Yield Obligasi AS Melonjak Wall Street dan Pasar Keuangan Meleset
Bursa saham Wall Street dan pasar obligasi Amerika Serikat melemah pada perdagangan Kamis (20/8/2026) akibat lonjakan imbal hasil US Treasury tenor jangka panjang. Kondisi ini terjadi meski Departemen Keuangan AS melipatgandakan program pembelian kembali obligasi.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 703,84 poin atau 1,32 persen ke level 52.759,21, S&P 500 melemah 0,87 persen ke 7.641,16, dan Nasdaq Composite turun 1 persen ke posisi 26.067,17. Tekanan pasar dipicu imbal hasil Treasury tenor 10 tahun yang naik ke 4,697% dan tenor 30 tahun yang sempat menyentuh 5,337%.
Aksi jual obligasi dipicu oleh kekhawatiran inflasi, lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, serta besarnya penerbitan surat utang pemerintah AS. Kondisi ini membuat investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk menampung pasokan obligasi.
Departemen Keuangan AS meningkatkan batas nilai pembelian kembali atau buyback Treasury tenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun dari US$2 miliar menjadi minimal US$4 miliar per operasi. Kebijakan ini dijadwalkan berlangsung dari 9 September hingga 4 November 2026.
Pemerintah AS mengonfirmasi arah kebijakan operasional tersebut melalui pernyataan resminya.
"Peningkatan nilai operasi buyback ini mencerminkan keinginan Departemen Keuangan untuk memberikan dukungan likuiditas yang lebih besar pada obligasi nominal berjangka panjang," tulis Departemen Keuangan AS dalam keterangan resminya.
Langkah mendadak tersebut mengejutkan para pelaku pasar keuangan karena disampaikan di luar agenda pembaruan pembiayaan kuartalan.
"Muncul pertanyaan mengenai seberapa besar ketahanan konsumen di tengah harga bensin yang terus tinggi dan tekanan inflasi," ujar Mona Mahajan, Kepala Strategi Investasi Edward Jones.
Mahajan menilai rebound pada imbal hasil obligasi pemerintah tetap menjadi faktor utama yang memicu tekanan di bursa saham.
"Ada beberapa tekanan yang dihadapi pasar ketika perdagangan dibuka hari ini. Salah satunya adalah kenaikan kembali yield obligasi di berbagai tenor yang terjadi meskipun ada langkah Departemen Keuangan kemarin," kata Mona Mahajan, Kepala Strategi Investasi Edward Jones.
Tekanan di pasar saham turut diperberat oleh kinerja sektor ritel. Saham Walmart anjlok 9,2 persen setelah melaporkan pertumbuhan penjualan terlemah dalam enam tahun terakhir akibat penurunan daya beli konsumen.
Di Indonesia, Kementerian Keuangan telah lebih dahulu melakukan intervensi pasar sekunder pada Mei 2026 dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai total Rp2,2 triliun untuk menstabilkan harga dan menahan lonjakan yield.
Menteri Keuangan Indonesia memberikan penilaian terkait kesamaan strategi stabilitas pasar keuangan yang diterapkan kedua negara.
"Itu menunjukkan apa yang kita lakukan ya memang standar internasional, mungkin Amerika niru kita juga tuh, berhasil dia ikut. Tapi jelas concern-nya sama, dia akan melakukan itu untuk menambah likuiditas di sistem perekonomian," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Purbaya menambahkan bahwa pemerintah wajib mengambil tindakan cepat ketika stabilitas pasar terganggu.
"Jadi kalau pemerintah melihat di mana-mana ya likuiditasnya terganggu, dia akan melakukan segala cara yang halal, yang bisa dilakukan untuk memastikan ekonominya tidak terganggu. Jadi yang kita lakukan sama dengan yang Amerika lakukan," ujarnya.
Meskipun pemerintah AS memperbesar skala buyback obligasi, para analis menilai langkah tersebut hanya memberikan penahanan tekanan jangka pendek tanpa menyelesaikan persoalan defisit anggaran dan inflasi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow