Apindo Minta Pemerintah Jaga Stabilitas Rupiah pada 2027
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengharapkan pemerintah dapat menjamin stabilitas nilai tukar rupiah pada 2027. Harapan ini muncul menanggapi kesepakatan asumsi kurs RAPBN 2027 antara DPR dan pemerintah di rentang Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Kepastian nilai mata uang dinilai sangat krusial bagi para pelaku usaha. Patokan angka tersebut berguna untuk menyusun perancangan biaya operasional, agenda investasi, hingga proyeksi ekspansi bisnis jangka menengah maupun panjang.
Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menilai kisaran kurs tersebut bisa menjadi standar acuan bisnis. Kendati demikian, gejolak mata uang sepanjang 2026 membuat dunia usaha memerlukan jaminan yang lebih kuat dari sekadar penetapan angka target.
"Melihat volatilitas yang terjadi sepanjang 2026, isu stabilitas, predictability, dan kemampuan menjaga market confidence menjadi satu faktor penting agar pelaku usaha memiliki kepastian dalam mengambil keputusan jangka menengah dan panjang," kata Shinta.
Tekanan terhadap mata uang domestik sepanjang tahun ini dipicu gabungan dinamika global dan domestik. Faktor eksternal mencakup keperkasaan dolar AS, tren suku bunga acuan global, pergeseran arus modal, serta eskalasi ketidakpastian geopolitik.
Adapun dari dalam negeri, tekanan dipengaruhi oleh arus modal keluar, risiko premium, situasi pasar keuangan, serta tingkat kepercayaan pasar atas arah kebijakan ekonomi. Kondisi ini berimbas langsung pada biaya produksi akibat tingginya ketergantungan impor.
Shinta mencatat sekitar 71% dari total impor nasional dialokasikan untuk bahan baku dan barang penolong. Ketergantungan struktur industri ini membuat pelemahan kurs rupiah otomatis melonjakkan beban operasional pabrik.
"Dalam kondisi seperti ini, pelemahan rupiah langsung meningkatkan cost of goods sold, kebutuhan modal kerja, dan tekanan terhadap margin perusahaan," ujar Shinta.
Ruang penyesuaian bagi sektor manufaktur cenderung sempit karena opsi substitusi bahan baku lokal masih terbatas. Asumsi kurs Rp 16.800-Rp 17.500 per dolar AS dipandang realistis mendukung bisnis apabila disertai pengawasan volatilitas yang ketat.
Guna meredam fluktuasi, Apindo menilai langkah intervensi moneter saja tidak cukup. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur sangat dibutuhkan untuk mempertahankan kepercayaan investor sekaligus menjaga arus modal masuk.
"Koordinasi fiskal dan moneter harus tetap kredibel, sementara pemerintah juga perlu menjaga kepastian dan konsistensi kebijakan untuk memperkuat kepercayaan investor dan menjaga aliran modal," kata Shinta.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow