Program Buyback Utang AS Dorong Prospek Emas dan Bitcoin
Departemen Keuangan Amerika Serikat memperbesar pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah berjangka panjang mulai September 2026, yang berpotensi menekan imbal hasil obligasi dan melemahkan dolar AS sehingga memberi dukungan kuat bagi harga emas serta perak.
Pengumuman kebijakan yang menggandakan jumlah buyback obligasi jangka panjang tersebut sempat memicu penurunan signifikan pada yield obligasi. Langkah ini berpotensi meredam biaya pinjaman di seluruh sektor perekonomian AS meskipun sempat mengalami pergerakan membalik setelahnya.
Lembaga jasa keuangan asal Swiss, Julius Baer, menilai peningkatan program pembelian kembali obligasi pemerintah AS turut menambah tekanan terhadap daya beli mata uang negeri paman sam tersebut di pasar global.
"Idenya adalah jika pemerintah membeli lebih banyak obligasi, harga obligasi seharusnya naik dan yield-nya turun. Yield yang lebih rendah akan mengurangi biaya pinjaman di seluruh perekonomian," kata analis Julius Baer.
Kondisi penurunkan imbal hasil obligasi berpotensi mengurangi keunggulan yield yang selama ini menjadi daya tarik utama aliran modal asing masuk ke aset-aset domestik AS.
"Keputusan obligasi AS untuk meningkatkan buyback obligasi pemerintah jangka panjang telah berkontribusi terhadap pelemahan dolar dengan membantu membatasi yield obligasi jangka panjang," tulis analis Julius Baer.
Julius Baer mencatat kecenderungan pelemahan dolar serta penurunan yield obligasi berpotensi menaikkan minat investor global terhadap instrumen logam mulia.
"Dalam kondisi tersebut, investor semakin beralih ke emas dan perak sebagai aset penyimpan nilai potensial, dengan prospek emas tetap sangat konstruktif," kata Julius Baer.
Pada perdagangan Selasa (1/9/2026), harga emas spot berada di posisi US$ 4.444,11 per ons troi atau melemah 0,11 persen, setelah pada hari sebelumnya ditutup pada level US$ 4.449,19 per ons troi.
Selain emas, sentimen risiko fiskal AS juga mendorong arus dana masuk ke aset kripto. Produk ETF Bitcoin spot milik BlackRock, iShares Bitcoin Trust (IBIT), mencatat aliran modal masuk bersih US$ 1,33 miliar dalam sepekan bersamaan dengan kenaikan harga Bitcoin sebesar 23 persen.
Head of Research Pluang, Jason Gozali, memantau pergerakan modal institusi yang mulai mengalir deras ke Bitcoin di tengah tingginya kekhawatiran terhadap penurunan daya beli dolar AS.
"Derasnya aliran dana ke IBIT dan kenaikan harga bitcoin sebesar 23% mencerminkan meningkatnya perhatian modal institusi terhadap tema penurunan nilai dolar," kata Jason Gozali, Head of Research Pluang.
Kepala Aset Digital BlackRock, Robbie Mitchnick, turut mengonfirmasi bahwa investor institusi kini menghubungkan kepemilikan Bitcoin dengan kondisi defisit anggaran AS.
Mitchnick menilai tingkat utang dan defisit belanja pemerintah AS memicu kekhawatiran pasar yang pada akhirnya memberi dampak positif bagi pergerakan harga emas maupun Bitcoin.
Meskipun demikian, Jason Gozali memberikan peringatan agar pelaku pasar tetap mewaspadai lonjakan volume transaksi harian.
Jason Gozali mengingatkan bahwa rekor volume perdagangan harian IBIT pernah terjadi saat pasar jatuh pada Februari lalu hingga melampaui 700 juta saham, sehingga tingginya aktivitas pasar tidak selalu menandakan harga Bitcoin akan terus naik.
Di pasar modal Indonesia, investor asing mencatatkan aksi beli bersih sebesar Rp 2,02 triliun pada perdagangan Selasa (1/9/2026) dengan memborong saham-saham likuid seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat ditutup melemah tipis 2 poin pada level Rp 17.725 per dolar AS pada perdagangan Rabu (26/8/2026) akibat bayang-bayang ketidakpastian arah suku bunga acuan The Fed.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow