yang dipilih berdasarkan kesepakatan anggota. Semua keputusan mengenai teknis, harga, hingga pelaksanaan dilakukan secara terbuka," kata Jerry.
Apjatel memosisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah untuk menjembatani regulasi pusat maupun daerah dengan kebutuhan para anggotanya demi efektivitas pembangunan jaringan.
"Setiap keputusan terkait teknis, harga, dan pelaksanaan selalu berdasarkan musyawarah anggota. APJATEL berkomitmen menjalankan setiap langkah dengan prinsip demokrasi, transparansi, dan akuntabilitas. Tidak ada yang kami tutupi," ujar Jerry.
Melalui hasil keputusan Munaslub II, Apjatel optimistis dapat mempererat sinergi internal sekaligus mempercepat penyediaan layanan internet berkualitas tinggi bagi masyarakat luas.
Asosiasi ini juga menargetkan peran aktif sebagai motor penggerak pemerataan konektivitas digital lewat kolaborasi erat dengan pelaku industri, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah.
Jerry menyebutkan jalannya Munaslub II berlangsung kondusif dan sukses memperkuat soliditas organisasi di tengah meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital nasional saat ini.
Ia menganggap dinamika perbedaan pandangan selama proses musyawarah sebagai hal wajar yang justru melahirkan kebijakan matang untuk kemajuan bersama.
"Perbedaan pendapat justru memperkaya proses pengambilan keputusan. Kami di Apjatel menjadikan dinamika ini sebagai energi untuk mencari solusi terbaik, bukan sebagai penghalang. Yang terpenting, seluruh insan Apjatel memiliki visi yang sama, yaitu memperkuat infrastruktur digital untuk Indonesia yang lebih maju," ucap Jerry Swandy.
Pasca-Munaslub, fokus utama asosiasi adalah mempererat kolaborasi lintas sektor demi mendukung percepatan transformasi digital nasional yang diusung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow