Rupiah Bergerak Tipis di Level Rp17.710 Per Dolar AS
Nilai tukar rupiah bergerak terbatas terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Selasa (1/9/2026) di posisi Rp17.710 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi setelah mata uang Garuda sempat menguat tipis 7 poin ke level Rp17.715 per dolar AS di tengah dinamika pasar global.
Penguatan terbatas rupiah didorong oleh kondisi indeks dolar AS yang mengalami koreksi di pasar global. Di sisi lain, pelaku pasar domestik masih cenderung bersikap mengamati perkembangan data ekonomi terbaru.
Analis Doo Financial Lukman Leong menjelaskan pergerakan nilai tukar mata uang domestik dipengaruhi oleh kondisi greenback yang sedang mengalami penyesuaian.
"Rupiah diperkirakan dibuka datar dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS yang terkoreksi," ucap Lukman Leong, Analis Doo Financial.
Koreksi pada dolar AS dipicu kekhawatiran rencana pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan AS mulai 9 September 2026 senilai 4 miliar dolar AS per operasi. Sentimen tersebut berpadu dengan penantian investor terhadap rilis data inflasi serta neraca perdagangan Indonesia.
"Data perdagangan diperkirakan akan kembali menunjukkan defisit sekitar 300 juta dolar AS oleh lonjakan impor (dari harga minyak mentah yang tinggi) yang diperkirakan naik 24 persen, sedangkan inflasi yoy (year on year) diperkirakan naik dari 2,88 persen ke 3,13 persen," ungkap Lukman Leong.
Faktor lain yang membebani pergerakan rupiah pada penutupan perdagangan hari sebelumnya adalah pengetatan sentimen dari bank sentral AS. Eskalasi konflik геоpolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah turut memberi tekanan pada mata uang kawasan.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh pidato hawkish Kepala The Fed Warsh. Eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik ikut membebani," ujar Lukman Leong.
Sebelumnya, pasar merespons pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole mengenai arah kebijakan moneter AS. Ketegasan The Fed terkait inflasi memicu spekulasi kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan September.
"Ketua Fed tersebut juga mengatakan bahwa sulit untuk menyebut kondisi keuangan saat ini sebagai kondisi yang restriktif, sembari mencatat bahwa pasar kredit dan pinjaman hanya menunjukkan sedikit tanda adanya pengetatan kebijakan moneter," ujar Ibrahim, Analis Pasar Uang.
Di dalam negeri, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada Rapat Paripurna DPR yang membahas penetapan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031. Penetapan jajaran pimpinan baru BI diharapkan memberikan kepastian terkait kesinambungan kebijakan moneter nasional.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow